0

Tegak di Podium dengan gagah dan suara lantang mengundang decak dan tawa. Materi yang disampaikan pun tak tanggung-tanggung karena agama dan ummatnya yang harus dibawa. Apa akan terasa hambar jika agama tak menjadi bahan olokan maupun canda dan tawa?
                          
Menjaga lisan tak perlu menunggu ummat murka terlebih dahulu. Dan bertutur santun tak harus menghina agama terlebih dahulu. Jangan salahkan orang jika kau risau setelah agama menjadi olokanmu, karena kau jual maka orang beli, dan kau undang maka orang datang.

Kami ummat islam, selalu dididik untuk tidak menghina agama orang lain. Kami ummat islam, selalu diajari untuk bertutur baik dalam bergaul dengan pelbagai ummat. Karena kami mempelajari sebuah ayat yang sangat mulia:

 وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Janganlah kamu mencela orang-orang yang masih menyeru selain Allah (non muslim), karena mereka akan mencela Allah dengan permusuhan tanpa adanya ilmu” (QS. Al-An’am: 108)

Dan ingat, jika sekumpulan singa sedang tertidur maka janganlah kau lempari mereka dengan batu. Sayangilah dirimu untuk tidak memposisikan diri sebagai santapan raja hutan itu. Beruntunglah dirimu karena ummat yang kau olok adalah ummat yang berhati lapang dan jiwa penuh sabar. Namun kau harus tahu bahwa sabar itu sendiri juga memiliki kapasitas maupun batas. Maka jangan kau lampaui batas itu.

Pelajaran yang dapat kita petik, berpikirlah sejenak sebelum mengeluarkan setiap kalimat yang tersusun di otak. Itulah kenapa kita harus pintar-pintar mengolah kata dan mengatak. Karena tak semua hal itu layak untuk dituturkan dari apa yang terlintas di benak. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- selalu mengajarkan kepada kita agar berpikir terlebih dahulu dari setiap perkataan yang berdampak. Beliau –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

وإن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله، لا يلقي لها بالا، يهوي بها في جهنم

“Dan sesungguhnya seorang hamba jika berucap dengan sebuah kalimat yang dimurkai oleh Allah namun tidak memipikirkan dampaknya, dia akan jatuh ke dalam neraka jahannam karena kalimat itu” (HR. Bukhari no. 6478(

Minta maaf kepada orang lain itu bagus. Namun kau tak mengolok-ngolok orang lain yang berujung kepada permohonan maaf, itu jauh lebih bagus.

Sudahlah! Mulai sekarang jauhi agama, dan kitab suci, serta sabda nabi untuk menjadi materi gelak tawa dan bahan istihza’ (penghinaan). Hindarkan sejauh-jauhnya hal itu semua. Jika kau muslim namun tetap melakukannya, maka kau terancam kepada riddah (pemurtadan). Dan jika kau non muslim namun tetap melakukannya, maka kau terancam kepada murka. Allah berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? * Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman." (QS: At-Taubah: 65-66)

Hal ini ku tulis, karena aku termasuk ummat yang tersinggung. Ada reaksi karena ada peristiwa. Ada respon karena ada aksi. Semoga kita selalu dibimbing oleh Allah untuk menjadi hamba yang mana setiap aksi kehidupannya selalu tertata di atas akhlak yang mulia.

اللهم اهدني لأحسن الأخلاق، لايهدي لأحسنها إلا أنت، واصرف عني سيئها، لا يصرف عني سيئها إلا أنت

"Ya Allah tunjukilah kepada kami akhlak yang baik, tidak ada yang menunjukkan kepada kami akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Dan jauhkanlah kami dari akhlak yang buruk, tidak ada yang menjauhkan kami dari akhlak yang buruk kecuali Engkau" (HR. Ahmad no. 803)

Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------

Posting Komentar

 
Top