0

Kita sudah sebutkan apa saja benda-benda yang dikategorikan sebagai benda najis oleh agama islam sesuai Al-Quran dan hadits pada “Serial Fikih (1)”. Dan pada kesempatan kali ini kita ingin membahas bagaimana mensucikan benda-benda najis tersebut.

1- Cara mensucikan diri setelah buang air besar maupun buang air kecil.

Point ini insya Allah akan kita jelaskan secara khusus dan terperinci dalam adab-adab buang air dan beristinja pada pembahasan yang akan datang.  

2- Cara mensucikan pakaian yang terkena madzi atau wadi.

Mengenai apa itu madzi dan wadi maka telah kami jelaskan secara terperinci pada pembahasan yang lalu, bisa dibaca di sini. Dan cara pensuciannya sebagaimana yang tertera dalam riwayat Sahl bin Hanif -radhiyallahu anhu-, beliau berkata:

كنت ألقى من المذي شدة وعناء، فكنت أكثر منه الغسل، فذكرت ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم، وسألته عنه، فقال: إنما يجزئك من ذلك الوضوء، فقلت: يا رسول الله، كيف بما يصيب ثوبي منه، قال: يكفيك أن تأخذ كفا من ماء فتنضح به ثوبك حيث ترى أنه أصاب منه

“Aku mendapatkan kesulitan mengenai madzi, aku sangat sering mandi karena keluar madzi. Maka aku menyebutkan hal tersebut kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-, dan aku bertanya kepada beliau. Maka Rasulullah menjawab: ‘Sesungguhnya engkau cukup berwudhu saja (tanpa mandi besar)’. Maka aku kembali bertanya: ‘Wahai Rasulullah, maka bagaimana dengan pakaianku yang terkena madzi?’ Maka Rasulullah menjawab: ‘Engkau cukup mengambil air sebanyak satu telapak tangan kemudian engkau siram pada pakaianmu yang engkau lihat bagian tersebut terkena madzi.” (HR. Tirmidzi no. 115; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

3- Cara mensucikan pakaian yang terkena darah haid.

Cara mensucikan pakaian yang terkena haid adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits riwayat Asma binti Abi Bakr -radhiyallahu anhuma-. Asma berkata:

جاءت امرأة النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: أرأيت إحدانا تحيض في الثوب، كيف تصنع؟ قال: تحته، ثم تقرصه بالماء، وتنضحه، وتصلي فيه

“Ada seorang wanita datang kepada nabi -shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata: ‘Bagaimana jika salah seorang dari kami pakaiannya terkena darah haid, apa yang harus dia perbuat?’ Maka Rasulullah bersabda: “Dia kerik-kerik kemudian dia kucek-kucek menggunakan air, kemudian dia percikkan lagi dengan air. Kemudian dia boleh shalat dengan bajunya.” (HR. Bukhari no. 227 dan Muslim no. 291)

Jika masih ada bekas yang menempel, maka hal tersebut tidak mengapa. Yang penting adalah dia telah mengkerik pakaiannya yang terkena haid dan mengucek-nguceknya dengan air. Hal tersebut sebagaimana yang ada pada hadits Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-:

 أن خولة بنت يسار أتت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله إنه ليس لي إلا ثوب واحد وأنا أحيض فيه فكيف أصنع؟ قال: إذا طهرت فاغسليه، ثم صلي فيه. فقالت: فإن لم يخرج الدم؟ قال: يكفيك غسل الدم ولا يضرك أثره

“Bahwasanya Khaulah bintu Yasar mendatangi Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki kecuali satu pakaian saja dan aku haid ketika menggunakan pakaian tersebut, maka apa yang harus aku lakukan?’. Rasulullah menjawab: ‘Jika engkau telah suci dari haid maka cucilah baju tersebut kemudian shalatlah menggunakan baju tersebut’. Maka Khaulah berkata: ‘Bagaimana jika bekas darahnya belum keluar semua?’. Maka beliau bersabda: ‘Cukup engkau mencuci darah haidmu dan tidak mengapa jika masih ada bekasnya’. (HR. Abu Daud no. 365; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

4- Mensucikan tanah yang terkena kotoran manusia maupun kotoran hewan yang haram dimakan.

Pertama: Haram hukumnya buang air sembarangan di tanah atau jalan yang sering dilalui oleh orang banyak atau di tempat orang-orang berteduh.

