2

Ulama Suu’ (ulama buruk) semakin terlihat saja akhir-akhir ini. Yang memberikan fatwa menyeleneh dari Al-Qur’an dan hadits atau berkata dengan suatu perkataan yang menyelisihi firman Allah Allah ta’ala dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Untuk kaum muslimin seharusnya menjauh dari mereka-mereka yang seperti ini, salah satunya Gus Nuril yang ingin menyatukan islam dan kristen di atas hawaa nafsunya. Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sudah sangat-sangat tampak jelas di akhir-akhir zaman ini, beliau bersabda:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا، فسئلوا فأفتوا بغير علم، فضلوا وأضلوا

“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu secara langsung dari para hamba-hambanya. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga jika ulama sudah tidak tersisa, maka manusia menjadikan tokoh-tokoh yang jahil, maka ketika tokoh tersebut ditanya maka mereka akan menjawab dengan tanpa ilmu. Maka mereka sesat dan menyesatkan”. (HR. Bukhari Muslim)

Kita sedikit tergelitikkan dengan perkataan Gus Nuril yang menyatakan bahwa hukuman mati bukan dari ajaran islam dan itu hanya tradisi arab saja. Mari kita simak perkataannya:

"Dalam ajaran Islam, tidak ada hukuman mati, dan tidak ada tradisi Islam membunuh, kalau memberikan hukuman mati adalah Arab Saudi. Islam harus berbeda dengan Arab Saudi," kata Nuril saat diskusi "Meninjau Ulang Hukuman Mati Dalam Tradisi Islam, Hak Asasi Manusia dan Fair Trial" di Restoran Warung Daun, Jakarta, Rabu (22/04/2015). Sebagaimana yang dikutip oleh web suara-islam disini.

Jawaban:

1- Inilah kejahilan nyata gus Nuril yang tidak mendalami agama islam namun sudah bergaya ingin mendalami agama kristen. Padahal dalam ayat Al-Qur’an tertulis nyata kalau “nyawa dibalas nyawa”. Dan Al-Qur’an itu turun untuk seluruh kaum muslimin. Apa gus Nuril akan menyatakan bahwa Al-Qur’an itu hanya turun untuk orang arab saja sehingga hukuman mati hanya untuk orang arab saja??

Allah ta’ala berfirman:

كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka dalam kitab mereka bahwasanya nyawa dibalas dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan lukapun ada qishasnya. Barangsiapa yang melepaskan hak qishas nya, maka melepaskan hak itu menjadi penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim" (QS. Al-Maidah: 45)

Penjelasan ayat:

- Sudah sangat jelas bahwasanya Allah ta’ala mensyari’atkan nyawa dibalas dengan nyawa atau jiwa dibalas dengan jiwa dalam ayat diatas.

- Ayat ini pada asalnya turun kepada bani Isra’il, namun syari’atnya tetap dipakai karena tidak bertentangan dengan syari’at islam. Hal tersebut karena syari’at ummat sebelum kita adalah syariat bagi kita selama tidak melanggar syar’iat islam.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsir ayat ini:

وَقَدِ اسْتَدَلَّ كَثِيرٌ مِمَّنْ ذَهَبَ مِنَ الْأُصُولِيِّينَ وَالْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ شَرْعَ مَنْ قَبْلَنَا شَرْعٌ لَنَا، إِذَا حُكِيَ مُقَرَّرًا وَلَمْ يُنْسَخْ، كَمَا هُوَ الْمَشْهُورُ عَنِ الْجُمْهُورِ

“Dan kebanyakan dari pakar ushul fiqh dan ulama fiqh mereka berdalil bahwa syari’at ummat sebelum kita adalah syari’at untuk kita, jika dia diceritakan dalam bentuk taqrir (ditetapkan) dan dia tidak dimansukh (dihapus) sebagaimana itu adalah pendapat yang terkenal dari jumhur” (Tafsir Katsir 3/121)

- Dan bahkan para ulama berijma’ akan sahnya menggunakan ayat ini sebagai dalil atas isi kandungan ayat.

Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata:

 وَقَدْ حَكَى الْإِمَامُ أَبُو نَصْرِ بْنُ الصَّبَّاغِ، رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي كِتَابِهِ "الشَّامِلِ" إِجْمَاعَ الْعُلَمَاءِ عَلَى الِاحْتِجَاجِ بِهَذِهِ الْآيَةِ عَلَى مَا دَلَّتْ عَلَيْهِ، وَقَدِ احْتَجَّ الْأَئِمَّةُ كُلُّهُمْ عَلَى أَنَّ الرَّجُلَ يُقْتَلُ بِالْمَرْأَةِ بِعُمُومِ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ

“Dan Imam Abu Nashr bin As-Shabbagh rahimahullah bercerita dalam kitabnya “Asy-Syamil” mengenai ijma’ ulama atas sahnya berhujjah dengan ayat ini untuk berdalil atas isi kandungannya. Dan seluruh para ulama berhujjah dengan ayat ini bahwasanya lelaki dibunuh karena dia telah membunuh seorang wanita” (Tafsir Ibni Katsir 3/121)

Sangat jelas bahwasanya hukuman mati tertulis dalam Al-Qur’an dan bukan tradisi arab atau dongeng arab.

