0

Pertanyaan: “Ustadz saya ingin bertanya tentang satu syubhat saya kepada syeikh Ibnu Taimiyah. Benarkah Ibnu Taimiyah seperti yang dituduhkan mengkafirkan Fakhruddin Ar-Razi dan mengatakan Ar-Razi Telah melakukan syirik, murtad, dan mengajak untuk menyembah berhala mohon penerangan ustadz saya rasa ustadz lebih banyak kenal kitab-kitab ibnu taimiyah mohon bisa dijawab. Terima kasih”. (Rasis Radia)

Jawaban: Mungkin pertanyaan akan dijawab dengan beberapa point.

1- Perlu diketahui, bahwa tidak semua orang yang melakukan kesyirikan lantas dikatakan dia adalah “musyrik”.  Dan begitu pula, tidak semua orang yang melakukan kekufuran lantas dikatakan “kafir”. Hal tersebut dimungkinkan karena hujjah belum tegak atasnya dan dia memiliki udzur yang menghalangi dirinya untuk dikatakan sebagai kafir.

Bahkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah sendiri berkata:

ثُمَّ مَنْ لَمْ تَقُمْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ بِمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ لَمْ يَكْفُرْ بِجَحْدِهِ

“Kemudian barang siapa yang belum tegak hujjah atasnya dengan nash-nash yang ada, maka dia tidaklah kafir dengan pengingkarannya” (Majmu’ Fatawa 5/254)

Ibnu Taimiyyah juga berkata:

وَأَمَّا مَنْ لَمْ تَقُمْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ مِثْلَ أَنْ يَكُونَ حَدِيثَ عَهْدٍ بِالْإِسْلَامِ أَوْ نَشَأَ بِبَادِيَةِ بَعِيدَةٍ لَمْ تَبْلُغْهُ فِيهَا شَرَائِعُ الْإِسْلَامِ وَنَحْوَ ذَلِكَ أَوْ غَلِطَ فَظَنَّ أَنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يُسْتَثْنَوْنَ مِنْ تَحْرِيمِ الْخَمْرِ كَمَا غَلِطَ فِي ذَلِكَ الَّذِينَ اسْتَتَابَهُمْ عُمَرُ. وَأَمْثَالُ ذَلِكَ فَإِنَّهُمْ يُسْتَتَابُونَ وَتُقَامُ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ فَإِنْ أَصَرُّوا كَفَرُوا حِينَئِذٍ وَلَا يُحْكَمُ بِكُفْرِهِمْ قَبْلَ ذَلِكَ

“Dan barangsiapa yang belum tegak atasnya hujjah, seperti orang yang baru masuk islam atau dia tumbuh besar di perkampungan yang jauh dan syariat islam belum masuk kedalamnya atau yang semisalnya atau dia melakukan kesalahan seperti dia mengira bahwasanya orang-orang yang beriman dan beramal shalih mereka dikecualikan dari keharaman khamr sebagaimana orang-orang yang dimintai untuk bertaubat oleh Umar juga melakukan kesalahan, maka orang-orang seperti mereka dimintai untuk bertaubat dan hujjah ditegakkan untuknya. Jika dia tetap seperti itu, maka baru dia kafir. Akan tetapi dia tidak dihukumi sebagai kafir sebelum dimintai untuk bertaubat dan ditegakkan hujjah atasnya” (Majmu’ Fatawa 7/610)

Jadi, orang yang dikatakan kafir maka sudah tegak hujjah atasnya dan tidak ada lagi udzur lagi baginya. Dan Ibnu Taimiyyah bukanlah orang yang mudah untuk mengkafirkan orang secara ta’yiin (individu) namun beliau menyatakan perbuatannya adalah kufur dan syirik tanpa menyatakan bahwa orangnya adalah kafir dan musyrik.

