0

Pertanyaan:

“Assalamualaikum ustadz,ana mau nanya,syubhat mereka yang dilontarkan adalah mengapa imam bukhari meriwayatkan hadist dari ulama syiah,padahal syiah menurut imam bukhari kafir. Mohon jawaban dan nasihatnya ustad”.

Jawaban:

Perlu diketahui bahwasanya syiah banyak tingkatannya. Ada diantara mereka yang hanya mendahulukan Ali bin Abi Thalib dari pada Utsman radhiyallahu anhuma tanpa mencela Abu Bakr dan Umar. Dan diantara
mereka ada yang mendahulukan Ali bin Abi Thalib dari pada Abu Bakr dan Umar radhiyallahu anhum. Bahkan diantara mereka ada yang mencela para sahabat radiyallahu anhum dan mengkafirkan mereka.

Maka perlu diketahui,Imam Bukhari mustahil untuk mengambil riwayat orang-orang syiah rafidhah yang mengkafirkan Abu Bakr dan Umar dan para sahabat lainnya. Karena Imam Bukharipun mengkafirkan mereka. Beliau berkata:

مَا أُبَالِي صَلَّيْتُ خَلْفَ الْجَهْمِيِّ والرَّافِضِيِّ أَمْ صَلَّيْتُ خَلْفَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، وَلَا يُسَلَّمُ عَلَيْهِمْ، وَلَا يُعَادُونَ، وَلَا يُنَاكَحُونَ، وَلَا يَشْهَدُونَ، وَلَا تُؤْكَلُ ذَبَائِحُهُمْ

“Aku tidak berpikir akan shalat dibelakang seorang jahmiyyah dan syiah rafidhah, atau aku shalat dibelakang yahudi dan nashrani. Sesungguhnya mereka tidak ucapkan salam kepadanya, tidak dijenguk ketika sakit, dan mereka tidak dinikahi dengan kaum muslimin, dan mereka tidak boleh memberi kesaksian, dan sesembelihan mereka tidak dimakan”. (Kholqu Af’al Al Ibad hal.33)

Akan tetapi perlu diketahui juga, bahwasanya Imam Bukhari memang benar mengambil riwayat dari syiah. Namun syiah yang hanya mendahulukan Ali bin Abi Thalib dari pada Utsman bin Affan tanpa mencela atau mengkafirkan Abu Bakr dan Umar dan mereka tidak berlepas diri dari keduanya, mereka menghormati Abu Bakr dan Umar serta para sahabat lainnya.

Sehingga tasyayyu’ (syiah) yang dikenal pada zaman para ulama mutaqaddimin dan diambil riwayatnya adalah macam syiah yang seperti ini, tidak sampai mengkafirkan Abu Bakr dan Umar bahkan mereka menghormati keduanya dan para sahabat lainnya.

Imam Ibnu Hajr Al Asqalani rahimahullah berkata menjawab permasalahan ini:

فالتشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان, وأن عليا كان مصيبا في حروبه وأن مخالفه مخطئ مع تقديم الشيخين وتفضيلهما, وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله -صلى الله عليهآله وسلم-, وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا, لا سيما إن كان غير داعية, وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة

“Maka tasyayyu’ (syiah) yang dikenal di kalangan para ulama mutaqaddimin adalah keyakinan untuk mendahulukan Ali dari pada Utsman. Dan bahwasanya Ali lah yang benar dalam peperangan dan orang yang menyelisihi Ali adalah orang yang salah akan tetapi mereka tetap mendahulukan Abu Bakr dan Umar dan tetap memuliakan keduanya. Dan bisa jadi sebagian mereka berkeyakinan bahwasanya Ali adalah makhluk yang paling mulia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan jika keyakinan ini ada pada dirinya dengan menjaga sikap wara’ dan agamanya dan dia melakukannya karena kejujuran dan berijtihad maka riwayatnya tidaklah tertolak karena hal tersebut, terlebih rawi tersebut bukanlah orang yang selalu menyeru kepada keyakinannya. Dan adapun syiah yang dikenal pada zaman ulama muta’akhhirin maka dia adalah rafidhah murni maka tidak diterima riwayat seorang syiah rafidhah yang over dan tidak ada kemuliaan untuk mereka” (Tahdziib At Tahdziib 1/94)

Imam Adz Dzahabi rahimahullah juga berkata:

البدعة على ضربين: فبدعة صغرى كغلو التشيع، أو كالتشيع بلا غلو ولا تحرف، فهذا كثير في التابعين وتابعيهم مع الدين والورع والصدق فلو رد حديث هؤلاء لذهب جملة من الآثار النبوية، وهذه مفسدة بينة ثم بدعة كبرى، كالرفض الكامل والغلو فيه، والحط على أبي بكر وعمر رضي الله عنهما، والدعاء إلى ذلك، فهذا النوع لا يحتج بهم ولا كرامة. وأيضاً فما أستحضر الآن في هذا الضرب رجلا صادقا ولا مأمونا، بل الكذب شعارهم، والتقية والنفاق دثارهم، فكيف يقبل نقل من هذا حاله! حاشا وكلا. فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو من تكلم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا رضي الله عنه، وتعرض لسبهم. والغالي في زماننا وعرفنا هو الذي يكفر هؤلاء السادة، ويتبرأ من الشيخين أيضاً، فهذا ضال معثر
                                                                                  
“Bid’ah ada 2 macam: Ada bid’ah kecil seperti bid’ahnya  sikap berlebihannya  syiah atau seperti syiah yang tidak berlebihan dan tidak merubah-rubah syariat. Maka ini banyak terjadi dari kalangan tabiin maupun tabiut tabi’in akan tetapi mereka tetap menjaga agama mereka dan kewara’an dan keikhlasan (kejujuran) mereka, seandainya hadits mereka ditolak maka beberapa jumlah atsar (hadits) nabi akan hilang. Dan ini adalah mafsadah yang jelas. Kemudian ada bid’ah yang besar, seperti rafidhah yang sempurna dan over didalamnya. Dan merendahkan Abu Bakr dan Umar radiyallahu anhuma dan menyeru kepada hal tersebut. Maka macam bid’ah seperti ini tidak perlu dijadikan hujjah dan tidak ada kemuliaan untuknya. Dan aku juga tidak bisa menghadirkan contoh seseorang yang jujur dan amanah dalam permasalahan ini, karena dusta ada lah syi’ar mereka, dan taqiyyah dan kemunafikan adalah baju khas mereka, maka bagaimana akan diterima penukilah dari orang yang seperti ini keadaannya! Sekali-kali tidak. Maka syiah yang over di zaman orang-orang terdahulu adalah orang yang membicarakan Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah, dan sebuah kelompok yang memerangi Ali rahiyallahu anhu, dan bisa jadi mereka juga mencela. Adapun syiah yang over di zaman kita dan apa yang kita kenal dia adalah yang mencela mereka selaku para pemimpin (Abu Bakr dkk) dan berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar, maka ini adalah kesesatan yang sangat buruk”. (Mizan Al I’tidal hal. 5-6)


Sehingga perlu diketahui, kesyiahan orang yang membuat syubhat sangat berbeda dengan kesyiahan para perawi di zaman para salaf yang diterima riwayatnya. Sehingga batillah syubhat mereka dan sudah terbantahkan. Jadi, syiah bukanlah satu tingkatan dan syiah yang diterima riwayatnya adalah syiah yang hanya mendahulukan Ali dari pada Utsman namun mereka tetap menghormati Abu Bakr dan Umar dan para sahabat lainnya bahkan mereka tetap menghormati mereka.


Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top