1

Ada sebuah riwayat dalam permasalahan ini, yakni hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِمُخَنَّثٍ قَدْ خَضَّبَ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ بِالْحِنَّاءِ  فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا بَالُ هَذَا؟» فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، يَتَشَبَّهُ بِالنِّسَاءِ، فَأَمَرَ بِهِ فَنُفِيَ إِلَى النَّقِيعِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا نَقْتُلُهُ؟ فَقَالَ: إِنِّي نُهِيتُ عَنْ قَتْلِ الْمُصَلِّينَ

“Bahwasanya nabi shallallahu alaihi wa sallam kedatangan seorang banci dan dia telah mewarnai kedua tangan dan kakinya dengan inai. Maka nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Kenapa dia seperti ini?” Maka dikatakan: “Wahai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dia sedang menyerupai para wanita. Maka beliau memerintahkan agar dia diasingkan ke Naqi’ (pinggiran madinah). Maka mereka berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah kita bunuh saja dia?”. Maka beliau menjawa: “Aku dilarang untuk membunuh orang-orang yang shalat” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Sehingga memakai inai adalah perbuatan yang meniru-niru kaum wanita. Sedangkan meniru-niru kaum wanita, hukumnya adalah haram dan Rasulullah melarang keras bahkan melaknat para pelakunya. Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang meniru kaum wanita. Dan beliau melaknat para wanita yang meniru para lelaki” (HR. Bukhari)

Sehingga memakai inai adalah haram bagi lelaki secara mutlak kecuali untuk pengobatan. Dan ini adalah pendapat yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i. Beliau rahimahullah berkata:

وَأَمَّا خَضْبُ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ فَلَا يَجُوزُ لِلرِّجَالِ إِلَّا فِي التَّدَاوِي

“Dan adapun memakai inai di kedua tangan dan kedua kaki, maka tidak boleh bagi lelaki kecuali dalam pengobatan” (10/355)

Begitupula juga haram memakai inai di tangan bagi lelaki ketika ingin di acara walimahan. Adapun hadits Abdurrahman bin Auf yang terdapat inai di tangannya ketika habis menikahi seorang wanita Anshar, maka Abdurrahman bin Auf tidaklah memakai ini tersebut. Namun itu hanyalah bekas dari istrinya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik:

أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِهِ أَثَرُ صُفْرَةٍ، فَسَأَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرَهُ أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنَ الأَنْصَارِ

“Bahwasanya Abdurrahman bin Auf datang kepada nabi shallallahu alaihi wa sallam dan pada tangannya terdapat bekas warna kuning-kuning. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menanyakannya. Maka Abdurrahman mengabarkan beliau bahwasanya Abdurrahman telah menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar” (HR. Bukhari)

Maka ini adalah bukan dalil akan kebolehan seorang lelaki memakai inai ketika walimahan, karena bekas warna kuning yang ada di tangan Abdurrahman bin Auf adalah bekas dari inai istri beliau sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shohih Muslim.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.



-----
Ingin pahala jariyah yang terus mengalir? Mari bergabung untuk menyebarkan dakwah sunnah dan dan islam yang murni bersama Kajian Al-Amiry. Kirim donasi anda ke salah satu rekening di bawah ini:

- Bank BCA No Rek 3000573069 a/n: Muhammad Abdurrahman
- Bank BNI No Rek 0360066890 a/n: Muhammad Abdurrahman

Donasi yang  diberikan akan digunakan untuk kelancaran dakwah kita bersama. Dan dukungan anda insya Allah akan semakin memperkuat dakwah sunnah di atas bumi Allah.

Nb: Mohon lakukan konfirmasi ke email: webkajianalamiry@gmail.com atau ke nomor 082282012864 jika bapak/ibu telah mengirimkan donasi.   

Poskan Komentar

  1. Bismillah.
    Ustadz, bolehkah laki2 memakai gelang dgn maksud yg lain (misal; gelang survival untuk tentara atau Tim SAR) dan tdk bermaksud menyerupai perempuan? adakah dalil shorih yg melarangnya??

    jazakallohu khoir

    BalasHapus

 
Top