0

Apa saja kewajiban suami istri yang telah berhubungan badan di saat puasa ramadhan?

=> Kewajiban yang pertama adalah mereka harus bertaubat kepada Allah ta’ala. Karena hubungan intim atau berhubungan badan saat puasa ramadhan adalah dosa dan kemungkaran yang besar. Karena dia sengaja membatalkan puasa tanpa adanya udzur syar’i sedangkan puasa adalah salah satu rukun islam.

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

مَنْ أَفْطَرَ عَامِدًا بِغَيْرِ عُذْرٍ كَانَ فِطْرُهُ مِنْ الْكَبَائِرِ

“Barang siapa yang membatalkan puasanya dengan sengaja tanpa adanya udzur maka hal tersebut adalah dosa besar” (Majmu’ Fatawa 25/225) 

Dan syarat diterimanya taubat seseorang adalah: Niat bertaubat, Menyesal atas dosa yang telah diperbuat olehnya, benar-benar lepas dan menjauhi dosa yang dilakukannya, dan bertekad kuad untuk tidak mengulangi dosa itu kembali.

=> Kewajiban yang kedua adalah dia harus membayar kaffarah. Dan peraturan membayar kaffarah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

بينَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ. قَالَ: «مَا لَكَ؟» قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا؟» قَالَ: لاَ، قَالَ: «فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ» ، قَالَ: لاَ، فَقَالَ: «فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا» . قَالَ: لاَ، قَالَ: فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ - وَالعَرَقُ المِكْتَلُ - قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ؟» فَقَالَ: أَنَا، قَالَ: «خُذْهَا، فَتَصَدَّقْ بِهِ» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا - يُرِيدُ الحَرَّتَيْنِ - أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ، ثُمَّ قَالَ: «أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

“Ketika kami sedang duduk-duduk bersama nabi shallallahu alaihi wa sallam, ternyata ada seseorang yang datang. Maka dia berkata: Wahai Rasulullah, aku telah binasa. Rasulullah berkata: “Mengapa engkau?” Dia berkata: “Aku telah bersetubuh dengan istriku dan aku sedang berpuasa”. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: “Apakah engkau memiliki budak yang bisa engkau bebaskan?” Dia berkata: “Aku tidak punya”. Rasulullah bersabda: “Apa engkau bisa berpuasa 2 bulan berturut-turut?” Dia berkata: “Aku tidak bisa”. Maka dia berkata: “Apakah engkau mampu untuk memberikan makan 60 orang miskin?” Dia berkata: “Aku tidak mampu”. Maka nabi shallallahu alaihi wa sallam terdiam, dan ketika kami sedang diam seperti itu, tiba-tiba nabi didatangkan dengan sebuah ember berisi kurma. Maka beliau berkata: “Dimana orang yang bertanya tadi?”. Maka dia berkata: “Dimana tadi orang yang bertanya?” Maka dia berkata: “Aku yang tadi bertanya”. Maka abi bersabda: “Ambillah kurma ini dan bersedekahlah”. Maka orang tersebut berkata: “Apa aku sedekahkan kurma ini kepada orang yang miskin dariku wahai Rasul?” Maka demi Allah, tidak ada di tempat ini, sebuah rumah tangga yang lebih miskin dari pada rumah tanggaku. Maka nabi shallallahu alaihi wa sallam tertawa hingga gigi taring beliau terlihat, kemudian beliau bersabda: “Kalau begitu beri makan keluargamu dengan kurma ini” (HR. Bukhari)

Penjelasan tambahan mengenai kaffarah:

1- Kaffarah yang dilakukan harus berurutan. Yang pertama: membebaskan budak. Jika tidak mampu, maka puasa 2 bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin.

2- Kaffarah suami dan istri jadi satu.

3- Jika hubungan intim terulang lagi dalam satu hari, maka kaffarahnya di hitung satu. Jika hubungan intim terulang di hari yang berbeda, maka kaffarahnya sesuai hari yang ia berhubungan intim, jika 2 hari puasa ia berhubungan intim maka kaffarahnya 2 kali, jika 3 hari puasa ia berhubungan intim maka kaffarahnya 3 kali.


Semoga yang sedikit ini bermanfaat wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad. Allahu a’lam bish showaab.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikelalamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @ma_alamiry  

Poskan Komentar

 
Top