0


Perlu diketahui bahwasanya menghadap kiblat adalah syarat sah shalat. Hal tersebut sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ

“Jika kamu hendak shalat maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke kiblat kemudian takbirlah” (HR. Bukhari Muslim)

Lantas bagaimana jika seseorang melakukan perjalanan jauh / safar, kemudian shalat dalam keadaan salah menghadap kiblat, apakah shalatnya sah?


Jika dia melakukan safar, dan dia telah berusaha menentukan arah kiblat yang benar atau bertanya arah kiblat kemudian ternyata salah maka ada 2 keadaan:

1- Jika dia masih dalam keadaan shalat,maka hendaklah dia tetap melanjutkan shalatnya akan tetapi merubah arah kiblat. Hal tersebut sebagaimana yang terjadi di zaman para sahabat, dahulu mereka shalat ke arah masjidil aqsha kemudian mereka salah arah kiblat karena arah kiblat telah dirubah, lantas mereka merubah arah kiblatnya ke arah ka’bah sedangkan mereka masih berada dalam shalat.

Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata:

بَيْنَمَا النَّاسُ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ بِقُبَاءٍ إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ: «إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِ اُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ، وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبِلُوهَا، وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّامِ، فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ

“Ketika orang-orang shalat shubuh di Quba, maka datanglah seseorang berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah diturunkan syari’at tadi malam. Rasulullah diperintahkan untuk menhadap ka’bah maka menghadaplah ke ka’bah. Ketika itu arah mereka menuju syam maka mereka membalikkan arahnya ke ka’bah” (HR. Bukhari Muslim)

2- Jika dia sudah selesai shalat, maka shalatnya sah dan tidak perlu diulang.

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ فَلَمْ نَدْرِ أَيْنَ القِبْلَةُ، فَصَلَّى كُلُّ رَجُلٍ مِنَّا عَلَى حِيَالِهِ، فَلَمَّا أَصْبَحْنَا ذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَزَلَتْ: {فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

“Kami dahulu bersama nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah safar di malam hari yang gelap gulita. Maka kami tidak mengetahui dimana arah kiblat. Maka setiap orang dari kami shalat sesuai keyakinannya. Kemudian ketika di pagi hari, kami menceritakannya kepada nabi shallallahu alaihi wa sallam maka turunlah ayat: “Dimanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah” (HR. Tirmidzi)

Hal diatas jika dia telah berusaha mencari arah kiblat yang benar atau dia bertanya. Adapun jika dia tidak berusaha mencari arah kiblat yang benar dan tidak pula bertanya, lantas salah arah kiblat maka dia harus mengulangi shalatnya.

Disebutkan dalam kitab Al-Ikhtiyar:

وَإِنِ اشْتَبَهَتْ عَلَيْهِ الْقِبْلَةُ وَلَيْسَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُهُ اجْتَهَدَ وَصَلَّى وَلَا يُعِيدُ وَإِنْ أَخْطَأَ، فَإِنْ عَلِمَ بِالْخَطَأِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ اسْتَدَارَ وَبَنَى، وَإِنْ صَلَّى بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ فَأَخْطَأَ أَعَادَ

“Dan jika arah kiblat tersamarkan dan tidak ada seorangpun yang bisa ditanyakan maka dia berusaha menentukan arah kiblat yang benar kemudian dia shalat dan tidak mengulang shalatnya walaupun salah. Dan jika dia mengetahui salah arah kiblat sedangkan dia masih dalam keadaan shalat maka dia merubah arah kiblat dan tetap melanjutkan shalatnya. Dan jika dia shalat tanpa berusaha mencari arah kiblat yang benar lantas salah maka dia harus mengulang shalatnya” (Al-Ikhiyar Li Ta’il Al-Mukhtar 1/47)

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.


Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top