0

Pertanyaan: Apakah derajat hadits menikahi tangan adalah shahih? Dan apakah pelakunya terlaknat?

Jawab:

Pertama: Disebutkan dalam sebuah riwayat:

نَاكِحُ الْيَدِ مَلْعُونٌ

“Orang yang menikahi tangannya (pelaku onani) adalah orang yang dilaknat oleh Allah”

Riwayat ini maudhu’ tidak ada asal-usulnya. Disebutkan dalam Al-Maudhu’at Al-Kubra:


لَا أَصْلَ لَهُ كَمَا صَرَّحَ بِهِ الرَّهَاوِيُّ فِي حَاشِيَتِهِ عَلَى الْمَنَار

“Riwayat ini tidak ada asal-ushulnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Ar-Rahawi dalam hasiyahnya”

Sehingga seseorang tidak boleh menisbatkan riwayat diatas kepada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Kedua: Disebutkan pula dalam sebuah riwayat:

سبعة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة، ولا يزكيهم، ولا يجمعهم مع العالمين، يدخلهم النار أول الداخلين إلا أن يتوبوا، إلا أن يتوبوا، إلا أن يتوبوا، فمن تاب تاب الله عليه الناكح يده، والفاعل والمفعول به، والمدمن بالخمر، والضارب أبويه حتى يستغيثا، والمؤذي جيرانه حتى يلعنوه، والناكح حليلة جاره

“Ada 7 golongan yang mana Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan Allah tidak mensucikan mereka, dan Allah tidak mengumpulkan mereka bersama makhluk lainnya. Allah memasukkan mereka kedalam api neraka sebagai makhluk pertama yang masuk kedalamnya. Kecuali mereka bertaubat, kecuali mereka bertaubat, barangsiapa yang bertaubat maka Allah akan terima taubatnya. Yakni; Orang yang menikahi tangannya (pelaku onani), dan pelaku homo seksual dan yang menjadi objeknya, dan pecandu khomr, dan orang yang memukul kedua orang tuanya sampai keduanya meminta pertolongan, dan orang yang mengganggu tetangganya sampai mereka melaknatnya, dan orang yang berzina dengan istri tetangganya” (HR. Baihaqi)

Hadits ini dhoif, karena di dalam sanadnya terdapat: Maslamah bin Ja’far dan syaikhnya Hassan bin Hamid. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

يجهل هو وشيخه وقال الأزدي: ضعيف

“Dia dan gurunya adalah majhul. Dan Azdi berkata: Dia adalah orang yang dhoif lemah” (Mizan Al-I’tidal 4/108)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

هَذَا حَدِيثٌ لا يَصِحُّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ولا حسان يعرف ولا مسلمة

“Ini adalah hadits yang tidak shohih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Hassan dan Maslamah adalah orang yang tidak dikenal (majhul)” (Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah 2/144)

Ketiga: Walaupun riwayat-riwayat diatas dho’if, namun hukum onani tetaplah haram. Karena firman Allah ta’ala mengenai sifat-sifat orang mu’min:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُون  إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِين

“Dan orang-orang (beriman) yang menjaga farji’nya kecuali dari istri-istrinya dan budak-budaknya maka sesungguhnya mereka tidaklah tercela” (QS. Al-Mu’minun: 5)

Selain istri dan budak, maka tidak boleh menikmati farji’ dengannya termasuk tangan. Maka mencari kenikmatan dengan tangan hukumnya adalah haram dengan ayat ini. Dan imam Malik dan Syafi'i berdalil dengan haramnya onani dengan ayat ini.

Kesimpulan: Onani hukumnya haram dengan ayat ini. Dan adapun menghukumi pelakunya sebagai orang yang terlaknat, maka tidak bisa serta merta kita menghukuminya seperti itu. Karena haditsnya terlaknatnya orang onani adalah dhoif. 


Lajnah Da’imah yang diketuai oleh syaikh Bin Baaz memberikan fatwa:

نكاح اليد وما في حكمه المسمى بالعادة السرية حرام، ولم يثبت فيما نعلم الحكم على من يفعل ذلك بأنه ملعون

“Orang yang menikahi tangannya atau yang disebut dengan onani, hukumnya adalah haram. Akan tetapi tidak pernah ada –sesuai pengetahuan kami- bolehnya menghukumi orang yang melakukannya bahwa dia adalah orang yang terlaknat” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 22/58)

Allahu a’lam, semoga bermanfaat



Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @ma_alamiry

Poskan Komentar

 
Top