0

Ibadah haji sudah semakin dekat saat ini. Banyak para jama’ah haji yang mulai belajar hukum-hukum dan ibadah-ibadah yang berkaitan dengan haji secara khusus. Dan banyak dari jama’ah haji Indonesia yang bertanya-tanya tentang masalah sebuah shalat yang sangat identik dengan haji dan masjid nabawi, yakni shalat arba’in (shalat 40 waktu). Apakah benar ada syariatnya?


Mereka biasanya tinggal seminggu atau 8 hari di masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat arba’in ini. Na’am, dalam sebuah riwayat disebutkan tentang keutamaan shalat Arba’in tersebut. Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلَاةً، لَا يَفُوتُهُ صَلَاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

“Barangsiapa yang shalat 40 waktu di masjidku ini, tidak ada satu shalatpun yang terluputkan, maka ditulis baginya terbebaskan dari neraka dan keselamatan dari adzab dan dia terbebaskan dari kemunafikan” HR Ahmad

Namun karena hadits ini berkaitan dengan suatu hukum ibadah dan pensyari’atan maka kita wajib memeriksa keabsahan hadits diatas.

Ternyata derajat hadits tersebut adalah dho’if tidak bisa dipakai. Karena dalam sanadnya terdapat Nubaith bin Umar. Dan Nubaith bin Umar adalah orang majhul yang tidak dikenal dikalangan ulama hadits dengan periwayatannya.

Dengan ini maka kita tidak bisa mengamalkan hadits tersebut karena ini berkaitan dengan syari’at dan hukum.

Terutama shalat arba’in ini sangat memberatkan bagi para jama’ah haji yang melaksanakannya. Kita bisa mendengarkan sendiri kabar dari para jama’ah haji yang berusaha melakukannya. Maka dari itu ini adalah hal yang memberatkan terutama hal tersebut tidak ada landasannya dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata:

فلا يجوز العمل به لأنه تشريع لا سيما وقد يتحرج من ذلك بعض الحجاج كما علمت ذلك بنفسي طنا منهم أن الوارد فيه ثابت صحيح وقد تفوته بعض الصلوات فيه فيقع في الحرج وقد أراحه الله منه

“Maka tidak boleh mengamlkan hadits tersebut (karena dho’if) karena hadits ini berkaitan dengan pensyari’atan. Terutama sebagian para jama’ah haji keberatan untuk melakukannya sebagaimana yang saya ketahui sendiri. Karena mereka mengira bahwasanya riwayat yang disebutkan dalam masalah ini adalah riwayat yang tetap dan shahih. Dan terkadang ada sebagian shalat yang luput maka dia terjatuh ke dalam beban padahal Allah telah memberikannya keringanan” Hajjah An Nabi hal.143


Semoga pemaparan yang ringkas ini bermanfaat. 


Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol ikuti pada profil FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top