0

Dalam sebuah artikel yang dipublikasi oleh ngaji.web.id dengan judul “Dalil Bolehnya Tarawih Super Ngebut Walau Tanpa Thuma'ninah” memiliki banyak keganjalan dalam pemaparan hal tersebut. Dan insya Allah pada kesempatan ini kita akan membahasnya.

1- Judul dan isi artikel sama sekali tidak nyambung. Judul artikel adalah “Dalil Bolehnya Tarawih Super Ngebut Walau Tanpa Thuma'ninah”, ternyata isi artikel tersebut sama sekali tidak ada dalilnya mengenai kebolehan shalat tanpa tuma’ninah, yang ada hanya perkataan ulama saja.

Dalil itu adalah firman Allah, sabda Rasulullah, perkataan para sahabat, dan ijma’ serta qiyas. Adapun perkataan ulama maka sama sekali itu bukanlah dalil.

أقوال العلماء لا يستدل بها وإنما يستدل لها

“Perkataan para ulama bukanlah dalil, melainkan perkataan para membutuhkan dalil”

Mengapa demikian? Karena para ulama hanyalah mujtahid dan bukan yang membuat syariat. Sehingga ulama itu bukanlah dalil karena bisa salah dan bisa benar.

العلماء مجتهدون لا مشرعون

“Ulama itu hanyalah mujtahid (bisa salah dan bisa benar) dan bukan yang membuat syariat ”

Hal tersebut sebagaimana yang dinyatakan dengan tegas sendiri oleh para imam, seperti imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad.

Abu Hanifah rahimahullah berkata:

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ؛ ما لم يعلم من أين أخذناه

“Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil perkataan kami sedangkan dia tidak tahu dimana kami mengambilnya” (Al-Intifa’ Fii Fadhail Ats-Tsalatsah Al-Aimmah Al-Fuqaha hal. 145)

Imam Malik rahimahullah berkata:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب ، فانظروا في رأيي ؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة ؛ فخذوه ، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة ؛ فاتركوه

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, aku bisa salah dan aku bisa benar. Maka lihatlah seluruh pendapatku. Maka apa saja yang sesuai dengan Al-Quran dan sunnah maka ambillah, dan apa saja yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan sunnah maka tinggalkanlah”  (Al-Jami’ 2/32)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ فقولوا بسنة رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَدَعُوا ما قلت

“Jika kalian mendapati dalam kitabku yang menyelesihi sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ambillah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan tinggalkanlah perkataanku”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

لا تقلدني ، ولا تقلد مالكاً ، ولا الشافعي ، ولا الأوزاعي ، ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا

“Jangan ikuti aku, dan jangan pula ikuti imam malik, maupun imam syafi’i, maupun imam ats-tsauri, akan tetapi ambillah dari mana mereka mengambil (Al-Quran dan sunnah)” (Al-I’lam 2/302)

Dari pemaparan diatas, sangat jelas bahwasanya para ulama terkhususnya para imam 4 menyatakan bahwasanya mereka bukanlah dalil. Kalau mereka salah, maka harus ditinggalkan. Kalau mereka menyelihi dalil dari Al-Quran dan hadits maka kita wajib meninggalkan perkataan mereka dan wajib mengikuti dalil. Dan intinya kita haus mengambil dari Al-Quran dan hadits.

2- Ternyata dalam bab permasalahan ini, nash yang ada dari nabi shallallahu alaihi wa sallam dan sahabat beliau adalah shalat seseorang tanpa tuma’ninah tidaklah sah. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ المَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَصَلَّى، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَدَّ وَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ»، فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ثَلاَثًا، فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ، فَعَلِّمْنِي، فَقَالَ: «إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masuk kedalam masjid dan kemudian seseorang juga masuk kedalam masjid, maka orang tersebut shalat. Ketika selesai shalat, orang ini memberi salam kepada nabi dan nabi membalasnya, kemudian nabi bersabda: “Ulangilah shalatmu, sesungguhnya kamu belum shalat (shalatmu tidak sah)”. Kemudian orang tadi kembali dan melakukan shalatnya. Kemudian dia mendatangi nabi dan memberi salam. Kemudian nabi berkata: “Ulangilah shalatmu, sesungguhnya kamu belum shalat”. Hal tersebut terulang 3 kali. Maka orang tadi berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa memperbaiki shalatku selain seperti ini, maka ajarilah aku.” Maka nabi bersabda: “ Jika kamu tegak ingin melaksanakan shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah Apa yang mudah bagimu dari Al-Quran, kemudian rukuklah sampai engkau tuma’ninah dalam keadaan ruku’. Kemudian tegaklah sampai kamu lurus berdiri. Kemudian sujudlah sampai kamu tu,a’ninah dalam keadaan sujud. Kemudian angkatlah badanmu sampai engkau tuma’ninah dalam keadaan duduk, dan lakukanlah hal tersebut dalam seluruh shalatmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, nabi saja menyuruh orang untuk mengulangi shalatnya yang tidak tuma’ninah karena hal shalatnya tidak sah.  

