0

Adakah dalil larangan makan tulang dalam agama islam? Maka jawabnya adalah tidak ada. Justru seorang muslim diperbolehkan untuk memakan seluruh tulang dari hewan yang Allah halalkan. Dalilnya adalah sabda Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

لكم كل عظم ذكر اسم الله عليه

“Diperbolehkan bagi kalian untuk makan setiap tulang hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah” (HR. Muslim no. 450)

Yang tidak boleh adalah istinja’ menggunakan tulang sebagaimana sabda Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-:

لا تستنجوا بالروث، ولا بالعظام، فإنه زاد إخوانكم من الجن

“Janganlah kamu berinstinja dengan kotoran hewan dan tulang, sesungguhnya itu adalah makanan saudara kalian dari bangsa jin.” (HR. Tirmidzi no. 18; Shahih sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani)

Sehingga hukum makan tulang adalah halal, yang ada hanyalah larangan untuk beristinja menggunakan tulang saja. Siapa saja yang mengharamkan untuk makan tulang, maka hendaknya dia mendatangkan dalil dari Al-Quran maupun hadits yang shahih.

Ada beberapa hadits palsu yang dibuat-buat oleh syi’ah mengenai makan tulang. Dan ini adalah hadits maudhu’ dan palsu yang sama sekali tidak ada asal usulnya dari Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-.

Diantaranya adalah sebagaimana hadits palsu yang disebutkan oleh ulama syiah yang bernama Muhammad Baqir Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaar Al-Anwar:

شرار أمتي الذين يأكلون مخاخ العظام

“Seburuk-buruk ummatku adalah orang-orang yang makan tulang (sum-sum tulang)” (Bihaar Al-Anwaar 62/293)

Atau riwayat lain yang disebutkan oleh ulama Syiah yang bernama Al-Kulaini dalam kitabnya Al-Kaafi dari Ali bin Al-Husain:

لا تنهكوا العظام فإن فيها للجن نصيبا

“Janganlah kamu makan tulang sampai habis, karena pada tulang tersebut terdapat bagian untuk jin” (Al-Kaafi 6/322)

Dan kedua riwayat di atas tidak ada asal usulnya dari Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- dan ini hanyalah riwayat yang dipalsukan oleh Syi’ah rafidhah -la’natullah alaihim-.

Maka kita kembali kepada kaidah fiqh:

الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم

“Hukum asal dari segala sesuatu selain ibadah adalah mubah (boleh) sampai ada dalil yang menunjukkan akan keharamannya.” (Al-Asybah Wa An-Nadzaair hal. 60)

Ketika tidak ada dalil yang mengharamkan makan tulang, maka janganlah kita haramkan. Karena ini dilarang keras oleh Allah ta’ala:

ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون

“Dan janglah kamu mengatakan apa yang disebut oleh lisanmu berupa kedustaan bahwa ini halal dan ini haram dengan berbuat kedustaan atas nama Allah. Sesungguhnya yang berdusta atas nama Allah tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116)

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------
Ingin pahala jariyah? Mari berinfak untuk pengembangan dakwah Kajian Al-Amiry melalui rekening:

BNI Syariah: 0605588960 a.n Yayasan Kajian Al Amiry (Kode bank: 009)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

Posting Komentar

 
Top