4

Mungkin ada yang perlu dilanjutkan sedikit dalam pembahasan ini, dan insya Allah tidak akan panjang.

Pada pembahasan yang lalu, kita sudah membahas bahwasanya para asatidzah dan dai boleh menampilkan kajian-kajian mereka di televisi. Karena:

1- Wanita boleh melihat lelaki selama yang dilihat adalah bukan auratnya dan tidak dengan syahwat.

2- Video kajian yang ada dalam televisi tidaklah masuk dalam hukum tashwiir (menggambar)

Pada pembahasan yang lalu, kita menggunakan fatwa syaikh Shalih Al Fauzan hafidzahullah akan kebolehan seorang da’i dan thalibul ilmi untuk berdakwah dan disiar di televisi.

= > Kemudian timbul pertanyaan, “Bukankah syaikh Shalih Al Fauzan mengharamkan wanita menonton
kajian seorang masyaikh dan asatidzah di televisi? Yang mana televisi menampilkan wajah mereka? Kalau begitu mengapa kamu membolehkan da’i tampil di televisi sedangkan syaikh shalih Al Fauzan sudah mengharamkannya?”

= > Maka jawabannya adalah: “Betul, syaikh Shalih Al Fauzan mengharamkan seorang wanita untuk menonton kajian sang ustadz akan tetapi syaikh Shalih Al Fauzan hanya mengharamkan wanita yang menonton dan sama sekali tidak mengharamkan seorang da’i untuk tampil di televisi. Bahkan syaikh Shalih sendiri dalam beberapa videonya juga pernah tampil di beberapa qanat (channel) yang ada. Dan kita bisa melihat syaikh Shalih Al Fauzan juga tampil di televisi, dan saudara sekalian juga bisa mencari video-video beliau”.

Mari kita simak fatwa beliau dan mari kita bersikap adil dalam meyikapi fatwa beliau, beliau ditanya:

ما حكم نظر المرأة إلى الرجل في التلفاز كنظرها إلى الدعاة و المشايخ و العلماء عند إلقائهم للمحاضرات؟

“Apa hukumnya wanita melihat kepada lelaki yang ada dalam televisi, seperti wanita tersebut melihat kepada para dai, masyaikh, dan ulama, ketika mereka mengisi kajian?”

Syaikh –hafidzahullah- menjawab:

والله هذه بلية ، مسألة الشاشات هده وظهور الرجال أمام النساء والنساء أمام الرجال هذه مصيبة ، فبإمكانها أنها تستمع إلى للمواعظ وإلى الدروس من الراديو ما تشوف في صورة . نعم .

“Demi Allah, ini adalah musibah. Permasalahan layar ini dan tampilnya seorang lelaki di depan wanita dan wanita di depan lelaki adalah musibah. Wanita ini cukup mendengarkan nasihat dan pelajaran melalui radio yang tidak kelihatan tampilan (sang penceramah), na’am”.

Silahkan dengarkan fatwa beliau disini

Dengan fatwa ini, sudah sangat jelas yang dilarang oleh syaikh adalah khusus buat wanita yang nonton kajian dan sama sekali syaikh tidak melarang seorang da’i untuk tampil di televisi.

= > Kita ambil contoh ringannya saja, seseorang bertanya: Ustadz bagaimana jika ada pertanyaan seperti ini:
"Jika fatwa syaikh Fauzan seperti itu, maka seharusnya tidak menampilkan wajah wajah para dai tersebut sebagai bentuk menghindarkan sebab dilihatnya wajah wajah para dai tsb yang berakibat adanya musibah wanita wanita melihat laki laki yg bukan mahromnya"

= > Maka jawabnya: Larangan syaikh Shalih Fauzan hanya khusus untuk wanita yang menonton kajian ustadz dan syaikh shalih tidak melarang sang ustadz kajian di tv dan tidak melarang laki-laki yang menonton kajian di tv.

Sama halnya dengan dokter melarang seseorang yang terkena penyakit asam urat untuk memakan kacang. Larangan dokter hanya khusus untuk orang yang terkena penyakit asam urat saja dan dokter tidak melarang produksi kacang dan tidak melarang orang yang sehat makan kacang.

Apa mungkin, kita bawa larangan dokter (yang khusus untuk orang yang terkena penyakit asam urat untuk tidak makan kacang), bahwasanya dokter melarang produksi kacang dan bahwasanya dokter melarang orang yang sehat untuk makan kacang?? Tentu jawabannya tidak mungkin, dan inilah namanya membawa fatwa dengan serampangan.

Begitupula halnya dengan fatwa syaikh Shalih Al Fauzan tadi".

Jadi kita perlu adil dalam mengambil fatwa seorang syaikh, tempatkanlah pada tempatnya. Bukan malah serampangan dalam menyikapi fatwa seorang syaikh. Kami ulangi, “Yang perlu diketahui adalah Syaikh hanya melarang wanita yang menonton para da’i di tv bukan melarang da’i tersebut untuk tampil di tv”.

Lihat fatwa-fatwa syaikh akan kebolehan seorang da’i tampil di televisi pada pembahasan yang lalu.