Hal tersebut sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

اتقوا اللعانين قالوا: وما اللعانان يا رسول الله؟ قال: «الذي يتخلى في طريق الناس، أو في ظلهم

“Hati-hati dari 2 perbuatan yang mengundang laknat”. Maka para sahabat bertanya: ‘Apa itu 2 perbuatan yang mengundang laknat wahai Rasulullah?’. Rasulullah menjawab: ‘Yaitu buang air di jalan-jalan manusia atau di tempat teduh mereka.” (HR. Muslim no. 269)

Kedua: Jika ada manusia atau hewan yang membuang kotorannya di jalanan atau di sebuah tanah, maka cara pensuciannya adalah dengan menyiramnya menggunakan air atau didiamkan sampai kering terkena sinar matahari.

Hal tersebut sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik -radhiyallahu anhu-:

أن أعرابيا بال في المسجد، فقاموا إليه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا تزرموه. ثم دعا بدلو من ماء فصب عليه

“Bahwasanya ada seorang Arab badui yang buang air kecil di masjid. Maka para sahabat berdiri untuk melarangnya. Maka Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda: “Jangan kalian larang.” Kemudian Rasulullah meminta sebuah ember berisi air kemudian beliau menyiramnya.” (HR. Bukhari no. 6025 dan Muslim no. 284)

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- mencegah para sahabat melarang arab badui tersebut ditakutkan dia akan lari dan air kencingnya tercecer di mana-mana. Maka Rasulullah biarkan kemudian beliau menyiram najisnya.

Rasulullah -shallalahu alaihi wa sallam- menyiramnya karena beliau ingin tanah yang dikencingi Arab badui tersebut segera bersih dan suci. Seandainya tanah tersebut dibiarkan oleh beliau hingga kering dengan terkena sinar matahari tentu hal tersebut juga tidak mengapa. Yang demikian sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhu-:

كانت الكلاب تبول، وتقبل وتدبر في المسجد، في زمان رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلم يكونوا يرشون شيئا من ذلك

“Anjing-anjing selalu kencing dan bolak-balik di masjid pada zaman Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- dan mereka sama sekali tidak menyiram apapun karena hal itu.” (HR. Bukhari no. 174)

5- Cara mensucikan wadah yang terkena air liur anjing

Mensucikan wadah yang terkena air liur anjing dengan mencucinya sebanyak 7 kali. Namun pertama kali mencucinya harus menggunakan tanah terlebih dahulu atau bisa pula menggunakan tanah di paling akhir setelah wadah tersebut dicuci.  

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب، أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

“Suci wadah kalian setelah dijilat anjing jika telah dicuci sebanyak 7 kali pertama kalinya dengan tanah.” (HR. Muslim no. 279)

Dan sabda Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

إذا ولغ فيه الكلب اغسلوه سبع مرات، وعفروه في الثامنة بالتراب

“Jika seekor anjing menjilat wadah kalian maka cucilah sebanyak 7 kali. Dan gosoklah dengan tanah yang ke delapan kalinya.” (HR. Ahmad 20567; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth)

6- Cara mensucikan kulit bangkai hewan

Mensucikan kulit bangkai hewan dengan menyamaknya. Rasulullah -shallallahu alahi wa sallam- bersabda:

إذا دبغ الإهاب فقد طهر

“Jika kulit bangkai telah disamak maka dia sudah menjadi suci” (HR. Muslim no. 366)

7- Cara mensucikan ujung jubah wanita yang terkena kotoran ketika berjalan.

Ada salah seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah -radhiyallahu anha- seraya berkata:

إني امرأة أطيل ذيلي، وأمشي في المكان القذر فقالت أم سلمة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يطهره ما بعده

“Aku adalah wanita yang memanjangkan jubahku dan aku terkadang berjalan di tempat yang kotor”. Maka Ummu Salamah menjawab: ‘Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- telah bersabda: “Tanah berikutnya yang akan mensucikannya.” (HR. Abu Daud no. 383; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Sehingga tanah yang akan dilangkahi oleh wanita tersebut yang akan mensucikan ujung jubah seorang wanita jika terkena najis.

8- Cara mensucikan pakaian yang terkena air kencing bayi yang masih menyusu dan belum makan.

Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

يغسل من بول الجارية، ويرش من بول الغلام

“Pakaian dicuci jika terkena air kencing bayi wanita. Namun cukup dipercikkan dengan air saja jika terkena air kencing bayi laki-laki.” (HR. Abu Daud no. 376; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Jadi inilah yang dapat kita paparkan mengenai cara mensucikan benda-benda najis. Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------
Ingin pahala jariyah? Mari berinfak untuk pengembangan dakwah Kajian Al-Amiry melalui rekening:

BNI Syariah: 0605588960 a.n Yayasan Kajian Al Amiry (Kode bank: 009)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

Posting Komentar

 
Top