1

Pertanyaan: “Semoga Allah memuliakan ustadz. Ana ingin bertanya tentang kelompok pengajian yang berfatwa bahwa hadits tentang waanita shalat di rumah itu adalah hadits dhoif. Benarkah demikian ustadz? Mohon penjelasan dalil yang rinci yang membantah fatwa mereka. Jazakallah khairan.

(Abu Zaid, anggota grup whatsapp Tanya & Jawab Kajian Al Amiry)

Jawaban:

Semoga Allah memberkahi bapak, Wanita boleh untuk shalat di masjid, namun yang lebih utama adalah agar seorang wanita shalat di rumahnya.

Dan hal tersebut secara langsung dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam haditsnya dan derajat haditsnya adalah shahih.

Mari kita simak riwayat hadits berkenaan dengan ini:

1- Riwayat yang pertama:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا الْعَوَّامُ بْنُ حَوْشَبٍ، حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ، وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Al-Awwam bin Hausyab, telah menceritakan kepada kami Habib bin Abi Tsabit, dari Ibnu Umar, beliau berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu melarang para wanita untuk berangkat ke masjid. Akan tetapi rumah para wanita lebih baik untuk diri mereka” (HR. Abu Daud)

Derajat Hadits:

Hadits ini adalah hadits “shahih” yang sangat agung. Dan para perawinya adalah para perawi tsiqaat.

Para perawi hadits:

1- Utsman bin Abi Syaibah: Abu Al-Hasan Utsman bin Muhammad bin Ibrahim bin Utsman bin Khawasti. Wafat pada tahun 239 H. Al-Baihaqi mengatakan: “Hujjah”. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan: “Shaduq”. Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Aku tidak mengetahui dari dirinya kecuali kebaikan”. Ibnu Hajar mengatakan: “Tsiqah hafidz, memiliki wahm”. Yahya bin Ma’in mengatakan: "Tsiqah".

Sehingga Utman bin Abi Syaibah adalah perawi tsiqah, maka diterima riwayatnya

2- Yazid bin Harun: Yazid bin Harun bin Zadzi bin Tsabit Al-Washiti. Wafat pada tahun 206 H.

Ibnu Abi Syaitha berkata tentangnya: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih kuat hapalannya dari pada dia”. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan:” Tsiqah Imam Shaduq”. Al-Hakim mengatakan: “Tsabt”. Ahmad bin Hambal mengatakan: “Hafidz Mutqin Li Al-Hadits”. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Tsiqah Mutqin”.  Ali bin Al-Madini mengatakan: “Termasuk orang-orang yang tsiqah”. Yahya bin Ma’in berkata: “Tsiqah”

Sehingga Yahya bin Harun adalah seorang tsiqah mutqin, maka diterima riwayatnya.

3- Awwam bin Hausyab: Awwam bin Hausyab bin Yazid bin Ruwaim bin Abdillah bin Sa’d bin Murrah bin Dzhul bin Syaiban bin Tsa’labah Asy-Syaibani.  Wafat pada tahun 148 H.

Abu Zur’ah Ar-Razi berkata tentangnya: “Tsiqah”.  Ahmad bin Hambal berkata: “Taiqah Tsiqah”. Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Tsiqah Tsabt Fadhil”. Yahya bin Ma’in: “Tsiqah”.

Sehingga Awwam bin Hausyab adalah perawi tsiqah tsabt, maka diterima riwayatnya.

4- Habib bin Abi Tsabit: Habib bin Qais bin Dinar. Seorang perawi yang tsiqah dan faqih.

Al-Baihaqi berkata tentangnya: “Termasuk para perawi yang tsiqah akan tetapi terkadang melakukan tadlis”. Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Shaduuq Tsiqah”. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Tsiqah Faqih yang mulia. Akan tetapi sering melakukan tadlis dan irsal”. Adz-Dzahabi mengatakan: “Tsiqah Mujatahid Faqih”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Tsiqah Hujjah”.

Sehingga Habib bin Abi Tsabit adalah perawi tsiqah faqih, maka diterima riwayatnya.

5- Ibnu Umar: Abdullah bin Umar bin Al-Khattab adalah sahabat nabi yang Mulia. Radhiyallahu anhu, semoga Allah meridhai beliau.