Inilah yang namanya dalil, bahkan dalil yang sangat jelas dari nabi dalam perkara yang sedang diperbincangkan.

Begitu pula dalil lain dari perkataan salah seorang sahabat yakni Hudzaifah radhiyallahu anhu akan batalnya orang yang tidak tuma’ninah dalam keadaan sujud dan ruku serta tidak menyempurnakan keduanya, Zaid bin Wahb berkata:

رَأَى حُذَيْفَةُ رَجُلًا لَا يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ، قَالَ: «مَا صَلَّيْتَ وَلَوْ مُتَّ مُتَّ عَلَى غَيْرِ الفِطْرَةِ الَّتِي فَطَرَ اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا

“Hudzaifah melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud. Maka dia berkata: “Engkau belum melakukan shalat (shalatmu tidak sah), seandainya engkau mati maka engkau mati menyelisihi fitrah yang Allah fitrahkan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam” (HR. Bukhari)

2 riwayat ini adalah dalil yang menjadi hujjah dalam perkara yang diperbincangkan.

Adapun sang penulis yang saat ini sedang kami kritik, maka dia sama sekali tidak membawakan dalil dari nabi shallallahu alaihi wa sallam.

=> Adapun perkataannya bahwa “Imam Malik menganggap bahwasanya tuma’ninah hanyalah sunnah”. Maka kita jawab:

Adakah dalilnya dari nabi? Justru yang ada bahwasanya Tuma’ninah adalah rukun shalat yang harus dilakukan oleh seorang hamba. Dan itu ada nashnya langsung dari nabi.

Kalau begitu, maka seharusnya sang penulis mengambil nasihat Imam Malik yang kami paparkan pada point pertama:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب ، فانظروا في رأيي ؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة ؛ فخذوه ، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة ؛ فاتركوه

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, aku bisa salah dan aku bisa benar. Maka lihatlah seluruh pendapatku. Maka apa saja yang sesuai dengan Al-Quran dan sunnah maka ambillah, dan apa saja yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan sunnah maka tinggalkanlah”  (Al-Jami’ 2/32)

Karena telah terbukti, bahwasanya pendapat Imam Malik menyelisihi sunnah nabi, maka laksanakanlah nasihat Imam Malik untuk meninggalkan perkataannya dan kembali kepada sunnah nabi. Begitu pula dengan perkataan Abu Hanifah.

3- Pembahasannya “Tertinggal Fatihah Imam”. Itu bukanlah perkara yang sedang diperbincangkan. Mengapa? Karena kalau kita melihat video shalat tarawih super ngebut, imam ketika berdiri langsung membaca “Aamiin”. Saya saja mencoba berlomba dengan imam yang ada di video dan hasilnya mustahil saya mengejar bacaan Al-fatihahnyanya.

Maka terbukti, kalau mereka (imam dan makmum) tidak membaca Al-Fatihah dengan benar, sedangkan membaca Al-Fatihah adalah rukun shalat, tidak sah shalat seseorang yang tidak membacanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

“Tidak sah, shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah” (HR. Bukhari)

4- Anjuran dan renungan

Maka dari itu, kalau sang imam mau meringankan shalat, maka ada tata caranya bukan sekehendak hawa nafus dia.

Cukup dia membaca surat-surat pendek dari juz 30 semisal. Itu sudah sangat cukup. Dan tidak perlu maksa mau shalat 23 rakaat tenyata kayak kereta api dan tidak sah. Alangkah baiknya, imam shalat dengan 11 rakaat namun sempurna dan sah.

Shalat itu bukan hanya diukur dari kuantitasnya, Melainkan kualitas shalat jauh lebih utama. Kualitas "Nol" apalah arti dari kauntitas.

Semoga yang sedikit ini dapat membukan mata sang penulis yang sedang kami kritik. Allahu a’lam, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikelalamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @ma_alamiry  

Poskan Komentar

 
Top