0

Pengertian istinja

Istinja adalah  Membersihkan benda yang keluar dari kemaluan dan dubur menggunakan air, batu, daun, atau yang semisalnya.

Dan bahasa indonesianya adalah “cebok” sebagaimana yang ditercantum dalam KBBI.

Imam An-Nawawi -rahimahullah- berkata:

الاستنجاء والاستجمار عبارتان عن إزالة الخارج من السبيلين عن مخرجه فالاستنجاء يكون تارة بالماء وتارة بالأحجار والاستجمار يختص بالأحجار مأخوذا من الجمار وهي الحصى الصغار

“Istinja dan istijmar adalah dua kalimat yang memiliki pengertian ‘menghilangkan apa yang keluar dari 2 jalan. Dan istinja’ bisa menggunakan air dan batu. Adapun istijmar maka khusus menggunakan batu karena diambil dari kata jimar (batu) dan dia adalah kerikil-kerikil kecil” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzab 2/73)

Hukum beristinja

Beristinja’ hukumnya adalah wajib. Karena pada asalnya kita diperintahkan untuk membersihkan tubuh dari segala macam bentuk najis.

Imam An-Nawawi -rahimahullah- berkata:

فالاستنجاء واجب عندنا من البول والغائط وهو شرط في صحة الصلاة وبه قال أحمد وإسحاق وداود وجمهور العلماء ورواية عن مالك

“Istinja dari air kencing dan tinja adalah wajib menurut madzhab kami (Syafi’i) dan dia adalah syarat dari sahnya shalat. Dan inilah yang dikatakan oleh Ahmad, Ishaq, Daud, dan kebanyakan para ulama serta sebuah riwayat dari Malik” (Idem 2/95)

Imam Ibnu Qudamah -rahimahullah- berkata juga:

والقول بوجوب الاستنجاء في الجملة قول أكثر أهل العلم

“Dan pernyataan wajibnya istinja’ adalah perkataan kebanyakan para ulama” (Al-Mughni 1/111)

Benda yang digunakan ketika beristinja

- Istinja dengan air

Anas bin Malik -radhiyallahu anhu- berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يدخل الخلاء فأحمل أنا، وغلام نحوي، إداوة من ماء، وعنزة فيستنجي بالماء

“Rasulullah hendak buang air maka aku dan seorang anak kecil membawa sebuah wadah berisi air dan sebuah tongkat. Maka beliau -shallallahu alaihi wa sallam- beristinja’ menggunakan air” (HR. Muslim No. 271)

- Dan istinja juga dapat dilakukan dengan batu, kayu, atau daun

إذا ذهب أحدكم لحاجته، فليستطب بثلاثة أحجار، فإنها تجزئه

“Jika salah seorang dari kalian pergi untuk buang hajat, maka hendaknya dia menggunakan 3 batu. Karena hal itu cukup baginya” (HR. Ahmad no. 24771; Shahih lighoirih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth)

Dan jika menggunakan batu atau yang semisalnya maka harus 3 batu sebagaimana hadits di atas dan tidak boleh kurang dari 3 batu dan tidak boleh pula istinja menggunakan tulang atau kotoran hewan.

Salman Al-Farisi -radhiyallahu anhu- berkata:

لقد نهانا أن نستقبل القبلة لغائط، أو بول، أو أن نستنجي باليمين، أو أن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار، أو أن نستنجي برجيع أو بعظم

“Beliau -shallallahu alaihi wa sallam- telah melarang kami untuk menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau kecil. Dan beliau melarang kami untuk beristinja menggunakan tangan kanan, dan melarang kami beristinja menggunakan batu yang lebih sedikit dari 3 biji batu, dan beliau melarang kami beristinja dengan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim no. 262)

Hikmah mengapa kita dilarang beristinja menggunakan kotoran hewan dan batu karena keduanya adalah makanan saudara kita dari bangsa jin. Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

لا تستنجوا بالروث، ولا بالعظام، فإنه زاد إخوانكم من الجن

“Janganlah kamu berinstinja dengan kotoran hewan dan tulang, sesungguhnya itu adalah makanan saudara kalian dari bangsa jin.” (HR. Tirmidzi no. 18; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Adab-adab ketika buang air

1 - Mengucapkan ‘bismillah’ ketika hendak masuk ke toilet, kemudian dilanjutkan dengan doa ‘Allahumma innii a’uudzubika mina; khubutsi wal khabaaits’

Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah- shallallahu alahi wa sallam-:

ستر ما بين أعين الجن وعورات بني آدم: إذا دخل أحدهم الخلاء، أن يقول: بسم الله

“Penutup antara pandangan mata jin dan aurat anak Adam ketika mereka masuk ke dalam tempat buang air adalah ucapan ‘bismillah’.” (HR. Tirmidzi no. 606; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Dan Anas bin Malik -radhiyallahu anhu- berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل الخلاء قال: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبَائِثِ

“Nabi -shallallahu alaihi wa sallam ketika masuk ke dalam tempat buang air beliau mengucapkan: ‘Allahumma innii a’uudzubika minal khubutsi wal khabaaits’(Ya Allah aku berlindung kepadamu dari jin laki-laki dan jin wanita)” (HR. Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375)

2- Mengucapkan ‘ghufroonak’ ketika keluar dari toilet

Ghufroonak artinya: Aku meminta ampunanMu ya Allah.

