1

Hadits-hadits dhaif dan palsu mulai banyak menyebar di bulan-bulan Rajab. Dan itu banyak kita lihat penyebarannya di sosial media atau di media yang lain. Dan mereka menyebarkannya seakan-akan tidak memiliki beban, sedangkan menyebarkan hadits palsu adalah dosa besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
                                    
من كذب علي فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di api neraka” (HR. Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)

Langsung saja kita memaparkan beberapa hadits yang masyhur (populer) di masyarakat mengenai bulan rajab.

1. Hadits pertama (dhaif).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب، قال: " اللهم بارك لنا في رجب وشعبان، وبارك لنا في رمضان

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika telah memasuki bulan Rajab, beliau berdoa: ‘Allahumma baarik fii rajab wa sya’baan wa baarik lanaa fii Ramadhaan’”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya no. 2346, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath no. 3939, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/269, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3534, dll

Sanad hadits:

Hadits ini diriwayatkan dari jalan:

Zaidah bin Abi Ar-Ruqad, dari Ziyad An-Numairi, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Dalam sanad hadits ini terdapat:

1. Zaidah bin Abi Ar-Ruqad adalah seorang Munkar Al-Hadits.

Perkataan para ulama tentang Zaidah bin Abi Ar-Ruqad:

- Al-Bukhari mengatakan: Munkarul hadits (haditsnya munkar).

- Ibnu Hibban berkata: Dia meriwayatkan hadits-hadits munkar, dan haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.

- Ali bin Al-Madiini: Dia meriwayatkan hadits-hadits munkar.

- Abu Daud: Aku tidak mengetahui tentangnya (majhul).

- An-Nasa’i: Aku tidak tahu siapa dia (majhul).

(Semua perkataan lihat di Mizan Al-I’tidal 2/65 dan Ikmal Tahdzib Al-Kamal 5/27)

2. Ziyad An-Numairi adalah seorang yang dhaif (lemah).

Perkataan ulama tentang Ziyad An-Numairi:

Abu Daud, Ibnu Hibban, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Abu Ja’far Al-Uqaili, Adz-Dzahabi, dan Ibnu Hajar Al-Asqalani, mereka semua menyatakan bahwa Ziyad An-Numairi adalah seorang yang dhaif (lemah haditsnya).

(Lihat di Ikmal Tahdzib Al-Kamal 5/116, dan Mizan Al-Itidal 2/90)

Kesimpulan derajat hadits:

Sehingga dapat disimpulkan bahwa hadits ini adalah dhaif sebagaimana yang dinyatakan oleh:

- Al-Baihaqi dalam Syuab Al-Iman 5/349.

- Adz-Dzahabi dalam Miizan Al-Itidal 2/65.

- Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif hal. 121.

- An-Nawawi dalam Al-Adzkar hal. 189.

- Ahmad Syakir dalam Musnad Ahmad (Tahqiq) no. 2346.

- Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami As-Shaghiir no. 4395.

- Syu’aib Al-Arnauth dalam Musnad Ahmad (Tahqiq) no. 2346.

2. Hadits kedua (palsu).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

فضل شهر رجب على سائر الشهور كفضل القرآن على سائر الأذكار

“Keutamaan bulan Rajab dari bulan-bulan lainnya seperti keutamaan Al-Quran dari semua dzikir”

Sanad hadits:

Hadits ini diriwayatkan dari jalan Abu Al-Barakat Hibatullah bin Al-Mubarak As-Saqathi, dari Abu Ja’far bin Al-Maslamah, dari Muhammad bin Abdillah bin Akhi Miimi, dari Abdullah bin Muhammad Al-Baghawi, dari Manshur bin Muzahim dan Muhammad bin Habib Al-Jarudi, dari Malik, dari Az-Zuhri, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Dalam hadits ini terdapat Abu Al-Barakat Hibatullah bin Al-Mubarak As-Saqathi.

Perkataan para ulama hadits tentangnya:

- Abu Al-Fadhl Muhammad bin Nashir berkata: “Dia bukanlah orang yang tsiqah. Kedustaannya telah tampak”.

- Ibnu As-Sam’ani berkata: “Dia mengklaim telah mendengar dari para guru yang mana dia tak pernah menjumpai mereka”.

- Ibnu Al-Jauzi mengatakan hal yang sama dengan di atas.

- Syuja’ Adz-Dzuhali: Dia adalah orang yang lemah namun dia memiliki keutamaan pemahaman dalam bahasa arab.

- Ibnu Hajar Al-Asqalani: Dia adalah orang yang rusak, terkenal dengan memalsukan hadits.

(Lihat di Mizan Al-Itidal 4/292, dan Lisan Al-Mizan 8/326, dan At-Takmil Fii Al-Jarhi Wa At-Ta’dil 1/452)

Kesimpulan derajat hadits:

Hadits ini adalah hadits maudhu (palsu) sebagaimana yang dinyatakan oleh:

- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Tabyiin Al-Ajab hal. 18

- Muhammad bin Muhammad Al-Ghazzi dalam Itqaanu Maa Yahsunu Min Al-Akhbaar Ad-Daairah Baina Alsun hal. 376.

- Mala Ali Qari dalam Al-Asrar Al-Marfuah Fii Al-Akhbaar Al-Maudhuuah hal. 255.

- Dll.

