0

Permasalahan ini akan selalu berulang setiap tahunnya. Dan permasalahan ini sangat penting untuk dibahas.

Memang terjadi perselisihan diantara para ulama dalam masalah hal ini. Namun yang rajih dan paling benar adalah bahwa wanita yang hamil atau menuyusui jika dia tidak mampu untuk berpuasa atau dia takut atas janinnya maka dia mengqadha puasa dan bukan membayar fidyah.

Hal tersebut karena wanita yang hamil dan menyusui memiliki hukum orang yang sakit karena dia tidak mampu untuk berpuasa ketika dia hamil dan menyusui, sehingga dia akan mengqadha puasa sebagaimana orang sakit akan mengqadha.

Allah ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa yang sakit dan sedang melakukan safar maka hendaklah dia mengganti puasanya di hari yang lain” (QS. Al-Baqarah: 184)

Orang yang hamil diqiyaskan kepada orang yang sakit sehingga mereka mengqadha puasa sebagaimana orang yang sakit mengaqadha dan bukan membayar fidyah.

Lantas, bagaimana dengan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwasanya orang yang hamil dan menyusui membayar fidyah dan bukan qadha puasa? Beliau berkata:

أَنْتِ بِمَنْزِلَةِ الَّتِي لا تُطِيقُهُ فَعَلَيْكِ الْفِدَاءُ، ولاَ قَضَاءَ عَلَيْكِ

“Sesungguhnya kedudukanmu seperti kedudukan yang sama sekali tidak mampu untuk puasa, maka wajib bagimu untuk membayar fidyah dan tidak ada qadha bagimu” (HR. Al-Bazzar)

Jawab: Mengqiyaskan wanita hamil dan menyusui dengan orang tua yang sama sekali tidak bisa puasa adalah qiyas yang kurang tepat. Karena wanita yang hamil mampu untuk berpuasa setelah dia melahirkan, sehingga ketidak mampuan wanita hamil untuk berpuasa hanyalah bersifat sementara. Adapun orang tua renta yang tidak bisa berpuasa sama sekali, dia adalah bersifat permanen. Itulah yang dijawab oleh syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam kitab beliau Asy-Syarhu Al-Mumti’ 6/324-325.

Al-Hasan dan Ibrahim berkata:

فِي المُرْضِعِ أَوِ الحَامِلِ، إِذَا خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَوْ وَلَدِهِمَا تُفْطِرَانِ ثُمَّ تَقْضِيَانِ، وَأَمَّا الشَّيْخُ الكَبِيرُ إِذَا لَمْ يُطِقِ الصِّيَامَ فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ، كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، خُبْزًا وَلَحْمًا، وَأَفْطَرَ

“Wanita yang menyusui dan wanita yang hamil, jika mereka takut akan dirinya atau anaknya, maka mereka berdua boleh untuk berbuka puasa dan mengqadha puasanya. Adapun orang tua renta yang tidak mampu untuk berpuasa maka Anas bin Malik telah membayar  fidyah dengan memberikan makanan 1 orang misikin untuk setiap hari dengan roti atau daging dan dia tidak puasa” (HR. Bukhari)

Sehingga inilah pendapat yang benar dari pendapat yang ada.

Syaikh Ibn Baaz rahimahullah ditanya:

هل يباح الفطر للمرأة الحامل والمرضع وهل يجب عليهما القضاء أم هناك كفارة عن فطرهما؟

“Apakah diperbolehkan untuk wanita yang hamil atau menyusui untuk tidak puasa? Dan apakah wajib baginya qadha? Atau ada kaffarah karena dia tidak berpuasa”

Beliau menjawab:

الحامل والمرضع حكمهما حكم المريض، إذا شق عليهما الصوم شرع لهما الفطر، وعليهما القضاء عند القدرة على ذلك، كالمريض، وذهب بعض أهل العلم إلى أنه يكفيهما الإطعام عن كل يوم: إطعام مسكين، وهو قول ضعيف مرجوح، والصواب أن عليهما القضاء كالمسافر والمريض؛ لقول الله عز وجل: {فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ}  وقد دل على ذلك أيضا حديث أنس بن مالك الكعبي: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «إن الله وضع عن المسافر الصوم وشطر الصلاة، وعن الحبلى والمرضع الصوم

“Orang yang hamil dan menyusui memiliki hukum sebagaimana hukumnya orang yang sakit. Jika keduanya merasa berat untuk berpuasa maka disyariatkan bagi keduanya untuk tidak berpuasa. Dan kewajiban keduanya untuk mengqadha puasa ketika sudah mampu sebagaimana halnya orang yang sakit. Dan sebagian ahli ilmu berpendapat bahwasanya cukup bagi keduanya untuk memberikan makan 1 orang miskin pada tiap harinya, akan tetapi ini adalah pendapat yang lemah dan marjuh. Dan yang benar, bahawasanya dia mengqadha puasa seperti orang yang safar dan orang sakit. Karena firman Allah azza wa jalla (Barang siapa yang sakit dan melakukan safar maka hendaklah dia menggantikan puasanya di hari yang lain) [QS. Al-Baqarah: 184] dan hal ini juga memiliki dalil yakni hadits Anas bin Malik Al-Ka’bi bahwasanya Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda: (Sesungguhnya Allah menjatuhkan dari orang yang musafir setengah shalat (dengan syariat qashar shalat) dan Allah menjatuhkan kewajiban berpuasa dari musafir. Dan begitu pula Allah menjatuhkan kewajiban berpuasa dari orang yang hamil dan menyusui” (Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz 15/225)

Dan syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah juga berkata:

وهذا القول أرجح الأقوال عندي ، لأن غاية ما يكون أنهما كالمريض والمسافر فيلزمهما القضاء فقط

“Dan perkataan ini adalah perkataan yang lebih rajih (lebih benar) menurutku. Karena hasil akhir bahwasanya wanita yang hamil dan menyusui seperti orang yang sakit dan musafir, maka diwajibkan atas keduanya untuk mengqadha puasa saja” (Asy-Syarhu Al-Mumti’ 6/350)

Dan Lajnah Daimah (komite fatwa) memberikan fatwa:

إن خافت الحامل على نفسها أو جنينها من الصوم أفطرت وعليها القضاء فقط، شأنها في ذلك شأن المريض الذي لا يقوى على الصوم، أو يخشى منه على نفسه، قال الله تعالى: وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Jika wanita yang hamil takut atas dirinya atau janinnya jikalau berpuasa, maka diperbolehkan baginya untuk berbuka dan wajib atasnya untuk mengqadha shalat. Perkara wanita yang hamil seperti orang yang sakit yang tidak mampu untuk berpuasa, atau dia takut akan dirinya jika berpuasa. Allah ta’ala berfirman: (Dan barangsiapa yang sakit dan sedang melakukan safar maka hendaklah dia menggantikan puasanya di hari yang lain” (Fatawa Lajnah Daimah 10/219)

Maka yang benar adalah wanita yang hamil dan menyusui cukup mengqadha puasa saja dan bukan membayar fidyah.

Allahu a’lam, semoga bermanfaat.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikelalamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @ma_alamiry  

Poskan Komentar

 
Top