Dari Aisyah -radhiyallahu anha- :

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا خرج من الغائط قال: غفرانك

“Bahwasanya nabi -shallallahu alaihi wa sallam ketika keluar dari tempat buang air beliau mengucapkan: ‘Ghufroonak’.” (HR. Abu Daud no. 30; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

3- Mendahulukan kaki kari ketika masuk kamar mandi dan kaki kanan ketika keluar kamar mandi

Imam Asy-Syaukani -rahimahullah- berkata:

وأما تقديم اليسرى دخولا واليمنى خروجا فله وجه لكون التيامن فيما هو شريف والتياسر فيما هو غير شريف وقد ورد ما يدل عليه في الجملة

“Dan adapun mendahulukan kaki kari ketika masuk kamar mandi dan kaki kanan ketika keluar kamar mandi karena ada alasannya. Karena kaki kanan untuk hal-hal yang mulia dan kaki kiri untuk hal-hal yang tidak mulia. Dan hal ini sebagaimana yang telah disebutkan oleh dalil secara global.

Dalilnya adalah sebuah hadits dari Hafshah -radhiyallahu anha-, beliau berkata:

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يجعل يمينه لطعامه وشرابه وثيابه، ويجعل شماله لما سوى ذلك

“Bahwasanya nabi -shallallahu alaihi wa sallam- menjadikan kanan untuk didahulukan ketika makan dan minum serta pakai pakaian. Dan menjadikan kiri didahulukan untuk selain hal itu.” (HR. Abu Daud; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Dan Aisyah -radhiyallahu anha- juga berkata:

كانت يد رسول الله صلى الله عليه وسلم اليمنى لطهوره ولطعامه، وكانت اليسرى لخلائه، وما كان من أذى

“Tangan kanan Rasulullah diutamakan ketika bersuci dan makan, dan yang kiri diutamakan ketika buang air dan apa saja yang kotor.” (HR. Ahmad; Hasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth)

4- Menjauh dari banyak orang ketika buang air di tempat yang terbuka

Sering terjadi banyak kesalahan pada masyarakat kita ketika mereka sedang melakukan safar dan hendak buang air. Beberapa dari mereka buang air kecil di tempat yang terbuka sedangkan ketika itu dapat dilihat oleh banyak orang. Dan ini dilarang dalam agama islam, karena aurat harus ditutup.

Jabir bin Abdillah -radhiyallahu anhu- berkata:

خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يأتي البراز حتى يتغيب فلا يرى

“Kami keluar bersama Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- dalam sebuah safar. Dan Rasulullah tidak akan buang air sampai beliau pergi menghilang sehingga tidak dapat dilihat ketika buang air.” (HR. Ibnu Majah no. 335; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Sehingga hal ini perlu diperhatikan, terutama untuk masalah buang air di kebanyakan toilet yang ada di mall. Di sana disediakan tempat-tempat buang air kecil yang dapat dilihat oleh banyak orang. Dan hal ini sebisa mungkin dijauhkan, karena ditakutkan akan tersingkap aurat kita secara tidak sengaja. Maka dari itu, Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- ketika hendak buang air, beliau menjauh sehingga tidak dilihat oleh seorangpun.

5- Tidak menghadap ke kiblat atau membelakanginya

Hal ini karena Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- telah melarangnya. Beliau -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

إذا أتيتم الغائط فلا تستقبلوا القبلة، ولا تستدبروها ببول ولا غائط

“Jika kamu hendak buang air maka janganlah menghadap ke kiblat dan jangan pula membelakanginya baik ketika buang air kecil maupun buang air besar.” (HR. Muslim no. 264)

Namun larangan ini untuk buang air di tempat terbuka seperti di hutan, padang pasir, dll. Adapun buang air di tempat yang tertutup, seperti di toilet, maka hal ini dibolehkan sebagaimana Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- pernah melakukannya. Ibnu Umar -radhiyallahu anhuma- bercerita:

رقيت يوما على بيت حفصة، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم على حاجته مستقبل الشام مستدبر الكعبة

“Pada suatu hari aku naik ke atas rumah Hafshah, maka aku melihat Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- buang air dengan menghadap ke arah Syam dan membelakangi ka’bah” (HR. Tirmidzi no. 11; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

6- Tidak buang air di sebuah jalan yang dilalui oleh orang dan di tempat teduh mereka

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- telah bersabda:

اتقوا اللاعنين، قالوا: وما اللاعنان يا رسول الله؟ قال: الذي يتخلى في طريق الناس أو ظلهم

“’Jauhilah 2 perbuatan yang mengundang laknat Allah’. Mereka betanya: ‘Apa 2 amalan itu wahai Rasulullah?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘Yaitu buang air di jalan yang dilalui manusia atau di tempat berteduh mereka’.” (HR. Abu Daud no. 25; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

7- Tidak buang air di tempat yang tergenang (airnya tidak mengalir)

