0

Ketika seorang muslim diundang dalam sebuah acara atau event tertentu maka dia harus memperhatikan isi acara tersebut, apakah dihidangkan di dalamnya khamr (minuman keras) ataukah tidak? Karena sebagian acara tidak lagi memperhatikan adab dan etika baik dalam event yang diselenggarakan, terlebih mabuk-mabukan dengan meminum khamr bukanlah adat dari masyarakat Indonesia yang penuh dengan tata krama.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- mengancam keras orang yang tetap ingin hadir dalam jamuan yang dihidangkan di dalamnya khamr atau minuman keras. Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يقعد على مائدة يدار عليها الخمر

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia duduk di sebuah meja yang dihidangkan di atasnya khamr.” (HR. Baihaqi No. 7380 dan hadits ini dinyatakan jayyid oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani)

Khalifah Umar bin Abdil Aziz -rahimahullah- pernah mencambuk sebuah kaum yang minum khamr. Namun di antara mereka yang dihukum ada salah seorang yang berpuasa dan dia tidak ikut minum, dia hanya ikut duduk-duduk bersama mereka saja. Umar bin Abdil Aziz pun juga mencambuknya karena itu adalah perintah Allah dalam Al-Quran Al-Karim.

Urwah bin Hisyam -rahimahullah- bercerita:

أخذ عمر بن عبد العزيز قوما على شراب فضربهم، وفيهم صائم، فقالوا: إن هذا صائم! فتلا: إذا سمعتم آيات الله يكفر بها ويستهزأ بها فلا تقعدوا معهم حتى يخوضوا في حديث غيره إنكم إذا مثلهم

“Umar bin Abdil Aziz pernah menghukum sebuah kaum yang minum khamr maka Umar mencambuk mereka, dan diantara mereka yang dihukum terdapat orang yang berpuasa. Maka mereka berkata: ‘Sesungguhnya dia sedang berpuasa’. Maka Umar membaca ayat Allah: ‘Jika kamu mendengar ayat Allah diingkari dan diperolok, maka janganlah kamu duduk bersama mereka sampai mereka memasuki pembicaraan lain. Jika kamu berbuat demikian, maka kamu sama dengan mereka’ (QS. An-Nisa: 140)” (Tafsir Ath-Thabari 9/321)

Sehingga jika kita tidak ingin memiliki status yang sama dengan para pemabuk, maka janganlah kita duduk di acara yang sama dengan mereka sedangkan khamr dihidangkan.

Kemudian, bagaimana dengan seseorang yang bekerja dengan sebuah perusahaan namun perusahaan itu menyelenggarakan sebuah event yang dihidangkan di dalamnya khamr? Bagaimaimana dia menyikapi hal ini? Apakah dia wajib keluar dari kerjaannya?

Pertama: Orang ini wajib mengingkari apa yang terjadi dalam event tersebut dari dihidangkannya khamr. Seperti dia wajib keluar dari ruangan tersebut ketika mereka minum khamr, dan boleh baginya untuk masuk kembali ketika mereka telah selesai minum khamr.

Hal tersebut karena kita wajib mengingkari kemunkaran yang terjadi. Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- bersabda:

 من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa dari kalian yang melihat sebuah kemunkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Dan jika dia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika dia tidak mampu pula maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim No. 49)

Kedua: Apakah dia harus keluar dari pekerjaannya ataukah tidak? Jika dia mampu mengingkari kemunkaran yang terjadi, seperti dia tidak ikut duduk bersama mereka atau dia keluar dari ruangan tersebut atau dia menasihati para penyelenggara agar tidak menghidangkan khamr kembali, maka boleh baginya untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut, walau yang lebih afdhal baginya dan lebih baik adalah mencari pekerjaan yang lebih utama dalam kaca mata syariat terlebih jika kejadian ini sering terjadi dan terulang-ulang kembali.

Namun jika belum ada kerjaan lain yang lebih baik untuknya, maka boleh baginya untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut dengan syarat ketika ada khamr yang dihidangkan dalam sebuah acara atau event, maka dia wajib keluar dari ruangan tersebut guna  mengingkari hal yang munkar.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Ustadz Abdurrahman Al-Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al-Amiry)
----------
Ingin pahala jariyah? Mari berinfak untuk pengembangan dakwah Kajian Al-Amiry melalui rekening:

BNI Syariah: 0605588960 a.n Yayasan Kajian Al Amiry (Kode bank: 009)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.

Posting Komentar

 
Top