0

Maksud dari sunnah fitrah adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Asy-Syaukani -rahimahullah-:

هي السنة القديمة التي اختارها الأنبياء واتفقت عليها الشرائع فكأنها أمر جبلي ينطوون عليها

“Dia adalah sunnah terdahulu yang dipilih oleh para nabi dan semua syariat sepakat atasnya. Seakan ia adalah perkara tabiat yang mana manusia difitrahkan di atasnya.” (Nail Al-Authaar 1/141)

Apa saja sunnah fitrah yang disebutkan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-?

Dan di antara sunnah fitrah yang dijelaskan oleh beliau adalah:

خمس من الفطرة: الختان، والاستحداد، ونتف الإبط، وتقليم الأظفار، وقص الشارب

“5 hal termasuk sunnah fitrah: Berkhitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong bulu kumis.” (HR. Bukhari no. 5889 dan Muslim no. 257)

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

عشر من الفطرة: قص الشارب، وإعفاء اللحية، والسواك، واستنشاق الماء، وقص الأظفار، وغسل البراجم، ونتف الإبط، وحلق العانة، وانتقاص الماء

“10 hal termasuk sunnah fitrah: Mencukir kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung ketika berwudhu), memotong kuku, dan mencuci sela-sela jari, dan mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, dan beristinja’.” (HR. Muslim no. 261)

1- Khitan

Khitan adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah-:

أَن يقطع الرجل الْجلْدَة الَّتِي على الْحَشَفَة حَتَّى تنكشف جَمِيعهَا وَأما الْمَرْأَة فقطع الجلدة في أعلى الفرج

“Seorang lelaki memotong kulit yang ada di atas kepala zakar sehingga semua kepala zakar terbuka. Adapun wanita maka dengan memotong kulit yang ada di atas kemaluannya.” (Tuhfah Al-Maulud hal. 191 dengan sedikit perubahan)

Hukum khitan bagi lelaki dan wanita

- Hukum khitan untuk lelaki

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اختتن إبراهيم عليه السلام وهو ابن ثمانين سنة بالقدوم

“Ibrahim alaihissalam berkhitan dengan menggunakan qaduum sedangkan beliau berumur 80 tahun” (HR. Bukhari no. 3356 dan Muslim no. 2370)

Sehingga khitan adalah millah nabi Ibrahim -alaihissalam-, sedangkan kita diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti millah nabi Ibrahim. Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan kami telah wahyukan kepadamu untuk mengikuti millah Ibrahiim yang lurus dan tidaklah sekali-kali dia melakukan kesyirikan” (QS. An-Nahl: 123)

Kemudian khitan adalah sesuatu yang difitrahkan untuk manusia sebagaimana yang telah kita sebutkan haditsnya di atas mengenai sunnah-sunnah fitrah.,

Dan Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- juga bersabda kepada seseorang yang baru masuk islam:

أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ

“Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah” (HR. Abu Daud no. 356; Hasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Dari dalil-dalil diatas, maka para ulama sepakat menyatakan bahwa hukum khitan adalah wajib bagi para lelaki karena dia adalah syi’ar kaum muslimin dan nabi memerintahkan khitan untuk lelaki yang baru masuk islam. Namun dalam permasalahan hukum khitan bagi wanita masih diperselisihkan oleh para ulama apakah wajib atau sunnah.

- Hukum khitan bagi wanita

Pertama: Semua para ulama sepakat bahwasanya wanita disyariatkan untuk melakukan khitan. Hal tersebut karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para wanita untuk berkhitan.

Beliau bersabda untuk wanita Anshar.

واختفضن ولا تنهكن، فإنه أحظى لإناثكن عند أزواجهن

"Berkhitanlah kalian wahai para wanita akan tetapi jangan terlalu berlebihan dalam berkhitan. Sesungguhnya hal tersebut lebih disukai oleh para wanita di sisi suami-suami mereka" (HR.Baihaqi no. 8279; dha’if sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Al-Qatthan)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اخفضي، ولا تنهكي، فإنه أنضر للوجه، وأحظى عند الزوج

"Berkhitanlah namun jangan terlalu berlebihan dalam berkhitan. Sesungguhnya dia lebih membuat wajah berceria dan lebih dicintai oleh suami" (HR. Thabrani no. 8137; dha’if sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Daqiq Al-‘Ied)

Kedua: Namun mereka berbeda pendapat, "Apakah syariat khitan untuk wanita adalah wajib ataukah sunnah". Walaupun mereka semua sepakat bahwasanya khitan bagi wanita disyariatkan.

