3

Nasihat syaikh Wahid Abdussalam Bali hafidzahullah: “Ketika engkau ingin berdakwah dan akan duduk di sebuah majlis, maka tidak perlu engkau menunggu pujian manusia atau celaan mereka. Maka orang yang memujimu pada hari ini, bisa jadi akan menghinamu besok. Dan orang yang mencelamu pada hari ini, bisa jadi akan memujimu besok”.
___

Kisah:

Dahulu ada seorang pemuda yang datang kepada syaikh Wahid Bali. Kemudian pemuda ini berkata:

“Syaikh, ada seseorang yang mencelamu dan berkata: Wahid adalah orang yang bodoh”.

Maka syaikh Wahid Bali menjawab:

“Apakah kamu tidak tahu, bahwa aku adalah orang yang jahil?” 

Pemuda tadi menjawab:

“Ya syaikh, engkau adalah guru kami....”

Syaikh langsung memotong dan berkata:

ولكنني جاهل وأنا أقر لك الآن وأعترف أن ما أجهله من دين الله أكثر مما أعلمه. صدق الرجل ولم يكذب

“Akan tetapi aku adalah orang yang jahil. Dan aku akui kepadamu dan aku tetapkan bahwasanya apa yang tidak aku ketahui tentang agama Allah, itu lebih banyak dari pada apa yang aku ketahui. Maka orang yang mencelaku telah jujur dan dia tidak berdusta”.

(Selesai)

Lihat, bagaimana seorang ulama ketika dicela. Beliau begitu tawadhu’ dan tidak membela dirinya. Dan bahkan beliau tidak marah dan lain-lainnya. Dan bahkan beliau mengaku bahwa beliau adalah orang yang jahil. Begitulah tawadhu dan kerendahan hati para ulama kita.

Hal tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Malik bin Dinar rahimahullah. Betapa tawadhunya Malik bin Dinar ketika dicela.

Suatu saat Malik bin Dinar rahimahullah sedang berjalan dengan para murid-muridnya. Dan beliau adalah seorang ulama yang sangat rajin beribadah dan sangat zuhud. Dalam keadaan seperti ini, seorang wanita mencela beliau seraya berkata:

يا مالك أنت مرائي

“Wahai Malik, engkau adalah orang yang riya”.

Maka Malik bin Dinar hanya menjawab:

ما عرفني غيرك

“Benar, hanya engkau yang mengetahui diriku”. (Ihya 3/171)

Malik bin Dinar tidak membela dirinya. Malik bin Dinar tidak berkata “Apa bukti bahwasanya aku adalah orang yang riya?”. Begitulah ketawadhuan para ulama ketika dicela.

Maka ketika berdakwah,  kita tidak perlu terlalu memikirkan celaan dan pujian dari manusia. Cukup niat dari kita berdakwah adalah keridhaan dari Allah ta’ala.

Semoga kisah ini bermanfaat. Dan insya Allah ada cerita lain yang akan kita tulis mengenai tawadhu’nya syaikh Wahid Abdussalam Bali. Silahkan disimak di waktu mendatang.

Kisah ini kami ambil dari salah satu kajian beliau.

Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad. 


-----
Ingin pahala jariyah yang terus mengalir? Mari bergabung untuk menyebarkan dakwah sunnah dan dan islam yang murni bersama Kajian Al-Amiry. Kirim donasi anda ke salah satu rekening di bawah ini:

- Bank BCA No Rek 3000573069 a/n: Muhammad Abdurrahman
- Bank BNI No Rek 0360066890 a/n: Muhammad Abdurrahman

Donasi yang  diberikan akan digunakan untuk kelancaran dakwah kita bersama. Dan dukungan anda insya Allah akan semakin memperkuat dakwah sunnah di atas bumi Allah.

Nb: Mohon lakukan konfirmasi ke email: webkajianalamiry@gmail.com atau ke nomor 082282012864 jika bapak/ibu telah mengirimkan donasi.

Poskan Komentar

  1. Maa syaa Allah begitu mulianya akhlak ulama. Tapi memang kadang ketika menghadapi celaan,godaan nafsu untuk membalas dengan celaan sangat tinggi. Semoga kita bisa berbuat yang lebih baik

    BalasHapus
  2. Sayan g ulama sunnah salaf mesir


    BalasHapus

 
Top