Bahkan Ibnu Taimiyyah sendiri berkata:

أَنِّي مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ نَهْيًا عَنْ أَنْ يُنْسَبَ مُعَيَّنٌ إلَى تَكْفِيرٍ وَتَفْسِيقٍ وَمَعْصِيَةٍ، إلَّا إذَا عُلِمَ أَنَّهُ قَدْ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ الرسالية الَّتِي مَنْ خَالَفَهَا كَانَ كَافِرًا تَارَةً وَفَاسِقًا أُخْرَى وَعَاصِيًا أُخْرَى وَإِنِّي أُقَرِّرُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ خَطَأَهَا: وَذَلِكَ يَعُمُّ الْخَطَأَ فِي الْمَسَائِلِ الْخَبَرِيَّةِ الْقَوْلِيَّةِ وَالْمَسَائِلِ الْعَمَلِيَّةِ

“Sesungguhnya aku adalah orang yang paling melarang jika seseorang secara individu dinisbatkan kepada kekufuran dan kefasikan dan kemaksiatan, kecuali jika telah diketahui bahwasanya hujjah telah tegak yang mana siapa saja orang yang menyilisihinya maka dia kafir atau fasiq atau pemaksiat. Dan aku menetapkan bahwasanya Allah telah mengampuni kesalahan ummat ini. Dan itu mencakup kesalahan yang berkaiatan dengan masail khobariyyah qouliyyah dan masail amalaiyyah” (Majmu’ fatawa 3/229)

Bahkan Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa beliau tidak pernah mengkafirkan orang secara individunya. Beliau berkata sebagaimana yang diceritakan oleh muridnya Adz-Dzahabi:

وكذا كان شيخنا ابن تيمية في أواخر أيامه يقول: أنا لا أكفر أحدا من الأمة، ويقول: قال النبي -صلى الله عليه وسلم: "لا يحافظ عى الوضوء إلا مؤمن"  فمن لازم الصلوات بوضوء فهو مسلم

“Dan begitulah syaikh kami Ibnu Taimiyyah di akhir hayatnya, dia berkata: “Saya tidak pernah mengkafirkan seseorang dari ummat ini”. Dan Ibnu Taimiyyah berkata: Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seseorang yang menjaga wudhunya kecuali dia adalah seorang mu’min. Maka barangsiapa yang konsisten shalat dengan wudhu maka dia adalah muslim” (Siyar A’lam Nubala 11/393)

2- Anggaplah Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwasanya Al-Fakhru Ar-Razi adalah kafir, namun tidaklah mutlak seperti itu sebagaimana yang dipahami oleh musuh-musuh dakwah dari kalangan pembenci Ibnu Taimiyyah. Itu hanyalah sebuah teks yang dipotong-potong tanpa kelanjutannya.

Bahkan Ibnu Taimiyyah sendiri menyatakan bahwasanya Al-Fakru Ar-Razi telah bertaubat dari kekufurannya dan bahkan Al-Fakhru Ar-Razi wafat diatas manhaj salaf manhaj yang lurus. Dan itu bukanlah celaan ataupun penistaan terhadap beliau bahkan itu adalah pujian. Karena kita tahu bahwasanya taubat adalah  ibadah yang sangat agung, karena tak dipungkiri bahwasanya manusia hanyalah seorang insan yang tak luput dari kesalahan baik kufur atau fasik atau kedzaliman,dll.

Dan orang yang telah bertaubat tidaklah ada dosa dan cela atasnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

“Dan orang yang bertaubat dari sebuah dosa, maka tidak ada dosa untuknya” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Sehingga jelas, bahwasanya Al-Fakhru Ar-Razi tidaklah tercela dengan taubat beliau. Ibnu Taimiyyah hanyalah menjelaskan keadaannya yang lalu dan sikap beliau sebelum bertaubat dan bukan untuk mencelanya karena kita tahu bahwa orang yang telah bertaubat tidaklah tercela.

Dan kita tahu, bahwasanya yang menjadi timbangan adalah akhir hayat Al-Fakhru Ar-Razi dan bukanlah ketika beliau hidup ketika beliau salah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amalan itu dianggap pada akhirnya” (HR. Bukhari)

Mari kita simak pernyataan Ibnu Taimiyyah sendiri tentang taubat beliau tanpa memotong perkataan beliau:

أَنَّ مِنْهُمْ مَنْ يُصَنِّفُ فِي دِينِ الْمُشْرِكِينَ وَالرِّدَّةِ عَنْ الْإِسْلَامِ كَمَا صَنَّفَ الرَّازِي كِتَابَهُ فِي عِبَادَةِ الْكَوَاكِبِ وَالْأَصْنَامِ وَأَقَامَ الْأَدِلَّةَ عَلَى حُسْنِ ذَلِكَ وَمَنْفَعَتِهِ وَرَغَّبَ فِيهِ وَهَذِهِ رِدَّةٌ عَنْ الْإِسْلَامِ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ وَإِنْ كَانَ قَدْ يَكُونُ تَابَ مِنْهُ وَعَادَ إلَى الْإِسْلَامِ

“Sesungguhnya ada dari mereka yang mengarang sebuah tulisan dalam membela agama kaum musyrikin dan dapat mengeluarkan dari islam. Sebagaimana Ar-Razi menulis kitabnya yang menganjurkan untuk beribadah kepada bintang-bintang dan patung-patung dan beliau memberikan dalil-dalil akan kebenaran hal itu dan manfaatnya dan beliau menganjurkannya. Hal ini mengeluarkan dari islam dengan kesepatakan kaum muslimin, namun pada akhirnya beliau bertaubat dan kembali kepada ajaran islam” (Majmu’ Fatawa 4/55)

Ini adalah nash yang jelas dari Ibnu Taimiyyah bahwasanya Ibnu Taimiyyah hanya menjelaskan mauqif (sikap) Al-Fakhur Razi sebelum beliau bertaubat untuk diambil pelajaran darinya dan bukan untuk mencela.

Kita tahu bersama bahwasanya Al-Fakhrur Razi pada akhirnya bertaubat dan kembali kepada manhaj salaf. Dan hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh beliau sendir dan sebagaimana yang dinukil oleh para ulama.

Al-Fakrur Razi bertaubat dari keyakinan yang dahulu seraya berkata:

يا ليتني لم أشتغل بعلم الكلام، وبكى

“Seandainya aku tidak menyibukkan diri dengan ilmu kalam (filsafat)”. Kemudian beliau menangis (Syadzarat Adz-Dzahab 7/41)

Ibnu Katsir rahimahullah juga menyebutkan:

وَقَدْ ذَكَرْتُ وَصِيَّتَهُ عِنْدَ مَوْتِهِ وَأَنَّهُ رجع عن مذهب الكلام فِيهَا إِلَى طَرِيقَةِ السَّلَفِ وَتَسْلِيمِ مَا وَرَدَ على وجه المراد اللائق بجلال الله سبحانه

“Dan aku mengingat wasiat beliau ketika beliau hendak wafat. Dan bahwasanya beliau kembali rujuk dari madzhab ilmu kalam menuju jalannya para salaf. Dan hanya menerima apa yang disebutkan dari nash-nash yang sesuai dengan kemuliaan Allah subhanah” (Al-Bidayah Wa An-Nihayah 13/67)

Sehingga jatuh pada kesimpulan: Bahwasanya Ibnu Taimiyyah tidaklah mengkafirkan Al-Fakru Ar-Razi. Walaupun Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa beliau adalah kafir, namun maksud beliau adalah kekufuran sebelum beliau bertaubat. Dan orang yang telah bertaubat tidaklah tercela dan hina. Sehingga yang diinginkan oleh Ibnu Taimiyyah hanyalah menjelaskan sikap dan penyimpangan dari tulisan Al-Fakru Ar-Razi sebelum beliau bertaubat.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.  


-----
Ingin pahala jariyah yang terus mengalir? Mari bergabung untuk menyebarkan dakwah sunnah dan dan islam yang murni bersama Kajian Al-Amiry. Kirim donasi anda ke salah satu rekening di bawah ini:

- Bank BCA No Rek 3000573069 a/n: Muhammad Abdurrahman
- Bank BNI No Rek 0360066890 a/n: Muhammad Abdurrahman

Donasi yang  diberikan akan digunakan untuk kelancaran dakwah kita bersama. Dan dukungan anda insya Allah akan semakin memperkuat dakwah sunnah di atas bumi Allah.

Nb: Mohon lakukan konfirmasi ke email: webkajianalamiry@gmail.com atau ke nomor 082282012864 jika bapak/ibu telah mengirimkan donasi.

Poskan Komentar

 
Top