0

Bagaimana cara mainnya?

Kalau ada yang mau bermain petak umpet majmu’ fatawa maka silahkan, insya Allah mendapatkan faidah besar.

----------

Fase 1: Sebab inisiatif kami untuk bermain petak umpet bersama Majmu’ Syaikh Ibn Utsaimin

Rasulullah menggerakkan jari telunjuknya ketika “duduk di anta dua sujud” adalah sebab awal permainan ini.

Awal dari kisah.. Ketika itu kami masuk sebuah pondok pesantren berlokasi di Solo (Surakarta). Mungkin
nama pondok itu sudah tidak asing lagi di telinga sebagian ikhwah. Pondok tersebut dibawah asuhan Fadhilah Al Ustadz “Ahmas Faiz Asifuddin” hafidzahullah. Ponpes Imam Bukhari-Solo.

Ketika itu, ana masih duduk di bangku kelas 1 Mutawassith (tingkat SMP). Suatu ketika, ana shalat di samping salah seorang ustadz pengajar marhalah Tsanawiyyah (Tingkat SMA). Beliau adalah salah seorang ustadz yang sangat pintar dan cerdas. Aqidahnya dhobit, Ilmu fiqhnya masya Allah, dan Ilmu Tarikhnya (sejarahnya) tidak diragukan lagi akan kekuatan hafalannnya.

Ketika shalat disebelah beliau dan pada raka’at pertama, beliau menggerak-gerakkan jari telunjukknya di duduk antara dua sujud. Ingat, menggerakkan jari telunjuk ketika “duduk diantara dua sujud”. Ana mengira, beliau ini hanya lupa dan mungkin beliau mengira sedang duduk tasyahhud. Akan tetapi, di rakaat ke dua pun beliau seperti itu. Di rakaat ke tiga pun seperti itu. Dan rakaat ke empat seperti itu uga.

Mulai su’uddzon dalam hati, “Apa mungkin ustadz ini melakukan bid’ah?? Ustadz-ustadz yang lain saja tidak ada yang duduk seperti ini. Kalau ada maka mana dalilnya?”

Saya tidak berani bertanya ketika itu.. Dan hanya bertanya ke kakak kelas.

“Itu kok ustadz Fulan menggerakkan jari ketika duduk di antara 2 sujud?” Tanyaku kepada salah satu kakak kelas

“Ada dalilnya”. Jawabnya

“Dalilnya apa?” Tanyaku kembali

“Pokoknya ada.. Mana mungkin gak ada dalil”. (Selesai)

Sebenarnya belum puas dengan jawaban kakak kelas ini. Saya mencoba bertanya kepada kakak kelas yang lain. Dan ternyata, jawabannyapun sama. “Yang penting ada dalilnya”.

Ya sudah.. Saya anggap lewat saja.

Ketika itu, saya hanya bisa disuapin, bertanya dan bertanya tanpa mencari tahu sendiri. Karena bahasa arab yang kumiliki masih “nol” besar. Ya bagaimana lagi, ketika itu kami masih duduk di kelas 1 mutawassith. Belum bisa untuk mencari jawaban sendiri.

Shalat di samping beliau, selalu membuatku penasaran dengan jawaban dari pertanyaan yang ada dalam benakku.

Hingga pada akhirnya, kami sudah duduk di kelas 3 mutawassith. Dan ketika itu kami sedang shalat isya dan disamping kami adalah ustadz tadi. Penasaran semakin mencuat di benak karena shalat disampingnya.

Dan pada saat itu juga, ketika kami merasakan bahasa arab yang kami miliki sudah cukup untuk menjadi alat dalam bahts dan mencari tahu, maka kami memutuskan untuk mencari sendiri jawabannya di maktabah (perpustakaan) setelah makan malam.

Masuk maktabah.... (Ketika itu maktabah baru dipindah ke bangunan bawah “sekarang bangunan majalah lentera qalbu” karena bangunan maktabah yang lama mau direnovasi)

Kitab pertama yang dituju adalah “Shohih fiqh sunnah” milik Abu Malik Kamal As Sayid. Dan ternyata tidak jumpa.

Mencoba kitab fiqh yang lain, seperti “Fiqh Sunnah” milik Sayyid Sabiq. Dan ternyata tidak jumpa juga lagi.

