0

- Pengertian Ilmu Waris / Faraidh:

Ada beberapa macam pengertian faraidh atau ilmu waris di sisi ulama namun semuanya merujuk kepada maksud yang sama. Dapat kita simpulkan bahwa pengertian faraidh atau ilmu waris adalah:

العلم بقمسة المواريث فقها وحسابا

“Ilmu yang berkaitan dengan pembagian harta warisan yang memiliki hubungan dengan fiqh dan perhitungan.” (Tashiil Al-Faraidh hal.9)

-Keutamaan belajar ilmu waris:

1- Diriwayatkan dari Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

 العلم ثلاثة، وما سوى ذلك فهو فضل: آية محكمة، أو سنة قائمة، أو فريضة عادلة

“Ilmu ada tiga. Dan selain itu maka adalah keutamaan lebih. Yaitu, ayat muhkamah, dan sunnah yang tegak, dan ilmu pembagian waris yang adil.” (HR. Abu Daud No. 2885; dhaif sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

2- Diriwayatkan pula dari Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

يا أبا هريرة، تعلموا الفرائض وعلموه، فإنه نصف العلم، وهو ينسى، وهو أول شيء ينزع من أمتي

“Wahai Abu Hurairah, belajarlah Faraidh (ilmu waris) sesungguhnya ilmu waris adalah setengahnya ilmu. Dan dia akan dilupakan. Dan dia juga yang pertama kali dicabut dari ummatku.” (HR. Ibnu Majah No.  2719; Dhaif sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Hadits-hadits yang berkaitan hal ini statusnya dhaif, namun memiliki beberapa jalan riwayat yang memberikan isyarat bahwa keutamaan belajar faraidh memiliki asal usulnya.  

- Hukum pembagian harta warisan:

Pembagian harta waris telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Quran Al-Karim dan Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- dalam hadits-hadits beliau. Dan pembagian ini hukumnya adalah wajib. Sebagaimana firman Allah Allah di akhir ayat tentang pembagian harta warisan:

فريضة من الله إن الله كان عليما حكيما

“Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 11)

Al-Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat ini:

هو فرض من الله حكم به وقضاه، والله عليم حكيم الذي يضع الأشياء في محالها، ويعطي كلا ما يستحقه بحسبه

“Dia adalah kewajiban dari Allah yang mana Allah berhukum dengannya dan memutuskannya. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana yang telah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan memberikan setiap orang apa yang berhak untuknya sesuai dengan takarnya” (Tafsir Ibn Katsir 2/29)

- Tema yang dibahas pada ilmu waris:

Dan tema yang dibahas pada ilmu faraidh atau ilmu waris adalah harta yang ditinggalkan oleh mayyit (orang yang sudah wafat) sehingga dapat diberikan kepada orang-orang yang berhak.

- Hak-hak yang berkaitan dengan harta peninggalan mayyit yang wajib dikeluarkan:

Pertama: Mengeluarkan harta peninggalan mayyit untuk penguburannya seperti untuk kebutuhan kain kafan, dsb.

Kedua: Hutang yang belum dibayar, baik hutang tersebut adalah hak Allah semisal kaffarah dll. Atau hutang hak manusia berupa hutang uang.

Ketiga: Hutang yang berkaitan dengan barang peninggalan mayyit berupa gadaian atau yang semisalnya.

Keempat: Wasiat. Dan wasiat diakhirkan setelah hutang. Karena hutang lebih wajib untuk ditunaikan sedangkan wasiat hanyalah tabbarru’ (berbuat baik) jika ada keluasan dalam harta. Dan itu juga sebagaimana yang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib -radhiyallahu anhu- beliau berkata:

 قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم بالدين قبل الوصية

“Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- memutuskan bahwa hutang didahulukan sebelum wasiat.” (HR. Ibnu Majah No. 2715; Hasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Kelima: Pembagian harta waris. Dan inilah yang akan kita bahas secara mendetail insya Allah.

- Rukun-rukun pembagian harta warisan:

1- Orang yang mewariskan hartanya seperti Mayyit (orang yang telah wafat) atau orang yang memiliki hukum sama dengan mayyit seperti orang yang telah lama hilang dan tak pernah ditemukan kembali. Disebut juga dengan muwarrits.

2- Orang yang memiliki hak dari harta warisan. Seperti orang yang masih hidup atau yang memiliki hukum sama dengan orang hidup yaitu janin. Disebut juga dengan waarits.

3- Apa yang ditinggalkan oleh mayyit berupa harta dsb. Ini disebut juga dengan mawruuts atau tarikah.

- Sebab-sebab terjadinya pembagian harta warisan:

1- Pernikahan. Sepasang suami istri jika telah melangsungkan akad nikah maka keduanya berhak mengambil jatah harta warisannya jika salah satu dari mereka telah wafat walau keduanya tidak pernah bersetubuh atau bersenggama.

