0

Rasulullah dari zaman dahulu sudah memberitahukan kepada ummatnya bagaimana cara penentuan masuknya bulan Ramadhan. Sehingga, jika ditanyakan bagaimana menentukan bulan Ramadhan? Maka sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah memberitahukannya dari dahulu kala kepada ummatnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk melakukan ru’yah (melihat) hilal Ramadhan dan beliau sama sekali tidak pernah melakukan hisab. Bahkan dalam sebuah sabdanya, beliau menyatakan bahwasanya beliau tidak mengerti bagaimana hisab.

Rasulullah bersabda memerintahkan ummatnya untuk melakukan ru’yah:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Jika kamu melihat hilal maka puasalah, dan jika kamu melihat hilal maka lakukanlah idul fitri, dan apabila kamu terhalangi dari melihat hilal maka ukurlah”HR Bukhari Muslim

Maksud ukurlah pada sabda beliau di atas adalah: Sempurnakanlah bilangan hari satu bulan menjadi 30 hari. Hal tersebut kita ketahui melalui sabda beliau dalam riwayat lain,

الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلاَثِينَ

“Satu bulan berjumlah 29 malam, maka janganlah kamuu berpuasa sampai kamu melihat hilal, dan jika kamu tertutupi dari melihatnya maka sempurnakanlah bilangan satu bulan menjadi 30 malam” HR Bukhari

Bahkan dalam sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  menyatakan bahwasanya beliau tidak mengerti hisab. Beliau bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا» يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ، وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ

“Kami adalah ummat ummi, tidak menulis dan tidak melakukan hisab. Bulan adalah seperti ini dan seperti ini” Yakni: terkadang 29 hari dan terkadang 30” HR Bukhari Muslim

Ini  adalah penjelasan yang sangat gamblang dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau tidak pernah melakukan hisab dalam masalah ini. Maka dari itu, telah terjadi ijma’ ulama bahwasanya penetapan bulan ramadhan dengan ru’yah bukan dengan hisab, sebagaimana yang dinukil oleh para ulama diantaranya Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul baari. Dan dalam shohih fiqh sunnah disebutkan:

و قد أجمع المسلمون بذالك عليه, و لا يعرف فيه خلاف قديم أصلاً و لا خلاف حديث إلا عن بعض المتأخرين من المتفقهة الحادثين

“Dan kaum muslimin telah berijma’ atas perkara tersebut (penentuan dengan ru’yah), dan tidak diketahui adanya perselisihan ulama dahulu maupun perselisan yang baru kecuali dari para muta’akkhirin dari fuqaha’ yang baru” (Shohih Fiqh Sunnah 2/82)

Dan melakukan hisab adalah pendapat yang syaadz (menyeleneh, menyelisihi pendapat kebanyakan ulama yang lebih kuat dan yang lebih banyak).

و هذا شاذ مسبوق بالإجماع على خلافه

“Dan hisab adalah pendapat yang syaadz yang telah didahului oleh ijma’ ulama karena hisab telah menyelisihi ijma’” (Shohih Fiqh Sunnah 2/82)

=> Mengikuti ormas atau pemerintah?

Pada pembahasan ini juga, mana yang harus kita ikuti? Ormas ataukah pemerintah?

Yang perlu diketahui adalah

Pertama: Pemerintah dalam masalah penetapan bulan Ramadhan sudah sesuai dengan sunnah nabi, karena pemerintah melakukan ru’yah dan bukan dengan hisab maka ikutilah yang sesuai sunnah Rasulullah.

Kedua: Rasulullah bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Puasa adalah hari dimana kalian (manusia) berpuasa, dan idul fitri adalah hari dimana kalian melakukan idul fitri, dan idul adha adalah hari dimana kalian melakukan idul adha” (HR Tirmidzi dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)

Disni disebutkan, bahwasanya hari puasa adalah dimana orang-orang sedang melakukan puasa, pertanyaannya siapakah yang dapat menyatukan manusia berpuasa pada satu hari secara berbarengan?? Maka jawabannya adalah pemerintah. Mengapa demikian? Karena Allah dan RasulNya memerintahkan kita untuk menta’ati pemerintah. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan RasulNya dan ulil amri (pemerintah) kalian” QS An Nisa: 59

Dan Rasulullah bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

“Aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengarkan dan mentaati pemerintah walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak” HR Baihaqi

Dalam hadits diatas sudah sangat jelas, bahwasanya kita harus mentaati pemerintah terutama pemerintah dalam masalah ini yang berada diatas Al Haq.

Allahu a’lam, semoga yang sedikit ini bermanfaat.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikelalamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @ma_alamiry  

Poskan Komentar

 
Top