Kesimpulan:

Maka para perawi hadits ini adalah para perawi tsiqah. Dan haditsnya adalah hadits shahih, bukan dhaif sebagaimana yang disangka oleh sebagian kelompok yang telah disebutkan oleh penanya yang mulia.

Maka dari hadits ini, dapat diambil sebuah faidah, bahwasanya wanita boleh untuk shalat di masjid namun yang lebih utama bagi mereka adalah shalat di rumah mereka.

2- Riwayat yang kedua:

حَدَّثَنَا هَارُونُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ قَيْسٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سُوَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ عَمَّتِهِ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: " قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي "، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Telah menceritakan kepda kami Harun, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wah, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Daud bin Qais, dari Abdullah bin Suwaid Al-Anshari, dari bibinya Ummu Humaid istri Abu Humaid As-Sai’idi, bahwasanya dia mendatangi nabi shallallahu alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka untuk shalat bersamamu. Maka nabi bersabda: “Aku sudah mengetahui bahwasanya kami suka untuk shalat bersamaku. Tapi shalatmu di rumahmu itu lebih baik dari pada shalatmu di serambimu, dan shalatmu di serambimu lebih baik dari shalat shalatmu di bale rumahmu, shalatmu di bale rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kampungmu, dan shalatmu di masjid kampungmu lebih baik dari shalatmu di masjidku”. Maka dia (Ummu Humaid) memerintahkan untuk dibangun sebuah tempat shalat di paling ujung di rumahnya dan paling gelapnya, maka dibangunlah tempat shalat tersebut. Maka dia selalu shalat di tempat tersebut sampai berjumpa dengan Allah azza wa jalla (wafat)” HR. Ahmad

Derajat hadits:

Hadits ini adalah hadits shahih dan seluruh perawinya adalah tsiqah. Dan Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menshahihkan hadits ini.

Para perawi hadits:

1- Harun bin Ma’ruf Al-Marwazi, wafat tahun 231 H, adalah seorang yang tsiqah.

Abu Hatim Ar-Razi, Abu Zur’ah Ar-Razi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Tsiqah”. Adz-Dzahabi mengataka: “Tsiqah Khair”.

2- Abdullah bin Wahb Al-Qurasy, wafat tahun 197 H.

Ibnu Abi Hatim Ar-Razi mengatakan tentangnya: “Shalih Al-Hadits Shaduq”. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Tsiqah Hafidz Abid Faqiih”. Adh-Dharuqutni mengatakan: “Tsiqah”. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Aku berharap dia adalah orang yang shaduq”

3- Daud bin Qaisy Al-Qurasy, adalah perawi yang tsiqah.

Abu Hatim Ar-Razi, Abu Zur’ah Ar-Razi, Ahmad bin Hanbal, An-Nasa’i mengatakan tentangnya: “Tsiqah”.

4- Abdullah bin Suwaid Al-Anshari adalah seorang shabat nabi shallallahu alaihi wa sallam dan ini dinyatakan oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Razi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Imam Bukhari.

5- Ummu Humaid As-Saidiyyah adalah seorang wanita dari sahabat nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Kesimpulan:

Sehingga yang lebih utama bagi seorang wanita adalah shalat di rumahnya walaupun para wanita juga boleh untuk shalat di masjid.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad. 


-----
Ingin pahala jariyah yang terus mengalir? Mari bergabung untuk menyebarkan dakwah sunnah dan dan islam yang murni bersama Kajian Al-Amiry. Kirim donasi anda ke salah satu rekening di bawah ini:

- Bank BCA No Rek 3000573069 a/n: Muhammad Abdurrahman
- Bank BNI No Rek 0360066890 a/n: Muhammad Abdurrahman

Donasi yang  diberikan akan digunakan untuk kelancaran dakwah kita bersama. Dan dukungan anda insya Allah akan semakin memperkuat dakwah sunnah di atas bumi Allah.

Nb: Mohon lakukan konfirmasi ke email: webkajianalamiry@gmail.com atau ke nomor 082282012864 jika bapak/ibu telah mengirimkan donasi.

Poskan Komentar

  1. Subhanallah, terima kasih ilmunya semoga Ustadz senantiasa diberikan kemudahan dalam mencari ilmu untuk diberikan kepada kami dan sebagai amal jariyah di akhirat kelak

    BalasHapus

 
Top