0

Pengertian bersuci:

Kata “bersuci” diartikan oleh banyak ulama dengan beberapa pengertian yang beragam namun dalam artian yang sama. Mungkin kita dapat menukil pengertian bersuci dari Al-Imam Ibnu Qudamah -rahimahullah-:

رفع ما يمنع الصلاة من حدث أو نجاسة بالماء، أو رفع حكمه بالتراب

“Menghilangkan hal-hal yang mencegah dari sahnya shalat berupa hadats dan najis dengan menggunakan air, atau menghilangkannya dengan debu.”(Al-Mughni 1/7)

Hadats terbagi menjadi 2: Hadats besar, dan hadats kecil. Hadats besar dihilangkan dengan mandi wajib sedangkan hadats kecil dihilangkan dengan berwudhu.

Adapun najis maka dihilangkan dengan mencucinya dengan air.

Hukum bersuci:

1- Pertama: Bersuci dari hadats. Selalu bersuci dari hadats hukumnya adalah sunnah kecuali ketika hendak melakukan amalan-amalan ibadah yang mana ‘bersuci’ adalah syarat dari sahnya ibadah tersebut seperti shalat, maka itu menjadi wajib. Rasulullah -shallallahu alaihi alaihi wa sallam- bersabda menganjurkan agar kita selalu menjaga wudhu:

ولن يحافظ على الوضوء إلا مؤمن

“Dan tidaklah ada yang selalu menjaga wudhunya kecuali orang yang beriman.” (HR. Ahmad No. 22378 dan dishahihkan oleh Syu’aib Al-Arna’uth)

Dan dalil dari wajibnya bersuci dari hadats ketika hendak melakukan shalat atau ibadah lain yang mana bersuci adalah syarat dari ibadah tersebut adalah sabda Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

لا يقبل الله صلاة أحدكم إذا أحدث حتى يتوضأ

“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang dari kalian jika dia berhadats sampai dia berwudhu dahulu” (HR. Bukhari No. 6954)

Sehingga kita disunnahkan untuk segera dan selalu berwudhu ketika telah buang angin, atau buang air kecil. Dan diwajibkan kita bersuci dari hadats ketika hendak shalat atau ketika hendak melakukan ibadah lain yan diwajibkan untuk bersuci terlebih dahulu.

2- Kedua: Bersuci dari najis. Adapun bersegera untuk bersuci dari benda-benda yang najis maka hukumnya adalah wajib ketika dia mampu dan ingat. Karena ini adalah perintah dari Allah untuk nabi Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana yang tertera dalam firmanNya:

 وثيابك فطهر

“Dan bajumu makan sucikanlah.” (QS. Al-Muddatssir: 4)

Diriwayatkan dari Ibnu Zaid -rahimahullah-, beliau berkata tentang ayat ini:

كان المشركون لا يتطهرون، فأمره أن يتطهر، ويطهِّر ثيابه

“Dahulu, orang-orang musyrik tidak bersuci, maka Allah memerintahkan nabiNya untuk selalu bersuci dan dan mensucikan pakaiannya.” (Tafsir At-Thabari: 23/12)

Al-Imam Ath-Athabari pun berkata dalam tafsir beliau:

وهذا القول الذي قاله ابن سيرين وابن زيد في ذلك أظهر معانيه

“Dan perkataan yang disebut oleh Ibnu Sirin dan dan Ibnu Zaid dalam hal ini adalah makna yang paling jelas.” (Tafsir Ath-Thabari 23/12)

Macam-Macam Najis:

Ada beberapa benda yang dihukumi sebagai najis dalam agama islam, dan hal itu sebagaimana yang dinyatakan oleh dalil-dalil syar’i. Diantaranya adalah:

1- Kotoran manusia baik tinjanya maupun air seni.

Dan hal ini sudah menjadi kesepakatan seluruh para ulama dan ijma’ mereka bahwa kotoran manusia adalah najis. Karena nabi -shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk membersihkan dari kotoran setelah buang air. Beliau bersabda:

إذا ذهب أحدكم إلى الغائط، فليذهب معه بثلاثة أحجار يستطيب بهن

“Jika salah seorang dari kalian pergi untuk buang air, maka dia harus membawa 3 batu agar dia membersihkan diri dengan batu-batu tersebut.”  (HR. Ahmad No. 25012 dinyatakan Shahih lighairih oleh Syu’aib Al-Arna’uth)

2- Madzi dan Wadi.

Pengertian madzi, wadi, dan mani.

