0

Bukan sebuah hal yang aneh jika para imam-imam syi’ah berada di peringkat pertama untuk memberikan semangat agar para pengikuti mereka melakukan nikah mut’ah dengan para wanita sewaan. Bukan hanya itu, bahkan mereka juga berada di peringkat pertama sebagai pendeta pelaku mut’ah. Hal ini tidak ragu lagi, anak kecil berumur 4 tahun pun sudah digauli oleh imam besar syi’ah Khumaini walau dia hanya melakukan tafkhidz (menggesek-gesekkan farji di antara kedua paha perempuan). Silahkan baca kisahnya disini.

Namun bagaimana reaksi para imam syi’ah jika ada pengikut mereka yang ingin melakukan mut’ah dengan putri imam-imam syi’ah ? Apakah mereka ridha ataukah tidak ? Fitrah mereka tentu akan mengatakan “tidak”. Karena siapa yang ridha jika anaknya disewa dalam jangka 1 jam atau 1 hari, atau 1 minggu saja, dan diberi upah karena telah menyewakan kemaluan untuk lelaki berhidung belang.

Contohnya Imam Syi'ah yang bernama "Abul Qasim Al-Khu'i". Sayyid Husain Al-Musawi[1] bercerita mengenai imam Al-Khu’i yang tersentak ketika putrinya diminta agar dimut'ah:

جلست مرة عند الإمام الخوئي في مكتبه، فدخل علينا شابان يبدوا أنهما اختلفا في مسألة فاتفقا على سؤال الإمام الخوئي ليدلهما على الجواب

“Aku pada suatu ketika sedang duduk di sisi Imam Al-Khu’i di kantornya. Maka 2 orang pemuda masuk kepada kami dan terlihat mereka berdua sedang berselisih dalam sebuah permasalahan. Maka keduanya sepakat untuk bertanya kepada Imam Al-Khu’i untuk memberikan jawaban kepada keduanya.

فسأله أحدهما قائلاً: سيد ما تقول في المتعة أحلال هي أم حرام؟

“Maka salah seorang dari mereka bertanya: Wahai sayyid, apa pendapatmu mengenai nikah mut’ah? Apakah dia halal ataukah haram?”

نظر إليه الإمام الخوئي وقد أوجس من سؤاله أمراً ثم قال له: أين تسكن؟ قال الشاب السائل: أسكن الموصل وأقيم هنا في النجف منذ شهرين تقريباً

“Maka Imam Al-Khu’i memandangnya dan seakan-akan menangkap sesuatu dari pertanyaannya. Kemudian imam bertanya: “Dimana kamu tinggal ?” Maka pemuda yang bertanya tadi menjawab: “Saya tinggal di Mosul. Dan saya tinggal di sini di Najf sejak 2 bulan yang lalu”.

قال له الإمام: أنت سني إذن؟

“Imam bertanya kembali: “Kalau begitu kamu adalah seorang sunni?”

قال الشاب: نعم

“Pemuda menjawab: “Iya”.

قال الإمام: المتعة عندنا حلال وعندكم حرام

“Imam berkata: Mut’ah menurut kami halal namun menurut kalian adalah haram”.

فقال له الشاب: أنا هنا منذ شهرين تقريباً غريب في هذه الديار فهلا زوجتني ابنتك لأتمتع بها ريثما أعود إلى أهلي

“Maka pemuda berkata kepada imam: “Saya di sini sejak 2 bulan yang lalu kira-kira dan sendirian saja di rumah. Maka nikahkanlah aku dengan putrimu agar aku bisa nikah mut’ah dengannya sebelum aku kembali kepada keluargaku”.

فحملق فيه الإمام هنيهة ثم قال له: أنا سيد وهذا حرام على السادة وحلال عند عوام الشيعة

“Maka mata imam terbelalak kemudian berkata: Aku adalah sayyid dan menikahkan putrinya secara mut’ah adalah haram bagi sayyid namun boleh bagi awwam syiah”.

ونظر الشاب إلى السيد الخوئي وهو مبتسم ونظرته توحي أنه علم أن الخوئي قد عمل بالتقية.  ثم قاما فانصرفا، فاستأذنت الإمام الخوئي في الخروج فلحقت بالشابين فعلمت أن السائل سني وصاحبه شيعي اختلفا في المتعة أحلال أم حرام فاتفقا على سؤال المرجع الديني الإمام الخوئي

“Kemudian keduanya berdiri. Maka aku meminta izin kepada imam. Dan Pemuda tadi melihat kepada Sayyid Al-Khu’i dan dia tersenyum dan tahu bahwa Al-Khu’i sedang melakukan taqiyyah. Maka aku mengikuti 2 pemuda tadi, maka aku mengetahui bahwa penanya adalah seorang sunni dan kawannya adalah seorang syi’ah. Mereka berdua berselisih dalam permasalahan mut’ah, apakah dia halal ataukah haram. Maka keduanya sepakat untuk bertanya kepada marji’ Imam Al-Khu’i”.

فلما حادثت الشابين انفجر الشاب الشيعي قائلاً: يا مجرمين تبيحون لأنفسكم التمتع ببناتنا وتخبروننا بأنه حلال وأنكم تتقربون بذلك إلى الله، وتحرمون علينا التمتع ببناتكم

“Maka tatkala aku mengajak bicara kedua pemuda tadi, maka pemuda syi’ah marah sambil berkata: “Wahai orang-orang yang berdosa. Kalian membolehkan diri kalian untuk melakukan mut’ah dengan anak kami dan kalian katakan bahwa itu adalah halal dan kalian mendekatkan diri kepada Allah dengan itu, namun kalian malah mengharamkan kami untuk melakukan mut’ah dengan anak-anak kalian”.

وراح يسب ويشتم، وأقسم أنه سيتحول إلى مذهب أهل السنة

“Maka pemuda syi’ah tadi menghina, dan dia bersumpah untuk berpindah ke madzhab ahlussunnah”.

(Selesai kisah diambil dari kitab Lillah Tsumma Li At-Tarikh 1/38)


-----
Ingin pahala jariyah yang terus mengalir? Mari bergabung untuk menyebarkan dakwah sunnah dan dan islam yang murni bersama Kajian Al-Amiry. Kirim donasi anda ke salah satu rekening di bawah ini:

- Bank BCA No Rek 3000573069 a/n: Muhammad Abdurrahman
- Bank BNI No Rek 0360066890 a/n: Muhammad Abdurrahman

Donasi yang  diberikan akan digunakan untuk kelancaran dakwah kita bersama. Dan dukungan anda insya Allah akan semakin memperkuat dakwah sunnah di atas bumi Allah.

Nb: Mohon lakukan konfirmasi ke email: webkajianalamiry@gmail.com atau ke nomor 082282012864 jika bapak/ibu telah mengirimkan donasi.    



[1] Seorang ulama syi’ah namun sudah bertaubat dan ruju’ kepada ajaran sunni kemudian beliau menuliskan kesaksian-kesaksiannya mengenai keburukan-keburukan para pendeta syi’ah sebelum beliau dibunuh.

Poskan Komentar

 
Top