0

Dalam masalah hal ini, terdapat sebuah riwayat dari Aisyah -radhiyallahu anha- tentang mani:

ولقد رأيتني أفركه من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم فركا فيصلي فيه

“Dan aku pernah mengerik mani dari baju Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- maka beliau shalat menggunakan baju tersebut.” (HR. Muslim no. 288)

Maka dengan hadits ini, para ulama mengambil kesimpulan bahwa mani adalah suci dan bukanlah najis. Ini adalah madzhab Syafi’i, Hanbali, dan Dzahiri.

Mereka berhujjah seandainya mani adalah najis, maka tentu Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- tidak akan mungkin shalat menggunakan baju yang terkena najis dan belum dicuci dengan air dan hanya dikerik-kerik saja.

Benar bahwa di lain kesempatan, Aisyah pernah juga mencuci pakaian Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- yang terkena air mani. Seperti dalam riwayat Bukhari:

كنت أغسله من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فيخرج إلى الصلاة، وأثر الغسل في ثوبه

“Aku pernah mencuci mani dari pakaian Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-, maka beliau keluar untuk shalat sedangkan bekas air cucian masih ada di pakaian beliau.” (HR. Bukhari No. 230)

Namun, hadits Aisyah yang mencuci pakaian Rasulullah yang terkena mani tidaklah menjadi dalil akan kenajisan mani. Karena ketika Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- pernah shalat dengan baju yang terkena mani namun belum dicuci dan hanya dikerik saja, itulah yang menunjukkan bahwa mani itu suci, namun mencuci pakaian tersebut dengan air menjadi lebih sempurna dan lebih bersih.  

Sama halnya dengan dahak, ingus, atau ludah. Ketika pakaian kita terkena ludah, kemudian kita mengerikkannya saja dan tanpa dicuci maka hal tersebut boleh bagi kita untuk shalat menggunakan pakaian tersebut. Namun mencucinya lebih sempurna.

Jadi, mani itu suci tapi kotor, kedudukannya seperti dahak, ingus, maupun ludah. Sehingga lebih sempurna bagi kita untuk mencucinya. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata:

المني بمنزلة المخاط، فأمطه عنك ولو بإذخرة

“Mani seperti ingus, maka bersihkanlah dia dari dirimu walau dengan sebuah ranting.” (HR. Tirmidzi 1/178)
Baca juga:
Mungkin kita dapat mengambil perkataan Ibnu Hajar Al-Asqalani (ulama besar madzhab Syafi’i)  -rahimahullah- dalam masalah ini, bagaimana kita menggabungkan kedua hadits di atas:

وليس بين حديث الغسل وحديث الفرك تعارض لأن الجمع بينهما واضح على القول بطهارة المني بأن يحمل الغسل على الاستحباب للتنظيف لا على الوجوب وهذه طريقة الشافعي وأحمد وأصحاب الحديث وهذه الطريقة أرجح لأن فيها العمل بالخبر والقياس معا  

“Dan tidak ada pertentangan antara hadits mencuci mani dan hadits yang hanya mengeriknya saja. Karena menggabungkan kedua hadits itu jelas akan kesucian mani dengan cara membawa hadits pencucian kepada anjuran, sehingga lebih bersih dan bukan karena hal itu wajib. Dan inilah cara Syafi’i dan Ahmad serta ulama hadits menggabungkan kedua hadits ini. Dan cara ini lebih rajih (benar) karena dengan cara ini kita mengamalkan hadits dan qiyas secara bersamaan.” (Fath Al-Baari 1/333)

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------
Ingin pahala jariyah? Mari berinfak untuk pengembangan dakwah Kajian Al-Amiry melalui rekening:

BNI Syariah: 0605588960 a.n Yayasan Kajian Al Amiry (Kode bank: 009)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

Posting Komentar

 
Top