Hadits: Tidurnya Orang Yang Berpuasa Adalah Ibadah, Apakah Shahih?


Dengan dasar perkataan Abdullah Bin Mubarok yang mulia:

الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من شاء ما شاء

“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Shahih Muslim 1/576)

Maka saya ingin memberitahukan kedudukan sanad hadits yang sering disampaikan oleh para penceramah dengan menyatakan tidurnya orang puasa adalah ibadah.

Teks hadits:

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف

“Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.” (HR. Baihaqi dalam syu’ab Al-Iman)

Sanad (rantai periwayatan) hadits ini adalah:

1. Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا سِخْتَوَيْهِ بْنُ مَازِيَادَ، حَدَّثَنَا مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ، حَدَّثَنَا زِيَادٌ الْأَعْلَمُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى الْأَسْلَمِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:   نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Al-Hafidz, telah mengabarkan kepada kami Ali bin Isa, telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhamad bin Al-‘Ala, telah menceritakan kepada kami Sikhtawaih bin bin Maaziyad, telah menceritakan kepada kami Ma’ruf bin Hassan, telah menceritakan kepada kami Ziyad Al-A’alam, dari Abdil Malik bin Umair, dari Abdillah bin Abi Aufa Al-Aslami, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah dan diamnya adalah tasbih, dan doanya dikabulkan, dan amalannya dilipatkan gandakan” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no. 3654)

Penjelasan sanad hadits: Pada sanad hadits di atas terdapat rawi yang bermasalah yaitu:

- Ma’ruf bin Hasan. Dia adalah seorang yang dhaif karena majhul yang tidak dikenal dalam periwayatan hadits. Abu Hatim Ar-Razi menilai dia adalah majhul. Abu Ahmad Al-Jarjani mengatakan: ‘Munkarul Hadits’.

Kesimpulan hadits: Hadits ini adalah lemah.

2. Dari jalur lain, imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata:

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ الْكَاشَانِيُّ الْهَرَوِيُّ قَدِمَ عَلَيْنَا، حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْعَصَمِيُّ إِمْلَاءً، حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ رَزِينٍ فِيمَا أَخْبَرَ عَلَيْهِ أَبُو الْفَضْلِ الشَّهِيدُ، أَنَّ إِدْرِيسَ بْنَ مُوسَى، حَدَّثَهُمْ، حَدَّثَنَا سُهَيْلُ بْنُ خَاقَانَ، حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ يَحْيَى الْعَبْدِيُّ، عَنْ عَنْبَسَةَ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْقُرَشِيِّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:   نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ

“Telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Hasan Ali bin Muhamad bin Ali bin Al-Husain Al-Kasyani Al-Harawi, telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Muhammad bin Al-Abbas Al-Ashami secara imla’, telah menceritakan kepada kami Abu Ali Ahmad bin Muhamad bin Ali bin Razin dari apa yang dikabarkan oleh Abu Al-Fadhl Asy-Syahid, bahwasanya Idris bin Musa bercerita kepada mereka, telah menceritakan kepada kami Suhail bin Khaaqaan, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Yahya Al-Abdi, dari Anbasah bin Abdil Wahid Al-Qurasy, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Umair, dari Abdillah bin Abi Aufa, beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, dan diamnya adalah tasbih, dan amalnya selalu dilipatgandakan, dan doanya mustajab, serta dosanya diampunkan’ (HR. Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no. 3652)

Penjelasan sanad hadits: pada sanad hadits di atas terdapat 3 perawi hadits yang bermasalah, perawi-perawi tersebut adalah:

- Idris bin Musa adalah seorang ‘majhul’ yang tidak dikenal dalam bidang periwayatan hadits.

- Suhail bin Khaaqaan adalah seorang yang munkar hadits. Dia pernah meriwayatkan hadits palsu.

- Khalaf bin Yahya Al-Abdi adalah seorang pendusta. Abu Hatim Ar-Razi berkata tentangnya: “Dia adalah seorang pendusta, tidak boleh menyibukkan diri tentangnya ataupun tentang haditsnya.

Kesimpulan: Hadits ini sangat lemah.

