0

Kita ketahui bersama bahwasanya berjima’ dengan istri ketika haid adalah suatu hal yang haram bahkan termasuk dosa besar karena hal tersebut bagian dari kekufuran. Namun bukan berarti pelakunya adalah kafir keluar dari islam. Yang dimaksud adalah kufur nikmat Allah. Dalam sebuah riwayat yang shahih, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من أتى كاهنا فصدقه بما يقول، أو أتى امرأته حائضاً، أوأتى امرأته في دبرها، فقد برئ مما أنزل الله على محمد

“Barangsiapa yang mendatangi dukun dan mempercai apa yang dikatakan olehnya, atau bersetubuh dengan istri ketika dia haid, atau bersetubuh dengan istri melalu duburnya, maka dia telah berlepas diri dari apa yang Allah turunkan kepada Muhammad” HR Abu Dawud dan dishahihkan oleh syaikh Al Albani

Ketika kita mengetahui bahwasanya bersetubuh dengan istri di masa haid adalah dosa besar dan
termasuk kekufuran, lantas bagaimana jika istri telah suci dari haid (darah haid telah berhenti) namun belum mandi. Apakah diperbolehkan?

Dalam sebuah ayat disebutkan:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ

“Dan mereka bertanya kepada tentang haid, katakanlah haid adalah perkara yang kotor maka jauhilah istri-istri (tidak menyetubuhinya) ketika haid dan janganlah dekati mereka kecuali mereka telah suci” QS Al Baqarah: 222

Dalam ayat diatas, “telah suci” apakah yang dimaksud adalah telah berhenti darah haid atau bersuci dengan mandi?

Ternyata lanjutan ayat tersebut yang menafsirkan.

 فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِين

“Maka jika mereka telah “mensucikan diri-diri” mereka maka setubuhilah dari jalan yang Allah perintahkan kepadamu (kemaluan). Sesungguhnya Allah mencintai hamba-hambaNya yang selalu bertaubat dan yang selalu mensucikan dirinya” QS Al Baqarah: 222

Dalam ayat diatas sebagai lanjutan ayat sebelumnya, sangat jelas disebutkan lafadz “mensucikan diri”. Maka dapat kita simpulkan bahwasanya menyetubuhi istri yang baru saja selesai haidnya tidak boleh dilakukan sampai sang istri telah mesucikan dirinya dengan mandi.

Maka dari itu Ibnu Katsir rahimahullah berkata menafsirkan ayat diatas:

وقد اتفق العلماء على أن المرأة إذا انقطع حيضها لا تحل حتى تغتسل بالماء أو تتيمم، إن تعذر ذلك عليها بشرطه

“Dan para ulama telah bersepakat bahwasanya perempuan yang telah selesai masa haidnya, tidak dihalalkan baginya untuk bersetubuh sampai dia mandi atau bertayammum jika dia memiliki udzur dengan syarat-syaratnya” Tafsir Ibni Katsir 1/588

Syaikh Bin Baz rahimahullah memberikan fatwa:

فعليها أن تتطهر بالماء بعد الحيض أو بعد النفاس ثم يأتيها، أما إذا كانوا في سفر أو كانت مريضة لا تستطيع استعمال الماء أو الماء معدوم فالتيمم يقوم مقامه، تتيمم بعد الحيض وبعد النفاس ويأتيها زوجها لأنه طهارة. بارك الله فيكم

“Maka perempuan wajib mensucikan diri dengan air setelah haid atau setelah nifas kemudian baru bisa disetubuhi. Akan tetapi jika mereka dalam keadaan safar atau perempuan tersebut sedang sakit dia tidak mungkin bisa menggunakan air atau air sedang tidak ada maka tayammum yang akan menggantikan kedudukan air. Perempuan tersebut bertayammum setelah haidh atau nifas kemudian suaminya mendatnginya karena dia adalah pensucian. Semoga Allah memberkahimu” Lihat disini

Dari pemaparan diatas, maka sudah jelaslah bahwasanya menyetubuhi istri tidak boleh dilakukan kecuali:

- Jika masa haid sudah selesai.

- Dia telah mensucikan diri dengan mandi atau tayammum jika tidak bisa.


Semoga bermanfaat. Allahu a’lam.


Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top