 Akhirnya satu persatu dari kitab fiqh yang tidak terlalu besar-besar, saya coba buka dan tela’ah. Ternyata tidak jumpa juga.

Ketika itu sudah hampir tengah malam.  Jawabanpun tidak jumpa dan belum didapatkan.

Ketika itu, ada kakak kelas yang suka menetap di maktabah. Kerjaannya, di maktabah hanya membaca dan membaca. Dan yang kami tahu dari kabar kawan-kawan, bahwasanya dia suka membaca bahkan terkadang suka tidur malam di maktabah, karena sudah kadung cinta sama maktabah.

Karena semangat dia, akhirnya kami pun tersemangati. Tapi ternyata tidak jumpa juga.

Akhirnya, baring sebentar.. Dan mata memandang kitab Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah dengan khot sampul yang indah. Membayangkan, “Ulama ini keren-keren dengan ilmunya. Bukunya besar-besar, dan itupun bukan hanya satu atau dua buku yang dikarang tapi sangatlah banyak..”.

Ketika masih dalam kahayalan, baru sadar... “Oh iya, kenapa gak cari di majmu fatawa aja ya?”.  Pada asalnya, kami tidak mau mencari di kitab-kitab yang berjilid-jilid banyak. Tapi karena penasaran, kenapa tidak dicoba?

Bergegas bangun, Dan kebetulan yang saya buka pertama kali adalah Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin karena majmu’ fatawa ibn utsaimin letaknya di rak tengah. Adapun majmu’ fatawa ibn Taimiyyah dan Ibn Baaz letaknya di rak yang paling atas, sedangkan majmu fatawa lajnah daimah di rak bawah.

Cari mencari.... Dan ternyata ada fatwa beliau yang membahas ini.   Tepatnya dijilid 13.

Kami senyum-senyum sendiri karena senang dan bahagia setelah mendapatkan pembahasannya. Tapi ketika itu, saya belum membaca jawabannya, saya hanya cukupkan sampai disana dulu karena waktu sudah larut malam.

Keesokan harinya, saya kembali membaca majmu’ fatawa Ibn Utsaimin. Mulai menela’ah,dan dapat ilmu baru..

Istidlal (cara pendalilan) syaikh Ibn Utsaimin sangatlah kuat dan ajiib. Satu-satu pembahasanpun mulai kami baca. Dalam istidlal tersebut juga dibahas tentang ushul fiqh. Walaupun, kelas 3 mutawassith belum ada pelajaran ushul fiqh tapi ketika itulah, awal saya mempelajari ushul fiqh dari kitab “syarh ushul min ilm al ushul” yang saya pinjam dari abang saya.

Karena pembahasan itu, saya mulai dikenalkan dengan kitab-kitab lain oleh syaikh Ibn Utsaimin secara tidak langsung.

Seperti  Musnad Imam Amad. Dan pada awal saya mencari hadits tentang Rasul menggerakkan jari telunjuk ketika duduk di antara dua sujud  dalam musnad Ahmad, haditsnya tidak ketemu-ketemu. Dan ketika itu pula, saya mendapatkan ilmu baru kalau metode Musnad berbeda dengan kitab-kitab hadits lainnya. Bertambah lah ilmu saya.

Dan yang paling susah ketika itu adalah mencari hadits bahwasanya Rasulullah menggerakkan jari telunjuk ketika duduk di antara dua sujud.

Cukup lama mencari satu hadits tersebut, karena pada awalnya saya masih buta tentang  metode penulian musnad.

Dan akhirnya jumpalah hadits tersebut di Musnad Ahmad dan haditsny dinilai shahih oleh para ulama. Silahkan lihat Musnad Ahmad No. 18858

Dan akhirnya pun saya juga menggerakkan jari telunjuk ketika duduk di antara dua sujud. Dan ketika itu pula, syaikh Ibn Utsaimin sangat-sangat berharga bagi diriku.

---------------

Fase 2: Mulai Main Petak Umpet Bersama Majmu Fatawa Syaikh Ibn Utsaimin

Karena cerita diataslah saya sering ke maktabah membaca kitab-kitab khususnya majmu fatawa beliau. Mengapa? Karena semakin sering kita membaca kitab, semakin bertambahlah rasa penasaran dan rahasia baru.