Dari Jabir bin Abdillah -radhiyallahu anhu-:

أن النبي صلى الله عليه وسلم  نهى أن يبال في الماء الراكد

“Bahwasanya nabi -shallallahu alaihi wa sallam- melarang buang air kecil di air yang tergenang.” (HR. Muslim no. 281)

8- Lebih utama duduk ketika buang air kecil dari pada berdiri

Aisyah -radhiyallahu anha- berkata:

من حدثكم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبول قائما فلا تصدقوه، ما كان يبول إلا قاعدا

“Siapa yang berkata bahwa nabi -shallallahu alaihi wa sallam- buang air kecil berdiri maka janganlah kalian percaya kepadanya. Tidaklah nabi buang air kecil kecuali beliau duduk (jongkok).” (HR. Abu Daud no. 12; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Aisyah -radhiyallahu anha- mengucapkan hal ini, karena Aisyah memang tidak pernah melihat Rasulullah buang air dalam keadaan berdiri. Namun sebaliknya, Hudzaifah pernah melihat Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- buang air kecil dalam keadaan berdiri. Hudzaifah -radhiyallahu anhu- berkata:

لقد أتى النبي صلى الله عليه وسلم سباطة قوم، فبال قائما

“Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- pernah pergi ke tempat buang air sebuah kaum, maka beliau kencing berdiri.” (HR. Bukhari no. 2471 dan Muslim no. 273)

Sehingga pada kesimpulannya, boleh buang air kecil dalam keadaan berdiri namun yang lebih utama adalah buang air kecil dalam keadaan jongkok. Karena yang paling sering dilakukan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- ketika buang air kecil adalah jongkok. Dan ini juga lebih aman untuk tidak terciprat dari najis air kencing ketika dilakukan dengan berdiri. Allahu a’lam.

9- Tidak menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan ketika buang air kecil begitu pula ketika istinja’

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

إذا بال أحدكم فلا يمس ذكره بيمينه، ولا يستنجي بيمينه

“Jika salah seorang dari kalian buang air kecil, maka janganlah dia menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan, dan jangan pula beristinja menggunakan tangan kanan.” (HR. Ahmad no. 22565; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth)

10- Tidak masuk ke dalam toilet dengan benda yang ada tulisan Allah

Hal ini perlu diperhatikan, terkadang ada seseorang mengenakan pakaian yang bertuliskan Allah dan dia masuk ke dalam toilet untuk buang air. Maka hal ini adalah perbuatan yang terlarang. Karena nama Allah adalah nama yang sangat mulia sedangkan toilet adalah seburuk-buruk tempat. Maka nama Allah tersucikan dari tempat-tempat seperti ini.

Anas bin Malik -radhiyallahu anhu- berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل الخلاء وضع خاتمه

“Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- ketika hendak masuk ke dalam toilet maka beliau letakkan cincinnya di luar.” (HR. Ibnu Hibban no. 1413; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hibban sendiri)

Dan cincin Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bertuliskan “Muhammad Rasul Allah”, sehingga beliau melepaskan cincinnya ketika hendak masuk ke toilet.

Anas bin Malik -radhiyallahu anhu- berkata:

فاتخذ النبي صلى الله عليه وسلم خاتما من فضة، نقشه: محمد رسول الله

“Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- membuat cincin dari perak, dan beliau menuliskan pada cincin tersebut: ‘Muhammad Rasul Allah’” (HR. Bukhari no. 5872)

11- Menggulung celana ketika buang air kecil

Hal ini, karena ditakutkan celana akan terpercik oleh najis air kencing kita sendiri. Adapun jika kita menggulung celana, maka najis tersebut dapat hilang bersamaan dengan kita menyiram kaki.

Karena menjaga diri ketika buang air adalah perkara yang wajib. Ada seseorang yang diazab karena tidak bisa menjaga kebersihan dirinya ketika buang air. Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma- berkata:

مر النبي صلى الله عليه وسلم بقبرين، فقال: إنهما ليعذبان، وما يعذبان في كبير، أما أحدهما فكان لا يستتر من البول، وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة

“Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- melewati 2 kuburan, maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang diadzab dan tidaklah keduanya di adzab karena perkara besar. Adapun yang pertama dia diadzab karena tidak menjaga dirinya dari air kencing. Adapun yang lain, dia diadzab karena selalu berjalan dengan namimah (adu domba).” (HR. Bukhari no. 218 dan Muslim no. 292)

Sehingga ketika kita tahu bahwa ada sedikit air kencing yang mengena pakaian kita, maka kita harus memercikkan air ke pakaian tersebut dan menguceknya. Adapun jika ada banyak najis yang mengenainya, maka kita ganti dengan pakaian baru dan kita cuci pakaian yang terkena najis tadi.

Inilah pembahasan mengenai istinja dan adab-adab ketika buang air. Mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------
Ingin pahala jariyah? Mari berinfak untuk pengembangan dakwah Kajian Al-Amiry melalui rekening:

BNI Syariah: 0605588960 a.n Yayasan Kajian Al Amiry (Kode bank: 009)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

Posting Komentar

 
Top