Hal tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- dalam sebuah kejadian yang dialami oleh Birwa’ binti Waasyiq.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhu-:

أن رجلا تزوج امرأة فمات عنها، ولم يدخل بها ولم يفرض لها الصداق، فقال: لها الصداق كاملا، وعليها العدة، ولها الميراث

“Bahwasanya seseorang menikahi seorang wanita maka lelaki tersebut pun wafat. Dan dia belum bersenggama dengan istrinya dan juga belum menentukan maharnya. Maka Abdullah bin Umar mengatakan: ‘Wanita tersebut mendapatkan maharnya (seperti wanita lain di tempatnya), dan dia wajib menjalani masa iddah, dan dia juuga mendapatkan warisan.” (HR. Abu Daud No. 2114; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Ma’qil bin Sinan -radhiyallahu anhu- berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم: قضى به في بروع بنت واشق

“Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- memutuskan hal yang serupa pada Birwa’ binti Waasyiq”. (HR. Abu Daud No. 2114; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

2- Nasab atau kekerabatan. Yaitu hubungan di antara beberapa orang karena mereka memiliki hubungan kelahiran, baik yang dekat maupun jauh.

Dan nasab memiliki 3 macam:

A. Al-Ushul. Yaitu ayah, kakek, buyut, dan seterusnya hingga ke atas.

B. Al-Furu’. Yaitu anak, cucu, cicit, dan seterusnya hingga ke bawah.

C. Al-Hawasyi. Yaitu para saudara dan anak-anak mereka, dan para paman dan anak-anak mereka.

3- Al-Walaa’. Yaitu hak dari harta warisan karena telah membebasan budak. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

إن الولاء لمن أعتق

“Sesungguhnya walaa’ (harta warisan yang ditinggalkan budak)

Dan juga sebagaimana yang telah beliau sabdakan:

الولاء لحمة كلحمة النسب

“Walaa’ memiliki hubungan seperti hubungan nasab.” (HR. Ibnu Hibban No. 4950; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Hibban sendiri)

Sehingga seorang tuan yang membebaskan budaknya juga bisa mengambil harta yang ditinggal wafat oleh budaknya. Namun sebaliknya, seorang budak sama sekali tidak dapat mengambil harta yang ditinggal wafat oleh tuannya walau tuannya tersebut tidak memiliki satupun ahli waris.

- Penghalang pembagian harta warisan:

1- Perbudakan. Seorang budak tidak memiliki hak dari harta warisan. Karena seluruh harta seorang budak adalah milik majikannya. Seandainya seorang budak berhak mengambil warisan dari kerabatnya maka tentu harta tersebut secara otomatis akan berpindah kepada tuannya atau majikannya. Dan ini berarti sama saja memberikan hak kepada orang asing yang tidak memiliki kekerabatan nasab dan pernikahan untuk mengambil harta warisan dari orang lain. Dan ini adalah bathil dengan kesepakatan seluruh ulama.

Maka seorang budak tidak dapat mengambil warisan dari harta yang ditinggalkan oleh kerabatnya. Karena harta budak adalah milik majikannya sebagaimana sabda Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

من باع عبدا له مال فماله للبائع إلا أن يشترط المبتاع

“Barangsiapa yang menjual budaknya dan budak tersebut memiliki harta maka hartanya milik penjual (majikannya) kecuali jika pembeli memberikan syarat.” (HR. Ahmad No. 5541; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syu’aib Al-Arnaa’uth)

2- Pembunuhan yang tidak dibenarkan. Jika ada seorang yang membunuh kerabatnya maka dia tidak berhak untuk mendapatkan warisan. Hal tersebut karena Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

ليس للقاتل من الميراث شيء

“Pembunuh tidak memiliki hak dalam harta warisan sedikitpun.” (HR. Ad-Daaruquthni No. 4148; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Hal tersebut untuk menjaga agar tidak terjadi pembunuhan secara sengaja karena si pembunuh ingin segera mendapatkan harta warisan.

Namun bagaimana jika pembunuhan itu terjadi secara tidak sengaja, semisal seseorang ingin menembak seekor kambing namun malah mengenai keluarganya? Maka hal tersebut juga sama bahwa dia juga tidak memiliki hak dari harta warisan orang yang terbunuh. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi seorang pembunuh secara sengaja mengaku-ngaku bahwa dia membunuh tidak sengaja. Ini juga sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Umar bin Khattab -radhiyallahu anhu-, beliau berkata:

لا يرث القاتل خطأ ولا عمدا

“Orang yang membunuh secara salah (tidak sengaja) dan maupun yang membunuh secara sengaja tidak berhak mengambil warisan.” (HR. Ad-Daaruquthni No. 4212; Dha’if sebagaimana yang dinyatakan oleh  Dhiya’ Al-Maqdisi karena Sya’bi tidak pernah mendengar dari Umar)

Dan pembunuhan yang dibenarkan ketika membunuh di saat qishash, atau menegakkan hukuman hadd.

3- Perbedaan agama. Orang muslim tidak dapat mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak dapat mewarisi orang musli. Hal tersebut sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

لا يرث المسلم الكافر ولا الكافر المسلم

“Orang muslim tidak dapat warisan orang kafir dan orang kafir tidak dapat warisan muslim.” (HR. Bukhari No. 6764 dan Muslim No. 1614)

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------
Ingin pahala jariyah? Mari berinfak untuk pengembangan dakwah Kajian Al-Amiry melalui rekening:

BNI Syariah: 0605588960 a.n Yayasan Kajian Al Amiry (Kode bank: 009)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

Posting Komentar

 
Top