2
Kita sering kali mendengar dengungan kaum liberal bahwasanya syari’at islam selalu mendzalimi wanita terutama dalam takar pembagian harta warisan. Padahal ini adalah tuduhan yang sangat kejam terhadap islam.

Perlu diketahui bahwasanya dalam islam, wanita bisa mendapatkan jatah warisan dengan jumlah yang sama dengan lelaki bahkan lebih banyak dalam keadaan tertentu. Bukan hanya itu, wanita pun bisa mendapatkan harta warisan dari mayyit akan tetapi lelaki tidak mendapatkannya dalam keadaan tertentu yang lain pula. Sama halnya, wanita juga bisa mendapatkan lebih sedikit harta warisan dari lelaki dalam keadaan tertentu pula.


Jadi setiap keadaan memiliki hukum tersendiri. Dalam pembagian harta warisan sudah ada ketetapan tertentu dalam keadaan tertentu. Akan tetapi sangat disayangkan, kaum liberal memang suka menghancurkan islam dengan akal dan pikiran yang begitu dangkal.

Saya sangat yakin, dengungan kaum liberal ini hanya keluar karena 2 kemungkinan:

1- Jahlun ‘amiiq (kebodohan yang terlalu mendalam di hati) mengenai ilmu mirats dan faraidh (ilmu pembagian harta warisan).
2- Tidak mengetahui hikmah dalam syari’at mirats.

Akan tetapi mereka ingin memotong satu ayat, lantas kemudian ingin mengaplikasikan ayat tersebut dalam setiap keadaan mirats padahal setiap keadaan mirats memiliki ayat tersendiri. Ayat yang mereka potong adalah:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang pembagian harta warisan untuk anak-anakmu. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan”. (QS. An-Nisa: 11)

Benar adanya bahwasanya ayat ini menunjukkan wanita mendapatkan harta warisan lebih sedikit dibandingkan lelaki. Tapi ayat ini hanya ada dalam 4 keadaan, adapun keadaan lainnya maka tidak. Contoh 4 keadaan itu adalah:

- Seorang mayyit meninggalkan satu orang anak perempuan dan anak lelaki.
- Seorang mayyit meninggalkan cucu perempuan (Bintu Ibn) dan cucu lelaki (Ibnu Ibn).
- Seorang mayyit meninggalkan saudara kandung perempuan dan saudara kandung lelaki.
- Seorang mayyit meninggalkan saudara perempuan sebapak dan saudara lelaki sebapak.

Kalau keadaannya seperti diatas maka benar perempuan mendapatkan lebih sedikit dibandingkan lelaki. Akan tetapi tidak halnya dalam keadaan yang lain, maka wanita bisa mendapatkan harta warisan sama banyak dengan lelaki. Bahkan bukan hanya sama banyak, wanitapun bisa mendapatkan jumlah yang lebih banyak dari lelaki. Dan lebih dari itu pula, wanita bisa mendapatkan harta warisan namun lelaki tidak mendapatkannya.

Mari kita perinci keadaannya.

1- Wanita mendapatkan jumlah harta warisan yang sama dengan lelaki.

Contoh: Seorang mayyit meninggalkan satu orang anak perempuan dan satu orang ayah. Maka jatah anak perempuan adalah 1/2 dari harta warisan sesuai ayat mirats dan jatah ayah adalah 1/6 dari harta warisan + Sisa harta warisan sesuai ayat mirats pula.

Maka hasil yang didapat oleh masing-masing adalah:



6
Hasil
Anak Perempuan
1/2
3
3
Ayah
1/6 + Ashabah (Sisa)
1+2
3

Dari tabel diatas maka jelas, bahwasanya jatah anak perempuan sama banyak dengan jatah ayah selaku lelaki.

Contoh lain: Seorang mayyit meninggalkan satu orang anak perempuan dan cucu lelaki (Ibnu Ibn). Maka jatah perempuan adalah 1/2 dari harta warisan. Dan jatah cucu lelaki adalah ashabah (sisa dari harta warisan).

Maka hasil yang didapat oleh masing-masing adalah:



2
Hasil
Anak Perempuan
1/2
1
1
Cucu Lelaki (Ibnu Ibn)
Sisa
1
1

Dari tabel diatas, maka juga jelas bahwasanya wanita mendapatkan jatah yang sama dengan lelaki.

Contoh lain: Seorang mayyit meninggalkan satu anak perempuan dan saudara kandung laki-laki. Maka jatah anak perempuan adalah 1/2 dari harta warisan dan jatah saudara kandung-laki-laki adalah ashabah (sisa harta warisan). Maka keadaan seperti ini, seperti contoh keadaan yang sebelumnya.

