0

Jenggot adalah setiap rambut yang tumbuh di dua rahang, dagu, pipi (jambang), serta bawah bibir.

1,2. Rambut yang tumbuh di 2 pipi, dan dagu.

Jika kita membuka Al-Mu’jam Al-Wasith, maka kita akan mendapatkan arti lihyah (jenggot):

اللحية شعر الخدين والذقن

Jenggot adalah rambut yang tumbuh di 2 pipi dan dagu. (Al-Mu’jam Al-Wasith)

Syaikh Utsman Al-Khamis -hafidzahullah- mengatakan:

اللحية ما نبت على اللحيين والذقن

Jenggot adalah rambut yang tumbuh di 2 rahang dan dagu. (Silahkan lihat di sini)

3. Jambang.

Begitu pula, jambang juga termasuk bagian dari jenggot. Disebutkan dalam sebuah hadits, Abu Ma’mar berkata:

سَأَلْنَا خَبَّابًا أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالعَصْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْنَا: بِأَيِّ شَيْءٍ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ؟ قَالَ: بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

Kami pernah bertanya kepada Khabbab apakah nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca sesuatu ketika shalat dzuhur dan ashar? Maka beliau menjawab: “Iya”. Maka kami bertanya kembali: “Bagaimana kalian mengetahui hal tersebut?” Beliau berkata: “Dengan bergeraknya jenggot beliau.” (HR. Bukhari no. 746)

Pada hadits di atas jelas, bahwasanya jambang disebut sebagai jenggot. Seseorang tidak akan bisa melihat jenggot orang lain dari belakang kecuali hanya bagian jambang saja. Begitupula para sahabat yang hanya bisa melihat jambang nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika shalat di belakang beliau.   

Maka dari itu syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- berkata ketika ditanya apakah jambang termasuk bagian dari jenggot:

نعم العارضان من اللحية لأن هذا هو مقتضى اللغة التي جاء بها الشرع

Ya, kedua jambang bagian dari jenggot. Karena ini adalah konsekuensi bagian dari bahasa arab yang mana syariat islam datang dengannya. (Majmu’ Fatawa Ibni Utsaimin 11/124)

4. Rambut yang tumbuh di antara bibir bawah dan dagu (Anfaqah)

Al-Imam Ibnu Al-Mandzur rahimahullah berkata:

والعَنْفَقةُ: مَا بَيْنَ الشَّفَةِ السُّفْلَى والذَّقَن مِنْهُ لِخِفَّةِ شَعْرِهَا

Dan anfaqah addalah rambut yang tumbuh di antara bibir bawah dan dagu. Disebut dengan Anfaqah karena sedikitnya rambut tersebut (Karena anfaq artinya tipis dan sedikit). (Lisaan Al-Arab 10/277)

Dalam madzhab Maliki, mereka menyatakan bahwa anfaqah (rambut yang di bawah bibir) haram untuk diambil. Disebutkan dalam Hasyiah Al-Adawi:

وَيَحْرُمُ إزَالَةُ شَعْرِ الْعَنْفَقَةِ كَمَا يَحْرُمُ إزَالَةُ شَعْرِ اللِّحْيَةِ وَإِزَالَةُ الشَّيْبِ مَكْرُوهَةٌ كَمَا يُكْرَهُ تَخْفِيفُ اللِّحْيَةِ وَالشَّارِبِ بِالْمُوسَى تَحْسِينًا وَتَزْيِينًا

Dan diharamkan untuk menghilangkan rambut anfaqah (yang tumbuh di bawah bibir) sebagaimana diharamkan mengambil rambut jenggot. Dan menghilangkan uban dimakruhkan sebagaimana menipiskan jenggot dan kumis dengan silet untuk memperindah dan menghias. (Hasyiah Al-Adawi 2/446)

Al-Jasshash Al-Hanafi menyebutkan bahwa Ibnu Juraij berkata:

أَنَّ رَجُلًا كَانَ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ شَهِدَ عِنْدَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ يَنْتِفُ عَنْفَقَتَهُ وَيُخْفِي لِحْيَتَهُ وَحَوْلَ شَارِبَيْهِ، فَقَالَ: مَا اسْمُك؟ قَالَ: فُلَانٌ، قَالَ: بَلْ اسْمُك نَاتِفٌ وَرَدَّ شَهَادَتَهُ

Bahwasanya seseorang dari penduduk Mekkah hadir di sisi Umar bin Abdil Aziz. Dan orang tersebut mencabut bulu anfaqahnya, dan menyembunyikan jenggotnya serta yang ada di sekitar kumisnya. Maka Umar bertanya: “Siapa namamu?” Dia berkata: “Fulan”. Maka beliau menjawab: “Justru namamu adalah Natif (tukan pencabut bulu).” Dan persaksiannya ditolak oleh Umar. (Ahkam Al-Quran 1/612)

Jadi itulah bagian-bagian jenggot yang tidak boleh dipotong. Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Abdurrahman Al-Amiry
Islamic Center Al-Istiqomah, Prabumulih, Sumatra Selatan.
Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------

Posting Komentar

 
Top