2

Pertanyaan:

Assalamualaikum.. Ustadz saya mau bertanya. Bagaimanakah takdir dalam pandangan ahlussunnah? Afwan, saya merasa masih bingung dalam memahaminya. Saya khawatir ketidaktahuan saya mengenai pemahaman yang benar seputar takdir bisa mempengaruhi keimanan saya. Mohon penjelasannya.. Jazakumullah khairan

Dari: Cahaya Novia

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh. Pertanyaan ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat penting. Betapa tidak, pertanyaan ini bertanya seputar salah satu rukun iman yang wajib kita yakini. Yakni
“Beriman kepada Qada’ dan Qadar Allah” yang telah Allah dan RasulNya tetapkan dalam hadits jibril, Rasul bersabda:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Rukun iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari kiamat, dan engkau beriman kepada takdirNya baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk” HR Muslim

Perlu diketahui bahwasanya takdir memiliki bebarapa tingkatan yang wajib kita imani.

1- Beriman dengan keimanan yang pasti dan kuat bahwasanya Allah mengetahui dengan segala hal dari ciptaanNya. Allah mengetahui dengan apa yang ditakdirkan olehNya dan bahwasanya ilmu Allah adalah azali dan abadi. Dia mengetahui dengan seluruh ucapanNya dan perbuatanNya maupun perkataan hamabNya dan perbuatan mereka.  Allah ta’ala berfirman:

لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاَطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً

“Ketahuilah bahwasanya Allah mampu atas segala sesuatu. Dan bahwasanya ilmu Allah meliputi segala sesuatu” QS. At Thalaq: 12

2- Bahwasanya Allah telah menulis seluruh takdir makhluk-makhlukNya pada lauh mahfudz 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Sesungguhnya Allah telah menuliskan takdir-takdir para makhluk, 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi” HR Muslim

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
                   
“Sesungguhnya makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah qalam. Maka Allah berkata kepadanya: Tulislah. Qalam bertanya: Wahai Rabbku apa yang akan aku tulis? Allah berfirman: “Tulislah takdir segala sesuatu sampai datangnya hari kiamat” HR Abu Dawud

3-  Beriman kepada kehendak Allah dan keinginanNya. Baik yang berkaitan dengan perbuatanNya atau perbuatan hamba-hambaNya. Allah berfirman:

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَداً* إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan janganlah engkau mengatakan sesungguhnya aku pasti akan melakukan hal tersebut di hari esok, kecuali engau mengatakan jika Allah berkendak” QS. Al Kahfi: 23

Dan firman Allah ta’ala:

وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Dan Allah melakukan apa saja yang Ia kehendaki” QS Ar Ra’d: 26

4- Beriman bahwasanya Allah menciptakan segala sesuatu dari makhluk-makhluknya. Baik dzat mereka maupun sifat mereka dari perkataan mereka ataupun perbuatan mereka. Segela sesutu selain Allah, maka Allah yang menciptakan seluruhnya. Allah berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat” QS. Ash Shaffat: 96

Allah ta’ala juga berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Dialah Allah yang mencpitkan kematian dan kehidupan supaya menguji kalian siapakah diantara kalian yang paling baik amalannya” QS. Al Mulk: 2


Pertanyaan seputar takdir yang sering dipertanyakan:

Kalau takdir sudah ditetapkan baik kita senang ataukah duka, kaya ataukah miskin, masuk surga ataukah masuk neraka, maka buat apa kita berusaha dan bersusah payah?? Toh, urusan kita sudah ditetapkan dan ditulis di lauhil mahfudz?

Jawab: Perlu kita ketahui, selain Allah memiliki kehendak dan telah menulis takdir, Allah juga memberikan kepada kita suatu kehendak. Yang mana dengan kehendak ini, kita bisa memilih dan membedakan antara yang baik dan buruk. Akan tetapi kehendak kita sendiri, berada dibawah kehendak Allah dan keinginanNya. Jadi tidak ada tolak belakang dalam permasalahan ini.

Dalam nash baik Al Quran dan hadits Allah dan Rasulnya menetapkan bahwasanya kita juga memiliki kehendak dan keinginan, sehingga kita harus bekerja dan beramal. Hal seperti ini juga pernah dipertanyakan oleh para sahabat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasul bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ، وَمَقْعَدُهُ مِنَ الجَنَّةِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا، وَنَدَعُ العَمَلَ؟ قَالَ: «اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ

“Tidak ada satu orangpun diantara kalian kecuali telah ditulis tempatnya dineraka atau di surga. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah tidakkah kita bersandar saja kepada takdir yang telah ditulis dan kita tidak perlu beramal? Rasul bersabda: “Beramallah, maka segala sesuatu telah dimudahkan dengan apa yang telah ditetapkan untuknya. Adapun orang yang telah ditetapkan untuk menjadi orang yang berbahagia maka akan dimudahkan untuknya agar melakukan amalan orang-orang yang berbahagia. Dan adapun orang-orang yang sengsara maka akan dimudahkan untuknya agar melakukan amalan orang-orang yang sengsara” HR Bukhari Muslim

Jadi yang perlu dicatat ketika kita beriman kepada takdir Allah adalah kita juga harus berkehendak dan beramal dengan meyakini bahwasanya kehendak kita sudah dikehendaki oleh Allah dan ditulis dalam lauhil mahfudz.

