0

Ghibah itu hukumnya haram. Jika dilakukan, maka dosa besar. Terlebih jika dilakukan terhadap ahli ilmu. Dan itu sudah menjadi kesepakatan para ulama. Al-Imam Al-Qurthubi -rahimahullah- berkata dalam tafsirnya:

لا خلاف أن الغيبة من الكبائر، وأن من اغتاب أحدا عليه أن يتوب إلى الله عز وجل

“Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa ghibah termasuk dosa besar. Dan barangsiapa yang mengghibahi seseorang maka dia wajib bertaubat kepada Allah ta’ala” (Tafsir Al-Qurthubi 16/338)

Jika mengghibahi orang awam saja dosa besar, apalagi mengghibahi ahli ilmu. Maka dia bukan hanya makan daging bangkai semata, lebih dari itu dia telah makan daging bangkai yang beracun.

Al-Imam Ibnu Asakir rahimahullah telah berkata:

إن لحوم العلماء رحمة الله عليهم مسمومة وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة لأن الوقيعة فيهم بما هم منه براء أمره عظيم والتناول لأعراضهم بالزور والافتراء مرتع وخيم

“Sesungguhnya daging para ulama -rahimahumullah- adalah daging beracun. Dan Allah akan membuka aib orang yang mencela ulama, dan itu sudah biasa diketahui. Karena mencela ulama dengan sebuah hal yang mana mereka berlepas diri darinya adalah perkara yang besar. Dan memakan kehormatan ulama dengan kebohongan dan dusta adalah hal yang berbahaya” (Tabyiin Kadzib Al-Muftari hal. 29)

Bertaubat dari ghibah itu tidaklah mudah. Karena dia memiliki kewajiban lain yaitu minta kehalalan dengan cara meminta maaf kepada orang yang telah dighibahi agar Allah mengampunkan dosanya. Perlu diketahui menghubungi para ustadz itu tidaklah mudah, mau sampai kapan dosa besarmu terpikul dibahu karena belum sempat meminta maaf? Apakah sampai berjumpa dengan Allah? Maka jaga lisanmu untuk tidak mengghibahi orang lain terlebih dia adalah seorang ahli ilmu.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء، فليتحلله منه اليوم، قبل أن لا يكون دينار ولا درهم، إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته، وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Barangsiapa yang memiliki kedzaliman terhadap saudaranya baik dengan merusak kehormatannya atau dengan perbuatan lainnya, maka hendaknyalah dia meminta kehalalan kepadanya pada hari ini juga sebelum datang suatu hari yang mana dinar maupun dirham tidak lagi bermanfaat (hari kiamat). Jika dia memiliki amal shalih, maka pahalanya diambil darinya sesuai dengan kadar kedzalimannya. Dan jika dia tidak memiliki kebaikan, maka dosa kawannya akan diambil darinya kemudian dibebankan untuk orang yang mendzalimi” (HR. Bukhari no. 2449)  

Al-Imam Ibnu Asakir rahimahullah juga berkata:

وكل من أطلق لسانه في العلماء بالثلب بلاه الله عز وجل قبل موته بموت القلب

“Dan siapa saja yang berbicara buruk terhadap kehormatan ulama, maka Allah akan memberakan cobaan kepadanya berupa kematian hati sebelum dia wafat” (Tabyiin Kadzib Al-Muftari hal. 425)

Jika ghibah saja dosa besar, apalagi fitnah, terlebih lagi jika dia adalah seorang ahli ilmu.

Semoga Allah menjaga lisan kita dari setiap dosa dan maksiat. Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------

Posting Komentar

 
Top