Hingga pada akhirnya ketika aku duduk di bangku kelas 1 tsanawiyyah (Tingkat SMA), ada salah seorang ustadz berkata “Kalau mau tahu banyak permasalahan agama, sering-seringlah baca majmu’ fatawa para ulama”.

Perkataan beliau inilah, yang sangat terikat dalam benakku.

Mulai saya memiliki inisiatif.. “Bermain petak umpet”.

Saya mulai membeli buku catatan besar dan tebal. Kertasnya berukuran kertas folio, dan ketika itu sampul buku yang kami beli berwarna biru.

Bagaimana cara bermainnya?

1- Silahkan ambil salah satu jilid dari majmu fatawa syaikh Ibn Utsaimin dan silahkan kamu  membuka langsung daftar isi dan kamu harus menjawab pertanyaan tanpa melihat jawaban syaikh.

2- Lantas dari mana jawabannya? Jawabannya harus cari sendiri di kitab-kitab lain selain kitab Majmu Fatawa.

Jadi, seakan-akan syaikh Ibn Utsaimin menugaskanmu untuk mencari jawabannya dan beliau sedang menunggu jawabanmu.

3- Kenapa petak umpet? Iya, karena jawabannya tidak bisa kamu dapatkan secara langsung. Akan tetapi kamu harus mencarinya terselip di kitab-kitab para ulama.

Dengan hal ini, maka dengan sendirinya kita akan mengenal kitab-kitab ulama.

4- Ketika kamu mendapatkan jawaban selengkap-lengkapnya, maka bandingkanlah dengan jawaban syaikh. Dan ambil jawaban yang paling kuat dari segi cara pendalilan dan derajat hadits, dll

5- Dan ketika kamu tidak mendapatkan jawabannya, sedangkan kamu sudah mencarinya setengah mati maka silahkan lihat jawaban beliau. Di sana beliau akan memberimu jawabannya.

6- Kalau sudah mendapatkan jawabannya, pindahlah ke pertanyaan berikutnya. Dan jangan loncat-loncat.

Contoh: Pada hari ini, saya harus membahas tentang shalat. Maka ambil salah satu jilid yang membahas tentang shalat. Dan bacalah pertannyaannya. Jika pertanyaan sudah dibaca, maka tutuplah kitab majmu’ fatawa. Dan carilah jawabannya sendiri. Silahkan kelilingi maktabah dan bahaslah satu persatu.

Setiap faidah dan jawban yang engkau dapatkan, maka tulislah.. Jika, kamu sudah puas dengan jawaban yang ada, maka bandingkan jawabanmu dengan jawaban syaikh Ibn Utsaimin.

Bandingkanlah, dan ambil jawaban yang paling kuat. Dari cara pendalilan, derajat hadits, dll.

Maka dengan inilah, khazanah ilmu akan bertambah.

Nah, ketika satu pertanyaan sudah dijawab, maka lanjutlah dengan pertanyaan selanjutnya. Dan jangan pernah loncat-loncat. Insya Allah cara ini semakin bermanfaat

----------

Fase 3: Hasil Yang Didapat

Ilmu yang didapat dengan cara petak umpet ini, lebih kuat diingatan kita dari pada yang kita dapatkan dikelas.

Mengapa? Karena dengan cara ini, kita mencari. Sedangkan di kelas diberi. Mencari dengan susah lebih terkenang dari pada mendapatkannya dengan mudah.

Karena permainan petak umpet ini, “Kami pribadi dapat mendapatkan ilmu baru dan dapat mengumpulkan dalam buku catatan saya yang kertasnya berukuran kertas folio, sebanyak kurang lebih sebanyak 100 lembar dalam arti 200 halaman semua dengan bahasa arab”.

Catatan tersebut seperti Masa’il. Setiap masalah maka saya jawab dari kitab-kitab ulama.

Tapi qaddarallah, buku catatan saya hilang ketika perpindahan asrama. Ketika itu, saya pengabdian di Riau dan bukunya saya tinggal di salah satu asrama bukhari. Dan bukunya dipindahkan entah kemana.

Dan semoga pemaparan ini bermanfaat.
 

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top