3. Dari jalur lain, Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullah berkata:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الصَّفَّارُ، إِمْلَاءً، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مِهْرَانَ بْنِ خَالِدٍ الْأَصْبَهَانِيُّ، حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ جُبَيْرٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَمْرٍو، ح، وَأَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْهَيْثَمِ الشَّعْرَانِيُّ، حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:   نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَسُكُوتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُتَقَبَّلٌ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Al-Hafidz, telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Ash-Shaffar secara imla’, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mihran bin Khalid Al-Ashbahani, telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Jubair, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Amr, ح, dan telah mengabarkan kepada kami Ali bin Ahmad bin Abdan, telah menagabarkan kepada kami Ahmad bin Ubdad As-Shaffar, telah menceritakan kepada kami Ahmad Al-Haitsam Asy-Sya’rani, telah menceritakan kepada kami Suraij bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Amr, dari Abdil Malik bin Umair, dari Abdillah bin Abi Aufa, dari nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, dan diamnya adalah tasbih, dan doanya mustajab, dan amalnya diterima” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no. 3653)

Penjelasan sanad hadits: pada sanad hadits di atas, juga terdapat beberapa rawi yang bermasalah. Mereka adalah:

- Al-Fadhl bin Jubair adalah seorang rawi yang dhaif/lemah. Abu Ja’far Al-Uqaili berkata tentangnya: “Dia tidak dapat dikuatkan dengan mutaba’ah”.

- Ahmad bin Al-Haitsam Asy’Sya’rani adalah seorang majhul yang tidak dikenal dalam periwayatn hadits.

- Sulaiman bin ‘Amr adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits. Ishaq bin Rahawaih mengatakan tentangnya: ‘Aku tidak pernah mengetahui ada orang di dunia yang lebih pendusta dari pada dirinya’. Ibnu Dihyah Al-Kalbi mengatakan: ‘Dia termasuk pembesar dari para pemalsu hadits’. Adz-Dzahabi mengatakan: Dia adalah pendusta dan dan dajjal (pembohong besar).

Kesimpulan: Hadits ini bathil.

Dapat kita simpulkan, bahwa riwayat-riwayat ini adalah lemah dan tidak bisa saling menguatkan. Dan ini sebagaimana yang dinyatakan sendiri oleh Imam Al-Baihaqi, Al-Iraqi, As-Suyuthi, dan Al-Albani, dll rahimahumullah.

Nasihat: Berhati-hatilah dari membawakan hadits dho'if dan palsu, karena Rasul bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya, berdusta atas namaku tidak sebagaimana berdusta atas nama kalian. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaknya dia siapkan tempatnya di neraka.”[2]

Lalu bagaimana sikap kita dalam menyikapi tidurnya seorang yang puasa?
Seseorang tidur ketika berpuasa adalah mubah. Jika dipakai untuk suatu tujuan ibadah maka tidurnya adalah ibadah. Jika tidur dilakukan untuk tujan kemaksiatan maka tidurnya pun menjadi haram. Jika kita tidur untuk karena keletihan dan dengan tujuan istirahat agar semangat berdakwah maka tidurnya berpahala. Jika dia tidur untuk bergadang bercanda bersama kawan dalam kemaksiatan semisal berjudi maka tidurnya adalah haram. Tidur adalah suatu hal mubah yang masuk dalam kaidah:

الوسائل لها أحكام المقاصد

"Wasilah (perantara) mempunyai hukum-hukum tujuan"

sehingga jika tidur adalah wasilah untuk ibadah maka dia adalah suatu ibadah. Jika tidur adalah wasilah untuk keharaman maka tidur adalah haram.

Imam An nawawi berkata:

أَنَّ الْمُبَاح إِذَا قَصَدَ بِهِ وَجْه اللَّه تَعَالَى صَارَ طَاعَة ، وَيُثَاب عَلَيْهِ

“Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran).”

Allahu a’lam, semoga bermanfaat. Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net
----------
Kesempatan bagi anda untuk mendapatkan amal jariyah. Dukung dakwah “Kajian Al-Amiry” dengan mengirimkan donasi ke salah satu rekening di bawah ini:

BCA 3000712298 a.n Muhammad Abdurrahman

BSM 7108850811 a.n Muhammad Abdurrahman 

Rekening khusus donasi media dakwah dan kajian Al-Amiry. Terima kasih, jazaakumullah khairan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar