0

Pertanyaan: Assalamualaikum Warahmaullah Wabarakatuh..

Ustadz, ana mau tanya. Anak gadis mau nikah terus bapaknya tidak mau menikahkan karena tidak suka sama laki-lakinya,dari segi materi sama dulunya orang tuanya gak baik. Tapi si laki-lakinya orang baik,trus mereka nikah dengan wali hakim. Sebelum menikah, mereka sudah izin mau nikah sendiri. Orang tuanya tetep tidak mau menikahkan. Akhirnya pake wali hakim,hukumnya bagaimana?

Fulanah, Brebes

Jawab:

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Pertama: Perlu diketahu bahwasanya wali pernikahan harus sesuai urutan. Tidak boleh wali yang jauh menikahkan seorang perempuan sedangkan wali yang lebih dekat itu hadir (ada).

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

إذا زوجها الولي الأبعد، مع حضور الولي الأقرب، فأجابته إلى تزويجها من غير إذنه، لم يصح. وبهذا قال الشافعي وقال مالك: يصح؛ لأن هذا ولي، فصح له أن يزوجها بإذنها كالأقرب. ولنا، أن هذا مستحق بالتعصيب، فلم يثبت للأبعد مع وجود الأقرب، كالميراث، وبهذا فارق القريب البعيد.

“Jika wali yang jauh menikahkan seorang perempuan sedangkan wali yang lebih dekat hadir (ada), dan perempuan tersebut  menerima untuk dinikahkan tanpa adanya izin dari wali yang terdekat maka nikahnya tidak sah.Dan inilah yang dikatakan oleh Imam Syafi’i. Akan tetapi Imam Malik berkata: Sah. Karena dia tetap seorang wali. Maka dia sah untuk menikahkan wanita tersebut tanpa adanya izin dari wali yang terdekat. Akan tetapi dalam madzhab kami, hal ini seperti hak ahlu ‘asobah. Tidak ada hak bagi yang lebih jauh ketika ada yang lebih dekat, seperti pembagian harta warisan. Dengan seperti ini berbeda antara yang jauh dan dekat” (Al-Mughni 7/28)

Al-Bahuti Al-Hanbali rahimahullah juga berkata:

وإن زوج الأبعد أو زوج أجنبي ولو حاكما من غير عذر للأقرب لم يصح النكاح لعدم الولاية من العاقد عليها مع وجود مستحقها

“Dan jika wali yang lebih jauh menikahkan seorang perempuan atau orang lain menikahkan seorang perempuan walaupun dia adalah seorang hakim namun menikahinya tanpa adanya izin dari wali yang lebih dekat maka nikahnya tidaklah sah. Karena tidak adanya wali dari orang yang menjalankan akad terhadap perempuan tersebut, padahal yang berhak (wali terdekat) ada” (Ar-Raud Al-Murbi’ hal. 516)

Kedua: Adapun urutan wali, maka urutannya adalah bapak dan silsilah keluarga diatasnya, kemudian anak dan silsilah keluarga dibawahnya, kemudian saudara laki-laki, kemudian paman dari pihak bapak, kemudian wala, kemudian hakim adalah wali bagi yang tidak memiliki wali.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

جهات الولاية في عقد النكاح خمس، أبوة، ثم بنوة، ثم أخوة، ثم عمومة، ثم ولاء

“Urutan kewalian dalam akad nikah ada 5; bapak, kemudian anak, kemudian saudara laki-laki, kemudian paman, kemudian wala (orang yang membebaskan dirinya dari perbudakan atau mantan tuan)” (Asy-Syarh Al-Mumti’ 12/84)

Ketika seorang perempuan tidak memiliki wali, maka walinya adalah hakim. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ السُّلْطَانَ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

“Hakim adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali” (HR. Ahmad)

Ketiga: Akan tetapi bagaimana jika orang tuanya tidak baik?

Jika orang tuanya tidak baik dalam konteks dia adalah orang fasiq bahkan kafir, seperti orang tuanya selalu meninggalkan shalat, dll. Maka perwalian boleh langsung dipindah kepada setelahnya. Yakni, kakek kemudian anak, kemudian saudara laki dst sebagaimana yang telah kita jelaskan diatas. Perwalian tidak boleh langsung pindah ke hakim. Karena hakim adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali sebagaimana yang telah kita jelaskan diatas. Jika ada wali setelahnya maka kewalian pindah ke wali yang berada diurutan setelah bapak.

Al-Hajjawi rahimahullah berkata:

فإن عضل الأقرب، أو لم يكن أهلا، أو غاب غيبة منقطعة لا تقطع إلا بكلفة ومشقة زوج الأبعد، وإن زوج الأبعد أو أجنبي من غير عذر لم يصح

“Jika wali yang terdekat tidak mau menikahkan seorang perempuan, atau dia bukan ahlinya dalam perwakilan, atau wali terdekat tersebut tidak berada disana dalam arti berada ditempat yang jauh yang harus ditempuh dengan susah payah dan kesulitan. Maka ketika itu, wali yang lebih jauh boleh menikahkannya. Akan tetapi jika wali yang lebih jauh menikahkannya atau orang lain (wali) menikahkannya tanpa adanya udzur maka nikahnya tidak sah” (Zaad Al-Mustaqni’ hal. 106)

Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud wali yang tidak ahli adalah wali yang masih kecil atay fasiq atau menyimpang dari agama yang benar. Beliau berkata:

ليس أهلاً للولاية، مثل أن يكون صغيراً أو فاسقاً، أو مخالفاً في الدين، أو ما أشبه ذلك؛ فإن وجود من ليس بأهل كالعدم لا فائدة من وجوده

“Dia tidak ahli dalam masalah perwalian, contohnya jika dia adalah seorang anak kecil atau seorang fasiq atau seorang yang menyelishi agama, atau semisal lainnya. Maka adanya wali yang tidak ahli, itu seperti wali yang tidak ada. Maka tidak ada faidah perwalian walaupun dia ada” (Asy-Syarhu Al-Mumti’ 12/89)

Maka kesimpulannya:

Tidak boleh menikah dengan perwalian hakim sedangkan bapaknya hadir.  Karena penikahan dengan wali yang lebih jauh sedangkan wali yang lebih dekat ada adalah pernikahan yang tidak sah alias bathil.

Dan seandainya benar bapaknya adalah seorang yang fasik maka perwalian pindah kepada wali yang berada diurutan setelahnya. Dan ketika perempuan tersebut tidak memiliki wali siapapun, maka ketika itu boleh baginya menikah dengan perwalian hakim.

Allahu a’lam semoga bermanfaat.



Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @ma_alamiry

Poskan Komentar

 
Top