0

Setelah kita berwudhu, terkadang kita melihat mata kaki masih kering tak terbasuh oleh air wudhu. Begitu pula dengan tumit yang masih kering terkadang pula tak terbasuh oleh air wudhu. Dan di kesempatan lain, siku kita lah yang masih kering tak terbasuh oleh air.

Dalam perihal ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat mengancam dan mewanti-wanti ummatnya untuk tidak ceroboh ketika berwudhu.  

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ

“Neraka wail lah bagi para pemilik tumit yang tidak terkena air wudhu. Sempurnakanlah wudhu” (HR. Muslim)

Wail dalam sabda beliau memiliki beberapa artian: Kesengsaraan, celaka, kerugian, kesulitan, akan tetapi arti yang paling jelas dalam hadits diatas adalah neraka wail itu sendiri. Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata:

وَاخْتُلِفَ فِي مَعْنَاهُ عَلَى أَقْوَالٍ أَظْهَرُهَا مَا رَوَاهُ بن حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعا ويل وَاد فِي جَهَنَّم

“Dan diperselisihkan makna wail menjadi beberapa perkataan. Makna wail yang paling jelas adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Hibban dan shahihnya dari hadits Abi Sa’id secara marfu’: “Wail adalah suatu lembah dalam neraka jahannam” (Fath Al-Bari 1/266)

Haditsnya lebih lengkap:

وَيْلٌ: وَادٍ فِي جَهَنَّمَ، يَهْوِي فِيهِ الْكَافِرُ أَرْبَعِينَ خَرِيفًا قَبْلَ أَنْ يَبْلُغَ قَعْرَهُ

“Wail adalah sebuah lembah di dalam neraka jahannam. Yang mana orang kafir akan masuk ke dalamnya sepanjang 40 tahun lamanya sebelum mereka sampai ke dalam keraknya” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Ancaman neraka adalah ancaman berat dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dari hadits ancaman Rasulullah diatas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwasanya memperhatikan kebenaran wudhu adalah suatu hal yang wajib untuk dilakukan.

Dan kecerobahan ini pernah terjadi pada sebagian sahabat nabi shallallahu alaihi wa sallam. Abdullah bin Amr pernah bercerita:

رَجَعْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِمَاءٍ بِالطَّرِيقِ تَعَجَّلَ قَوْمٌ عِنْدَ الْعَصْرِ، فَتَوَضَّئُوا وَهُمْ عِجَالٌ فَانْتَهَيْنَا إِلَيْهِمْ وَأَعْقَابُهُمْ تَلُوحُ لَمْ يَمَسَّهَا الْمَاءُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ أَسْبِغُوا الْوُضُوءَ

“Kami pulang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari Mekkah ke Madinah. Hingga kami mendapati air di sebuah jalan, ternyata sebuah kaum tergesa-gesa untuk melakukan shalat ashar. Maka mereka berwudhu sambil tergesa-gesa. Maka kami menjumpai mereka, ternyata tumit-tumit mereka kering tidak tersentuh oleh air. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Neraka wail untuk orang-orang yang memiliki tumit namun tidak terkena air wudhu. Sempurnakanlah wudhumu” (HR. Muslim)

Dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenai hal ini terdapat bantahan terhadap syi’ah yang memandang bahwasanya “suatu hal yang wajib adalah membasuh kaki dan bukan mencuci kaki”. Padahal yang wajib adalah mencuci kaki dan bukan hanya membasuh saja.

Dalam riwayat Abdullah bin Amr pula, beliau berkata:

تخلف عنا النبي صلى الله عليه وسلم في سفرة سافرناها فأدركنا - وقد أرهقتنا الصلاة - ونحن نتوضأ، فجعلنا نمسح على أرجلنا، فنادى بأعلى صوته: «ويل للأعقاب من النار» مرتين أو ثلاثا

“Kami tertinggal dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah safar. Kemudian kami dapat menyusulnya. Lantas waktu shalat ashar telah mendesak kami (akan habis waktu shalat ashar). Maka kami berwudhu dan hanya membasuh kaki-kaki kami. Maka Rasulullah berteriak dengan suara yang paling keras: (Neraka wail bagi orang yang memiliki tumit dan tidak tercuci oleh air wudhu) Beliau mengatakannya 2 atau 3 kali” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

ذَهَبَ جَمْعٌ مِنَ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَهْلِ الْفَتْوَى فِي الْأَعْصَارِ وَالْأَمْصَارِ إِلَى أَنَّ الْوَاجِبَ غَسْلُ الْقَدَمَيْنِ مَعَ الْكَعْبَيْنِ وَلَا يُجْزِئُ مَسْحُهُمَا وَلَا يَجِبُ الْمَسْحُ مَعَ الْغَسْلِ وَلَمْ يَثْبُتْ خِلَافُ هَذَا عَنْ أَحَدٍ يُعْتَدُّ بِهِ فِي الْإِجْمَاعِ وَقَالَتِ الشِّيعَةُ الْوَاجِبُ مَسْحُهُمَا

“Banyak para ahli fiqh yang memiliki kewenangan dalam berfatwa dari setiap zaman dan tempat berpendapat bahwasanya wajib mencuci kedua kaki dan kedua tumit dari setiap kaki. Dan tidak cukup hanya dengan membasuhnya saja. Dan membasuhnya tidak wajib ketika diperintahkan untuk mencucinya. Dan sama sekali tidak pernah ada perselisihan dari salah seorangpun dari ahli ijma’ dalam permasalahan hal ini. Akan tetapi syi’ah berkata: Yang wajib adalah membasuhnya” (Syarh Shohih Muslim milik An-Nawawi 3/129)

Maka perhatikanlah ketika berwudhu dan berhati-hatilah. Dan ketahuilah, ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mewanti-wanti ummat dari perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang syi’ah.

Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.



Artikelalamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @ma_alamiry

Poskan Komentar

 
Top