3. Hadits ketiga (palsu).

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي

“Rajab adalah bulannya Allah. Dan sya’ban adalah bulanku. Sedangkan ramadhan adalah bulannya ummatku”

Sanad hadits:

Hadits ini diriwayatkan dari jalan Muhammad bin Nashir Al-Hafidz, dari Abu Al-Qasim bin Al-Mandah, dari Abu Al-Husain Ali bin Abdillah bin Jahdham Ash-Shufi, dari Ali bin Muhammad bin Said Al-Bashri, dari Muhammad bin Said Al-Bashri, dari Khalaf bin Abdillah, dari Humaid Ath-Thawiil dari Anas bin Malik dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Dalam sanad hadits ini terdapat:

1. Abu Al-Husain Ali bin Abdillah bin Jahdham Ash-Shufi adalah seorang muttaham bi al-wadh’ (terindikasi memalsukan hadits).

Perkataan ulama hadits tentangnya:

- Ibnul Jauzi berkata: Dia memalsukan hadits shalat Ar-Raghaaib.

- Ibnu Khairun berkata: Para ulama membincangkannya (mempermasalahkannya). Dan disebutkan: Dia telah berdusta.

- Ibnu Al-Imad Al-Hanbali berkata: Para ulama hadits mengindikasikannya telah memalsukan hadits.

- Adz-Dzahabi berkata: Dia terindikasi memalsukan hadits.

- Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Dia terindikasi memalsukan hadits.

(Silahkan merujuk ke Mizaan Al-Itidal 3/142 dan Lisan Al-Mizan 5/554).

2,3,4- Ali bin Muhammad bin Said Al-Bashri, dan Muhammad bin Said Al-Bashri, serta Khalaf bin Abdillah adalah seorang majhul (perawi yang tidak diketahui biografinya oleh ulama hadits).

Perkataan ulama tentang mereka:

- Abu Musa Al-Madini berkata: Dia asing, aku tidak pernah menulis riwayatnya kecuali dari riwayat Ibnu Jahdham. Dan perawinya tidak ada yang diketahui biografinya hingga ke Humaid. 

- Abdul Wahhab Al-Anmathi berkata: Dia seorang yang majhul.

- Adz-Dzahabi berkata: Bahkan kemungkinan mereka tidak pernah diciptakan (tidak pernah hidup)

- Asy-Syaukani berkata: Perawi-perawi haditsnya adalah perawi majhul.

(Lihat kitab Lisan Al-Mizan 6/16 milik Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Tartiib Al-Maudhuu’at hal. 162 milik Adz-Dzahabi)

Kesimpulan derajat hadits:

Sehingga dapat disimpulkan bahwa hadits ini adalah hadits palsu sebagaimana yang dinyatakan oleh:

- Ibnu Al-Jauzi dalam Al-Maudhuu’at 2/124.

- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Tabyiin Al-‘Ajab hal. 24.

- Adz-Dzahabi dalam Tartiib Al-Maudhuu’at hal. 162.

- Asy-Syaukani dalam Al-Fawaid Al-Majmu’ah hal. 48.

- Ash-Shana’ani dalam Al-Maudhuu’at hal. 72.

- Ibnul Qayyim dalam Al-Manaar Al-Muniif hal. 95.

- dll.

4. Hadits keempat (Dhaif)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صوم أول يوم في رجب كفارة ثلاث سنين والثاني كفارة سنتين والثالث كفارة سنة ثم كل يوم شهر

“Puasa di hari pertama bulan rajab adalah penghapus dosa selama 3 tahun. Dan puasa di hari kedua adalah penghapus dosa selama 2 tahun. Dan di hari ketiga adalah penghapus dosa selama 1 tahun. Kemudian puasa setiap hari setelahnya adalah penghapus dosa selama 1 bulan” (Fadhail Syahri Rajab no. 10)

Sanad hadits:

Hadits ini diriwayatkan dari jalan Abdullah bin Ahmad bin Abdillah At-Tammar, dari Abu Bakr Muhammad bin Abdillah Ash-Shaidalani, dari Muhammad bin Abi Salim Al-Muqri, dari Muhammad bin Bisyr, dari Abu Abdillah Al-Uqailani, dari Humran bin Aban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas.

Dalam sanad hadits ini terdapat:

1- Abu Bakr Muhammad bin Abdillah Ash-Shaidalani adalah seorang dhaif al-hadits (lemah haditsnya).

Abdul Aziz Al-Kattani berkata tentangnya: Fiihi nadzhar (lafadz jarh/cacat untuk rawi)

(Lihat Mizan Al-Itidal 6/305)

2- Muhammad bin Abi Salim Al-Muqri adalah seorang yang majhul (tidak diketahui biografinya oleh para ulama hadits).

3- Muhammad bin Bisyr adalah seorang yang majhul (tidak diketahui biografinya oleh para ulama hadits).

4- Abu Abdillah Al-Uqailani juga seorang yang majhul.

Kesimpulan derajat hadits:

Hadits ini adalah hadits yang dhaif sebagaimana yang dinyatakan oleh:

- Asy-Syaukani dalam Al-Jami’ As-Shaghir no. 5051

- Al-Albani dalam Dhaif Al-Jami’ As-Shaghir no. 3500

5. Hadits kelima (palsu)

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تغفلوا عن ليلة جمعة في رجب، فإنها ليلة تسميها الملائكة الرغائب

“Janganlah kalian lalai dari malam jumat di bulan Rajab. Sesungguhnya dia adalah sebuah malam yang dinamakan oleh Malaikat dengan Ar-Raghaib”

Sanad dan derajat hadits ini sama dengan hadits yang ketiga. Karena sebenarnya hadits tersebut adalah hadits yang panjang. Silahkan untuk merujuk ke point yang ketiga.

Inilah pemaparan beberapa hadits palsu dan dhaif yang populer mengenai keutamaan bulan rajab. Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------

Posting Komentar

  1. Tapi klo hadist ini فضا ئل عمال boleh gk di pake?
    #confused

    BalasHapus

 
Top