Maka apakah gus Nuril tidak tahu akan ayat di atas? Ataukah dia akan tetap mengelak dari ayat yang sangat jelas di atas? Atau dia akan mencari-cari alasan lainnya? Sudah sangat jelas bahwasanya hukuman mati “nyawa dibalas nyawa” tertulis dalam ayat Al-Qur’an.

2- Bahkan Rasulullah menetapkan syari’at bahwasanya seorang lelaki dibunuh jika terbukti dia membunuh seorang perempuan. Disebutkan dalam riwayat Abi Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari bapaknya dari kakeknya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ وَكَانَ فِي كِتَابِهِ  أَنَّ الرَّجُلَ يُقْتَلُ بِالْمَرْأَةِ

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menetapkan syari’at untuk penduduk Yaman. Dan diantara ketetapan itu adalah bahwasanya seseorang dibunuh jika dia membunuh seorang wanita” (HR An-Nasa’i)

Hadits ini sangat jelas, bahwasanya hukuman mati itu tertulis dalam Al-Qur’an dan hadits, bukan dari dongeng arab atau tradisi arab. Apakah Gus Nuril akan tetap mengelak?

3- Rasulullah pernah merajam mati seorang wanita yang berzina. Disebutkan dalam riwayat Ahmad:

أَنَّ امْرَأَةً أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جُهَيْنَةَ حُبْلَى مِنَ الزِّنَا فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَيَّ. قَالَ: فَدَعَا وَلِيَّهَا فَقَالَ: " أَحْسِنْ إِلَيْهَا، فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي بِهَا ". فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ، ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ عُمَرُ: تُصَلِّي عَلَيْهَا وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ: " لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ، وَهَلْ وَجَدْتَ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ؟

“Bahwasanya seorang wanita dari Juhainah mendatangi nabi shallallahu alaihi wa sallam dan dia hamil karena zina. Maka dia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melakukan perbuatan yang terlarang yang harus untuk di hadd. Maka laksanakanlah hadd atasku. Maka Rasulullah memanggil walinya. Maka dia berkata: Berbuat baiklah kepada dia, seandainya dia sudah melahirkan maka datangkan dia kepadaku. Maka dia melakukannya. (Hingga dia melahirkan) Rasulullah memanggilnya, maka pakaiannya diketatkan (agar auratnya tidak tersingkap ketika dalam proses perajaman) kemudian Rasulullah melakukannya dan kemudian dia dirajam. Kemudian Rasulullah menshalatinya. Maka Umar berkata: Wahai Rasulullah mengapa engkau mensholatinya sedangkan dia telah berzina? Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  “Dia telah bertaubat dengan suatu tabat yang mana jika itu dibagikan kepada 70 orang penduduk Madinah maka cukuplah taubat itu untuk mereka. Apakah engkau mendapati orang yang lebih utama darinya yang telah bersungguh-sungguh untuk Allah?” (HR. Ahmad)

Dalam hadits diatas Rasulullah menghukum mati seorang wanita yang berzina dengan rajam. Dan Rasulullah adalah pemimpin dan panutan seluruh kaum muslimin yang harus dicontoh dan bukan pemimpin orang arab saja. Apakah Gus Nuril akan menyatakan bahwa Rasul hanya pemimpin orang arab saja dan tidak untuk seluruh kaum muslimin sehingga rajam tersebut hanya patut untuk orang arab saja?? Sepertinya pemikiran harus segera diperbaiki.

4- Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا يحل دم امرئ مسلم، يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله، إلا بإحدى ثلاث: النفس بالنفس، والثيب الزاني، والمارق من الدين التارك للجماعة

“Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah kecuali disebabkan oleh salah satu dari 3 perkara: Nyawa dibalas dengan nyawa, orang yang berzina sedangkan sudah menikah, dan orang yang yang meninggalkan agamanya (murtad) dan keluar dari Al-Jama’ah” (HR. Bukhari Muslim)

Ini jelas, bahwasanya hukuman mati ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Dan dalil selain yang disebutkan diatas masih banyak lagi.

Apakah Gus Nuril akan tetap menyatakan bahwasanya hukuman mati bukan dari Islam?? Dan itu hanya tradisi arab? Kalau Gus Nuril adalah muslim sejati dia akan mengakui bahwa hal itu itu adalah hukum Allah dan Rasulullah, kecuali dia sudah terkontaminasi dengan agama kristen sehingga malu-malu untuk menyatakan bahwa Rasulullah diutus untuk setiap manusia dan bukan orab saja. Allah berfirman:

وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dan kami mengutusmu sebagai Rasul untuk seluruh manusia. Dan cukuplah Allah sebagai saksinya” (QS.  An-Nisa: 79)

Allahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.



Artikelalamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @ma_alamiry

Poskan Komentar

  1. Kasih cinta sesama memaaf kan ini lh ajaran agama. Bukan dendam dan pembunuhan.

    BalasHapus

 
Top