Dan sudah kita ketahui bersama (pada pembahasan yang lalu), bahwasanya hukum wanita melihat kepada lelaki ajnabi (yang bukan mahramnya) masih diperslisihkan antar ulama, ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Jadi ini adalah masalah ijtihadiyyah, kita harus berlapang dada dan tidak boleh memaksa orang yang tidak sependapat dengannya. Setiap kelompok memiliki dalil + dan sudut pandang. Maka dari itu disebutkan dalam sebuah kaidah:

لا إنكار في مسائل الاجتهاد

“Tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihad”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا حَكَمَ الحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Jika seorang hakim (ulama) berhukum kemudian berijtihad, kemudian benar ijtihadnya maka dia mendapatkan 2 pahala, dan jika dia berhukum dan berijtihad kemudian ijtihadnya salah maka akan mendapatkan 1 pahala” HR Bukhari Muslim

Yang salah dalam ijtihad tidak akan mendapatkan dosa, bahkan mendapatkan satu pahala. Jadi tak perlu otot-ototan dan marah-marahan terlebih sampai mencela.

Contoh, salah satu orang  yang tidak memiliki adab ketika menyikapi masalah ijtihadiyyah adalah perkataan seorang akhwat:

“Firanda itu memang senjata makan tuan,menjilat ludah nya sendri” Salah satu perkataan seorang akhwat di dunia maya

Pertanyaan kami: “Adakah syaikh Shalih Fauzan menghina para ulama yang tampil di TV, Walaupun syaikh Shalih Fauzan sendiri mengharamkan wanita melihat kajian seorang ustadz?

Jawabannya: Sama sekali syaikh tidak pernah mencela, bahkan syaikh Al Fauzan sendiri juga tampil di TV.

Nasihat terakhir kami pada pembahasan ini adalah “Bersikap adil lah dalam menyikapi fatwa seorang syaikh, dan berlapang dada lah ketika terjadi perselisihan ulama”.

Jadi tidak diragukan lagi, salah satu sebab kerusuhan yang terjadi antara ikhwan-ikhwan kita adalah “Murid kemarin sore sudah berani menghina para asatidzah yang sudah lama menimba ilmu di hadapan para ulama”.


Allah Al Muwaffiq 


Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry  

Poskan Komentar

  1. Bismillah,hendaklah seseorang itu tahu kadar dirinya sebelum dirinya melakukan sesuatu. Sehingga apa yang dia kerjakan semata-mata hanyalah diniatkan ikhlash karena Allah dan sesuatu dengan tuntunan Rasulullah sesuai dengan bimbingan para ulama' sehingga apa yang dia goreskan bebas dari sifat ashobiyyah dan semangat pembelaan terhadap hizb atau kelompok yang dia sukai, sehingga al-haq dibutakan terhadap matanya...
    1. Nampaknya antum lah yang merupakan pemain baru (yang dalam bahasa antum anak kemarin sore) dalam dakwah salafiyyah yang mubarokah ini, sehingga tidak tahu sejarah....
    2. Terkait dengan permasalahan televisi ini, atau gambar ustadz laki-laki ini sudah banyak yang membahas baik yang pro maupun yang kontra.
    3. Salah satu yang pro, adalah mereka yang sedang antum bela tersebut. Yang didalam kajian-kajiannya, di tempat akhwatnya diberikan layar lebar untuk menonton ustadznya. Kira2 tujuannya apa kalau bukan disuruh nonton??????? Kalau mengikuti logika antum yang aneh tersebut, dimana pengharamannya hanya dari sisi perempuan, kira2 pernah antum temui tidak sebelum di kajian tersebut dimulai diumumkan """ Bagi akhwat sekalian, telah ada layar yang menampilkan wajah ustadz di tempat kalian, namun karena haram maka antunna sekalian HARUS MEREM saat kajian"""
    4. Kira-kira faedahnya apa sih dengan menampilkan video, coba sekarang kita hilangkan suaranya adakah ilmu yang sampai kepada yang menontonnya???????
    5. Terkait dengan pengambilan video dalam kajian, silahkan baca khusus fatwa syaikh sholih fauzan http://www.alfawzan.af.org.sa/node/10159
    6. Benarkah dalam perkara ijtihadiyyah tidak boleh ada pengingkaran???? silahkan baca http://www.tauhidfirst.net/benarkah-tidak-ada-pengingkaran-dalam-perkara-ijtihadiyah/

    Semoga bermanfaat.....

    Abdullah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari seluruh apa yang antum sampaikan, ana tertarik dengan satu poin. Yakni poin yang pertama.

      Dan memang betul dan sangat betul ana adalah pemain baru. Tapi ana pemain baru yang tidak suka mencela para asatidzah, tidak suka taklid buta kepada gurunya, tidak suka memiliki pemikran beku alias mandek, manut sama perkataan guru tanpa mau membahasnya kembali.

      Adapun yang antum katakan ana tidak tahu sejarah, itu kan hanya keluar dari lisan antum. Antum tidak ada bukti dan hanya bicara. Kalau hanya bicara A, I, U, E, O anak antum juga pintar ngomongnya. Tapi buktikan kalau ana tak tahu sejarah, baru antum bicara. Semoga Allah lebih menjaga lisan anda. Na'am

      Hapus
  2. Bismillah, nampaknya antum kurang cermat ya Akhii, masak antum qiyaskan video dengan kacang dimana semua orang sepakat kacang itu halal???
    Jadi kayaknya ini adalah qiyas ma'a alfariq...
    Kayaknya tanggapan akhii abdullah di atas perlu antum bahas point per point..
    Abdurahman..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah, qiyas ma'al fariq gimana?? Memang itu halal. Makanya coba baca duahulu pembahasan yang lalu. Bacanya hingga tuntas, jangan setengah-setengah..

      Bahas point perpoint, ana rasa artikel yang lalu sama yang diatas sudah mencukupi sebagai jawaban point-point yang disebutkan. Na'am.

      Hapus

 
Top