1


Kaffarah ghibah adalah sebuah perbuatan yang akan menggugurkan dosa seseorang akibat dia menggibahi orang lain. Kewajiban seseorang setelah menggibahi kawannya adalah meminta maaf kepada kawannya sebelum kematian atau hari kiamat datang.

Maka dia harus bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada kawannya karena dia telah merusak kehormatan kawannya. Hal tersebut sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang memiliki kedzaliman terhadap saudaranya berupa merusak kehormatannya ataupun yang lainnya, maka hendaklah dia meminta kehalalan (minta maaf) kepada saudaranya saat ini juga, sebelum datangnya hari yang tidak ada dinar maupun dirham (hari kiamat). Jika dia memiliki amalan shalih maka amalan shalih tersebut diambil darinya sesuai kadar kedzalimannya. Dan jika dia tidak memiliki amalan shalih maka dosa kawannya yang terdzalimi akan diambil kemudian diberikan kepadanya” (HR. Bukhari)

Maka bagaimana ketika orang yang kita ghibahi telah wafat atau meninggal?

Maka kaffaratnya adalah kita cukup meminta ampun dari Allah untuk orang yang kita ghibahi, karena kita tidak bisa meminta maaf disebabkan dia telah wafat. Sehingga kita beristighfar kepada Allah untuk saudara yang telah kita ghibahi.

Telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

إِنَّ مِنْ كَفَّارَةِ الْغِيبَةِ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لِمَنِ اغْتَبْتَهُ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

“Sesungguhnya kaffarat ghibah adalah engkau meminta ampun kepada Allah untuk orang yang engkau ghibahi. Maka engkau berkata: “Ya Allah ampunilah aku dan ampunilah dia” (HR. Baihaqi dengan sanad yang dho’if)

Maka kaffarat ghibah adalah kita meminta maaf ketika orang yang dighibahi masih hidup. Adapun ketika dia telah wafat maka kita cukup meminta ampun kepada Allah untuknya.

Allahu a’lam, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.


PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikelalamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @ma_alamiry


Poskan Komentar

  1. Ngeri ya... padahal sekarang hal itu sudah dianggap lumrah...

    BalasHapus

 
Top