Contoh mudahnya:

1- Ketika kita lapar dan sangat lapar, apa yang akan kita lakukan?? Apa kita hanya diam diri dan hanya bersandar kepada takdir tanpa mencari makanan?? Tentu tidak. Tentu kita akan berkendak untuk mencari makanan dan pada akhirnya kita melakukannya. Dan apa yang kita kehendaki dan kita perbuat, semuanya telah Allah takdirkan dan inginkan. Allah berfirman:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan apa saja yang kamu kehendaki kecuali hal itu telah Allah kehendaki” QS. Al Insan: 30

2- Ketika seseorang mengendarai sebuah mobil, dan dia menyalip kendaraan yang ada di depannya, namun na’as ternyata didepannya terdapat mobil lain di jalur lawan yang berhadapan. Akan tetapi di sebelah jalan terdapat tanah lapang dengan bram yang tidak terlalu tinggi. Maka ada salah satu opsi dari 2 opsi yang akan dipilihnya:

- Dia bersandar kepada takdir dengan mengatakan, “Saya serahkan saja kepada takdir. Toh juga jika saya ditakdirkan untuk tabrakan dan kecelakaan maka saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka saya diam saja tidak mengapa untuk tabrakan”.

Mungkinkah, adakah orang waras seperti diatas???

Atau dia memilih opsi ke dua

- Dia akan berusaha untuk menghindar dari mobil yang ada di jalur lawan agar tidak terjadi kecelakaan dengan membanting stir mobil ke tanah lapang yang ada di sebelah jalan.

Tentu orang yang waras adalah orang yang ke dua. Ini menunjukkan kita tetap memiliki masyi’ah (kehendak) dan usaha. Walaupun kehendak kita tetap dibawah kuasa kehendak Allah. Dan keinginan kita tetap dibawah takdir Allah.

Allahu a’lam semoga bermanfaat.



Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

  1. Ustadz,

    kalimat: "Adapun orang yang telah ditetapkan untuk menjadi orang yang berbahagia maka akan dimudahkan untuknya agar melakukan amalan orang-orang yang berbahagia. Dan adapun orang-orang yang sengsara maka akan dimudahkan untuknya agar melakukan amalan orang-orang yang sengsara"

    berarti kita beramal saja, jika kita beramal kemaksiatan dan terasa semua lancar malah dunia semakin di tangan, apakah pertanda, kesengsaraan di akhirat adalah taqdir kita.
    begitupun, jika kita beramal dengan kebaikan dan sangat mudah selalu ada jalan untuk beramal baik, itu pertanda, taqdir kita adalah kebahagian di akhirat.

    bagaimana penjelasannya

    Syukron.
    barakallahu fiik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adapun "jika seseorang sering mengamalkan ketaatan di dunia" itu adalah sebuah kepastian dia pasti termasuk ahli surga, maka ini adalah salah. Kita tidak bisa memastikan dia di surga tapi kita hanya berdoa dan berharap mudah-mudahan dia termasuk ahli surga disebabkan amalan ketaatan yang dilakukkannya. Begitu pula sebaliknya, dengan ahli maksiat kita tidak bisa memastikan dia adalah ahli neraka.

      Mengapa? Karena kita tidak tahu di akhir hayatnya. Yang menjadi patokan adalah akhir hayatnya. Mari kita sama-sama simak hadits yang sangat memiliki sangkut paut dengan pertanyaan ini (takdir dan amalan).

      Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

      إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمَاً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ المَلَكُ فَيَنفُخُ فِيْهِ الرٌّوْحَ، وَيَؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَالله الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنََّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَايَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

      "Sesungguhnya salah satu dari kamu dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari sebagai bentuk air mani, kemudian menjadi gumpalan darah dalam 40 hari, kemudian menjadi gumpalan daging dalam 40 hari, Kemudian dikirimlah sebuah malaikat kemudian ditiuapkan di dalamnya ruh. Dan malaikat diperintahkan untuk menuliskan 4 perkara: Menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, dan apakah dia bahagaia atau sengsara.Dan demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainNya, sesungguhnya salah satu dari kalian mengerjakan amalan ahli surga sampai tidak ada jarak antara dia dan surga kecuali sejengkal saja, akan tetapi takdir telah mendahuluinya maka dia mengamalkan amalan ahli nerakan maka dia masuk neraka. Dan sesungguhnya salah satu dari kalian mengerjakan amalan ahli neraka sampai tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali sejengkal saja, akan tetapi takdir telah mendahuluinya kemudian mengerjakan amalan ahli surga maka dia memasukinya" HR Bukhari Muslim

      Nah jadi bagaimana solusinya jika seperti itu? Agar iman kita tetap dan tidak berubah menjadi kufur?

      Rasulullah telah memberi solusi yang tepat dalam sabdanya:

      بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

      "Segeralah beramal sebelum datangnya sebuah fitnah seperti malam yang gelap. Seseorang masih beriman di pagi hari akan tetapi di sore hari dia telah kufur. Atau dia di sore hari masih beriman namun di pagi hari dia telah kufur. Dia menjual agamanya dengan harapan dunia" HR Muslim

      Jadi solusinya adalah kita continue dan terus meneurs untuk beramal shalih, maka insya Allah kita akan dijaga oleh Allah. Allahu a'lam

      Hapus

 
Top