Maka hal ini, juga menunjukkan bahwasanya wanita mendapatkan jatah yang sama dengan harta lelaki.

2- Wanita mendapatkan jatah yang lebih banyak dari lelaki.

Contoh: Seorang mayyit meninggalkan seorang anak perempuan, seorang ibu, dan seorang ayah. Maka anak perempuan mendapatkan 1/2 dari harta warisan, dan ibu mendapatkan 1/6 dari harta warisan dan seorang ayah mendapatkan 1/6 dari harta warisan + Ashabah (sisa harta warisan).

Maka hasil yang didapat oleh masing-masing adalah:



6
Hasil
Anak Perempuan
1/2
3
3
Ibu
1/6
1
1
Ayah
1/6 + Sisa
1 + 1
2

Dari tabel diatas maka jelas, bahwasanya anak perempuan mendapatkan jatah lebih banyak dari kakeknya selaku laki-laki.

Dan wanita mendapatkan jatah yang lebih banyak dari lelaki memiliki contoh yang lain, namun kita cukupkan satu saja.

3- Wanita mendapatkan jatah warisan namun lelaki tidak mendapatkannya.

Contoh: Seorang mayyit meninggalkan satu anak perempuan dan satu saudara kandung perempuan dan satu saudara sebapak laki-laki. Maka anak perempuan akan mendapatkan 1/2 dari harta warisan dan saudara kandung perempuan akan mendapatkan ashabah (sisa) jika bersama dengan anak perempuan. Dan saudara lelaki akan menjadi mahjub (tertutup tidak mendapatkan harta warisan) dikarenakan adanya anak perempuan dan saudara kandung perempuan.

Maka perincian hasil adalah sebagai berikut:


2
Hasil
Anak Perempuan
1/2
1
Saudara Kandung Perempuan
Ashabah (Sisa)
1
Saudara Sebapak Laki-laki
Mahjub
-

Dari tabel diatas, maka jelaslah bahwasanya wanita mendapatkan jatah warisan namun lelaki tidak mendapatkannya.

Perlu digaris bawahi: Mengapa lelaki mendapatkan jatah lebih banyak dari wanita?

Maka jawabannya adalah: Hikmah dari hal tersebut, karena islam sangat sayang dengan wanita. Islam tidak mewajibkan wanita untuk menafkahi suami dan keluarganya. Justru sebaliknya, sang suamilah yang wajib menafkahi istri dan keluarganya. Karena wanita hamil, melahirkan, dan ini tidak mungkin untuk wanita mencari nafkah, maka dia dicukupkan untuk mendapatkan nafkah dari lelaki. Dengan ini, lelaki mendapatkan warisan lebih banyak karena dia perlu menafkahi istri dan keluarga sedangkan wanita tidak seperti itu.

Apa ada wanita berakal yang ingin “untuk diwajibkan agar menafkahi suaminya, sedangkan suaminya juga bekerja dan tidak ada kewajiban untuk menafkahi istrinya”. Sang suami mendapatkan penghasilan diri sendiri + nafkah dari istri, sedangkan istri mendapatkan hasil diri sendiri dan dikurangi nafkah untuk suami?? Tentunya, wanita yang berakal dan fitrahnya selamat tidak akan setuju dengan hal ini.

Kalau begitu, maka wajar saja jika lelaki mendapatkan jatah warisan lebih banyak dari lelaki.

Kesimpulan yang dapat diarik adalah: “Bahwasanya fitnahan kaum liberal yang mengatakan bahwasanya perempuan mendapatkan jatah warisan lebih sedikit dan islam telah mendzalimi kaum wanita, adalah fitnahan yang keluar dari kebodohan yang mendalam dalam tubuh kaum liberal”.

Sangat kelihatan, bahwasanya mereka tidak menguasai ilm mawaris atau ilm faraidh, namun sudah berbicara seenak perutnya. Maka dari itu, sebelum engkau membuat fitnah terhadap islam, pelajarilah terlebih dahulu apa itu agama islam. Maka engkau akan mengetahui bahwasanya islam sangat bertolak belakang dengan apa yang akan engkau fitnahkan.

Semoga pemaparan ini bermanfaat. Wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad. 



Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

  1. Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
    Pak Muhammad Abdurrahman Al Amiry, saya mohon izin copas untuk dokumentasi pribadi. Sosok wanita khusunya muslimah yang menjadi tiang negara selalu dijadikan senjata kaum liberal untuk merusak umat Islam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh. Silahkan copas dengan syarat mencantumkan penulis dan sumber artikel. Baarakallahu fiik.

      Hapus

 
Top