Sebelum membahas ini, saya ingin menyebutkan apa itu madzi dan wadi serta mani. Karena ketiga hal ini adalah dzat yang berbeda. Dan hukumnya juga berbeda. Secara hukum, maka madzi dan wadi adalah najis dan ketika keluar maka wajib berwudhu. Berbeda dengan mani yang dia adalah suci dan tidak najis, namun jika keluar dia wajib mandi besar.

- Al-Madzi adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi -rahimahullah-:

والمذي ماء دقيق لزج يخرج عند شهوة لا بشهوة ولا دفق ولا يعقبه فتور وربما لا يحس بخروجه ويكون ذلك للرجل والمرأة وهو في النساء أكثر منه في الرجال

“Dan madzi adalah air yang bening dan kental, keluar ketika adanya syahwat namun tidak merasakan nikmat dan mucratan, dan tidak ada keletihan setelah keluar, dan terkadang tidak dirasakan bahwa dia telah keluar. Hal ini terjadi pada lelaki dan wanita namun pada wanita lebih sering dari pada lelaki.” (Syarh Shahih Muslim 3/213)

- Adapun mani maka berbeda dengan madzi, Imam An-Nawawi juga berkata:

مني الرجل في حال الصحة أبيض ثخين يتدفق في خروجه دفقة بعد دفقة ويخرج بشهوة ويتلذذ بخروجه وإذا خرج استعقب خروجه فتورا ورائحة كرائحة طلع النخل ورائحة الطلع قريبة من رائحة العجين

“Mani seseorang ketika sehat maka dia berwarna putih dan tebal, dan dia muncrat ketika keluar dengan beberapa muncratan, dan keluar dengan syahwat dan dia merasakan nikmat ketika mani keluar. Dan jika mani telah keluar maka setelahnya akan merasakan keletihan dan ada bau seperti bau pohon palm dan bau pohon palm seperti baunya adonan.” (Syarh Shahih Muslim 3/222)

- Kalau wadi maka sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al-Mawardi -rahimahullah-:

فأما الودي فهو كدر يخرج بعد البول قطرة أو قطرتين وهو نجس يوجب الوضوء دون الغسل كالمذي

“Dan adapun wadi maka dia keruh dan keluar setelah kencing dengan satu tetesan atau dua tetesan (tidak banyak). Dan dia adalah najis yang mewajibkan kita berwudhu namun tidak perlu mandi. Wadi seperti madzi.”

Dalil Kenajisan madzi dan wadi:

Madzi dan wadi adalah najis dan ini adalah ijma atau kesepakatan seluruh para ulama. Karena Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan agar kita mencuci madzi ataupun wadi ketika telah keluar.

Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu anhu- berkata:

كنت رجلا مذاء وكنت أستحيي أن أسأل النبي صلى الله عليه وسلم لمكان ابنته فأمرت المقداد بن الأسود فسأله فقال: يغسل ذكره ويتوضأ

“Aku adalah orang yang sering mengeluarkan madzi. Namun aku malu untuk bertanya kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- karena putri beliau adalah istriku. Maka aku perintahkan Miqdad bin Al-Aswad agar menanyakannya. Maka dia bertanya kepada Rasulullah. Maka beliau menjawab: ‘Dia harus mencuci kemaluannya dan berwudhu’.” (HR. Bukhari no. 132 dan Muslim no. 303)

Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- berkata:

المني والودي والمذي، أما المني: فهو الذي منه الغسل، وأما الودي والمذي فقال: اغسل ذكرك أو مذاكيرك وتوضأ وضوءك للصلاة

“Mani dan wadi serta madzi. Adapun mani: maka dia wajib mandi ketika keluar. Adapun wadi dan madzi, maka beliau berkata: ‘Cucilah dzakarmu dan berwudhulah sebagaimana engkau berwudhu ketika hendak shalat.” (HR. Baihaqi no. 800; hasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Aini)

3- Darah haid

Darah haid adalah najis. Dan hal ini karena Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan agar darah haid segera dicuci dan dibersihkan. Asma -radhiyallahu anha- berkata:

جاءت امرأة النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: أرأيت إحدانا تحيض في الثوب، كيف تصنع؟ قال: تحته، ثم تقرصه بالماء، وتنضحه، وتصلي فيه

“Ada seorang wanita datang kepada nabi -shallallahu alaihi wa sallam- seraya berkata: ‘Bagaimana jika salah seorang dari kami bajunya terkena darah haid, apa yang harus dia perbuat?’ Maka Rasulullah bersabda: “Dia kerik-kerik kemudian dia kucek-kucek menggunakan air, kemudian dia percikkan lagi dengan air. Kemudian dia boleh shalat dengan bajunya.” (HR. Bukhari no. 227 dan Muslim no. 291)