- Sebagian para ulama berpendapat hukum khitan bagi wanita adalah wajib. Karena keumuman dalil diatas dan karena pada asalnya lelaki dan wanita hukumnya sama kecuali ada dalil yang membedakan.

Maka dari itu Imam Nawawi rahimahullah dari kalangan syafi’iyyah mengatakan:

والمذهب الصحيح المشهور الذى نص عليه الشافعي رحمه الله وقطع به الجمهور انه واجب على الرجال والنساء

“Dan madzhab yang benar yang masyhur yang mana dinashkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah dan diputuskan oleh jumhur ulama, bahwa khitan adalah wajib bagi lelaki dan wanita” (Al-Majmu’ 1/301)

- Sebagian ulama lain berpendapat bahwasanya khitan adalah sunnah. Karena ada syari’atnya namun tidak sampai kepada hukum wajib. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إذا جلس بين شعبها الأربع، ثم جهدها فقد وجب الغسل

“Jika seseorang lelaki duduk diantara empat anggota badan istrinya, lalu dua khitan (kemaluan)  saling bertemu, maka wajib mandi” (HR. Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)

Dalam hadits diatas Rasulullah menyebutkan 2 kemaluan dengan 2 khitan, berarti wanita disyariatkan untuk berkhitan. Namun syariat itu hanyalah sunnah dan bukan wajib, mengapa?

- Lelaki berkhitan untuk menghilangkan najis yang tertinggal di kulit dzakarnya sehingga diwajibkan khitan atasnya karena berkaitan dengan syarat sahnya shalat. Bahkan Imam Malik rahimahullah sangat keras dalam masalah ini sampai beliau berkata sebagaimana yang dinukilkan oleh Ibnul Qayyim:

من لم يختتن لم تجز إِمَامَته

“Barangsiapa yang tidak berkhitan maka tidak boleh dia menjadi imam shalat” (Tuhfah Al-Maudud Fii Ahkaam Al-Mauluud 1/162)

- Perempuan berkhitan untuk mengurangi syahwatnya yang berlebih. Sehingga tidak diwajibkan dan hanya sunnah.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

وأما في حَقِّ المرأة فغاية فائدته: أنه يُقلِّل من غُلمتِها، أي: شهوتها، وهذا طلب كمال، وليس من باب إِزالة الأذى

“Dan adapun khitan bagi perempuan maka tujuan besarnya adalah: untuk mengurangi syahwatnya, dan ini hanyalah mencari kesempurnaan dan bukan untuk membuang najis” (Asy-Syarhu Al-Mumti’ 1/165)

Sehingga Ibnu Qudamah rahimahullah dari kalangan hanabilah berkata:

فَأَمَّا الْخِتَانُ فَوَاجِبٌ عَلَى الرِّجَالِ، وَمَكْرُمَةٌ فِي حَقِّ النِّسَاءِ، وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهِنَّ. هَذَا قَوْلُ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

“Adapun khitan maka hukumnya wajib bagi lelaki dan disunnahkan untuk wanita dan tidak diwajibkan untuk wanita. Dan ini adalah pendapat kebanyakan para ulama” (Al-Mughni 1/64)

Kesimpulan: Maka sah-sah saja bagi seseorang yang berpendapat bahwa hukum khitan adalah wajib bagi wanita dengan sisi pendalilan debagian para ulama, dan sah pula bagi siapa saja untuk berpendapat bahwa khitan adalah sunnah bagi wanita dan tidak wajib dengan sisi pendalilan ulama yang lain.

Adapun saya pribadi, maka saya condong kepada pendapat para ulama yang menyatakan bahwa khitan adalah sunnah bagi wanita dan tidak diwajibkan. Walau begitu, sudah seharusnya kita melakukan hal yang sunnah tersebut, terlebih khitan adalah kebaikan besar untuk putri kita sendiri. Allahu a’lam dan semoga bermanfaat.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------
Ingin pahala jariyah? Mari berinfak untuk pengembangan dakwah Kajian Al-Amiry melalui rekening:

BNI Syariah: 0605588960 a.n Yayasan Kajian Al Amiry (Kode bank: 009)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

Posting Komentar

 
Top