4- Kotoran hewan yang haram untuk dimakan

Hal ini sebagaimana yang ada pada hadits Ibnu Mas’ud. Beliau berkata:

أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يتبرز فقال: ائتني بثلاثة أحجار. فوجدت له حجرين وروثة حمار، فأمسك الحجرين وطرح الروثة، وقال: هي رجس

"Ketika itu Nabi shallallahu alaihi wa sallam hendak buang air. Maka beliau bersabda: 'Bawakah 3 batu untukku'. Maka aku mendapatkan 2 batu dan 1 kotoran keledai (kotoran keledai jinak yang sudang mengeras). Maka beliau ambil 2 batu dan membuang kotoran tersebut seraya berkata: 'Itu adalah najis'. (HR. Ibnu Khuzaimah No. 70; shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Aini)

Keledai jinak adalah suci namun dia haram untuk dimakan. Ketika dia haram dimakan, maka kotorannyapun menjadi najis.

5- Air liur anjing

Hal tersebut sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب، أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

“Wadah kalian menjadi suci jika dijilat oleh anjing ketika kalian mencucinya sebanyak 7 kali, pertamanya dengan tanah.” (HR. Muslim no. 279)

6- Babi

Allah ta’ala berfirman:

قل لا أجد في ما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا أو لحم خنزير فإنه رجس

“Katakanlah: ‘Aku tidak pernah mendapatkan dari apa yang diwahyukan kepadaku suatu hal yang haram untuk orang yang hendak memakannya kecuali dia adalah bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi. Sesungguhnya itu semua adalah najis.” (QS. Al-An’am: 145)

7- Bangkai (Mayyitah)

Bangkai yang dimaksud di sini adalah semua hewan yang mati tanpa disembelih dahulu. Maka itu semua termasuk bangkai atau mayyitah. Jadi walau seekor sapi mati dengan setruman listrik dan tidak disembelih, maka dia termasuk bangkai yang Allah haramkan dan itu menjadi najis.

Dalil kenajisan bangkai sudah kita sebutkan pada dalil yang sama mengenai kenajisan babi. Dan ada dalil lain yang menunjukkan bahwa bangkai adalah najis sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

إذا دبغ الإهاب فقد طهر

“Jika kulit bangkai telah disamak maka dia sudah menjadi suci.” (HR. Muslim no. 366)

Namun ada jenis bangkai yang tidak najis. Yaitu:

- Bangkai ikan, dan belalang. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-:

أحلت لنا ميتتان، ودمان. فأما الميتتان: فالحوت والجراد، وأما الدمان: فالكبد والطحال

“Dihalalkan untuk kita 2 bangkai dan 2 darah. Adapun 2 bangkai adalah bangkai ikan dan belalang. Adapun 2 darah maka hati dan limpa.” (HR. Ahmad no. 5723; hasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Syu’aib Al-Arnauth)

- Bangkai hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir. Seperti lalat, semut, atau lebah. Hal tersebut karena Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- telah bersabda:

إذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه ثم لينزعه، فإن في إحدى جناحيه داء والأخرى شفاء

“Jika seekor lalat jatuh ke dalam minuman kalian, maka hendaknya dia mencelupkan lalat tersebut kemudian dia buang lalat itu. Karena pada salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat penawarnya.” (HR. Bukhari no. 5782)

Seandainya bangkai lalat adalah najis, maka tentu Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- tidak akan mungkin memerintahkan untuk mencelupkan lalat.

- Tulang hewan yang sudah menjadi bangkai, atau tanduknya, atau bulunya. Hal tersebut sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Az-Zuhri (seorang tabi’in) -rahimahullah- mengenai tulang hwan yang sudah menjadi bangkai seperti gajah dan semisalnya:

أدركت ناسا من سلف العلماء، يمتشطون بها، ويدهنون فيها، لا يرون به بأسا

“Aku mendapati para ulama terdahulu (para sahabat), mereka bersisir dengannya dan meletakkan minyak di dalamnya, mereka menyatakan itu tidak mengapa.” (HR. Bukhari 1/56)

Insya Allah akan kita lanjutkan Serial Fikih ini  di waktu mendatang, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------
Ingin pahala jariyah? Mari berinfak untuk pengembangan dakwah Kajian Al-Amiry melalui rekening:

BNI Syariah: 0605588960 a.n Yayasan Kajian Al Amiry (Kode bank: 009)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

Posting Komentar

 
Top