1

Galau karena cinta?? Atau gundah gulana karena cinta bertepuk sebelah tangan??

Mungkin saya dan kamu sudah menjadi korbannya.

Tapi siapa sangka ternyata ulama tersohor juga pernah menjadi korban cinta, “cinta bertepuk sebelah tangan”. Dan kisah ini, beliau sendiri yang menceritakan dalam kitabnya.

Siapakah beliau? Beliau adalah ulama terkemuka dari kalangan madzhab dzahiri yang menjadi korban “cinta bertepuk sebelah tangan”! Wah.. Kalau ulama terkemuka di kalangan madzhab dzahiri siapa lagi kalau
bukan beliau. Ya beliau.. Imam Ibnu Hazm Adz Dzahiri Al Andalusi rahimahullah ta’ala. Ulama terkenal akan karya-karyanya yang memukau. Seorang ulama yang terkenal akan kiprahnya dalam dakwah dan menyebarkan islam.

Cerita yang beliau tuturkan sangat menarik dan ajib sekali. Sangat patut untuk kita baca.

Coba saudara-saudari sekalian, membuka kitabnya yang berjudul “Thouq Al Hamamah” dan silahkan dibaca penuturan beliau pada halaman  249

Disini kami akan menceritakannya dengan gaya bahasa sendiri.  

=====

Dahulu beliau di masa muda pernah tertarik akan kelembutan rasa cinta yang dialaminya. Beliau tertarik dengan seorang budak milik orang tuanya, dan budak ini masihlah muda yang baru berumur 16 tahun. Budak ini sungguh pemudi yang memiliki rasa malu dan menjaga kehormatan dirinya. Ibnu Hazm menyifati perempuan ini bahwasanya dia menawan dan elok wajah rupanya, bersih, tidak banyak berbicara, selalu menundukkan pandangan mata, selalu tenang, dan sifat-sifat lain yang beliau sebutkan. Yang mana wanita ini adalah seorang wanita cantik dan pendiam.

Lanjut ke kisah..

Ternyata beliau ini mulai memiliki perhatian kepadanya dan akhirnya jatuh cinta dan sangat mencintai sang wanita pujaannya. Selama dua tahun beliau menunggu kalimat khusus dari sang kekasih pujaannya. Dan memendam rasa cinta yang menyakitkan.

Dan ternyata, eh ternyata....

Segala upaya dan dayanya.. Segala masa dan zaman penantiannya.. Ternyata Ibnu Hazm tak mendapatkan sepatah katapun yang terucap untuknya.

Kemudian di suatu hari, digelarlah acara para penguasa di rumah beliau. Dan para wanita juga ikut dalam acara tersebut.

Tatkala permulaan siang dan mentari mulai naik, para wanita pergi ke balkon rumah yang tersambung dengan taman-taman rumah untuk melihat keindahan kota qurthubah (biasanya ulama dinisbatkan ke kota ini menjadi Al Qurthubi, seperti pemiliki buku tafsir “Al Jami’ Li Ahkaam Al Quran” yang terkenal dengan sebutan tafsir Al Qurthubi. Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad Al Qurthubi) atau kota qurthubah lebih familiar di telinga kita dengan nama “Cordoba”.

Nah, setelah itu Ibnu Hazm segera menuju sebuah pintu yang disana ada sang wanita pujaannya. Beliau mencari-cari tempat untuk bisa berdekatan dan bersampingan dengannya. Dan tepat, beliau sudah berada disamping wanita pujaannya.

Dan ternyata, wanita pujaannya sadar bahwasanya Ibnu Hazm berada disebalahnya. Lantas, pergilah wanita ini menuju pintu lainnya untuk menghindari Ibnu Hazm. Wanita ini berjalan dengan lemah dan santai. Ibnu Hazm, tak tinggal diam dan beliaupun mengekor wanita pujaannya ingin berada di sampingnya. Akan tetapi, tatkala Ibnu Hazm sudah berada disamping wanita pujaanya, dia malah pergi dan meninggalkannya dan begitulah kejadian ini berulang-ulang.

Dan sepertinya, wanita ini telah mengetahui isi hati yang disimpan oleh Ibnu Hazm untuknya. Dan ibu-ibu yang hadir disaat itu, tidak mengetahui apa yang dilakukan Ibnu Hazm karena ramainya orang yang berlalu lalang.

Dan para ibu-ibu sangat ingin mendengar lantunan bait-bait syair dari tuan rumah (Ibu Ibnu Hazm). Kemudian Ibu beliau merintahkan budaknya untuk melantunkan bait-bait syair. Maka tambah bahagialah Ibnu Hazm melihatnya.

Kemudian singkat cerita, Ibnu Hazm dan keluarga beliau pindah rumah pada bulan jumada Al Akhirah pada tahun 399 H, akan tetapi budaknya tidak ikut pindah karena ada beberapa kepentingan yang mewajibkannya  tetap tinggal disana.

Kemudian ada salah satu anggota keluarga Ibnu Hazm yang meninggal, dan ternyata Ibnu Hazm melihat wanita pujaannya ikut hadir di sana. Wanita pujaannya berdiri di tengah-tegah diantara para  wanita lainnya yang sedang sedih dan menangis.

Ternyata kehadiran sang wanita pujaannya telah membangkitkan cinta lamnaya yang terpendam. Dan kehadirannya telah mengembalikan memori beliau akan kenangan-kenangan yang telah berlalu. Akan tetapi hal tersebut, hanya akan menambah kesedihan Ibnu Hazm dan menyakiti hatinya.

Dan Ibnu Hazm yakin bahwasanya itu hanyalah sekedar “cinta bertepuk sebelah tangan” yang hanya akan menyakiti hatinya.

Selang beberapa tahun.. Tepatnya pada bulan syawwal pada tahun 409 H Ibnu Hazm memasuki kota Cordoba kembali, dan wanita tersebut hilang dari penglihatannya setelah enam tahun lamanya. Ibnu Hazm terkahir melihat wanita pujaannya dikala wanita tersebut mengunjungi salah satu keluarga Ibnu Hazm yang telah meninggal.

Dan ternyata Ibnu Hazm melihat wujud wanita pujaannya di cordoba, akan tetapi Ibnu Hazm tak bisa mengenalinya dengan baik. Sampai-sampai dikatakan kepada beliau: “Ini adalah fulanah (wanita pujaan Ibnu hazm)”.

Dan ternyata benar, bahwasanya itu adalah wanita pujaannya. Dan ternyata kecantikan wajahnya telah memudar. Keelokan wajahnya sudah hilang dari tubuhnya. Dan kecerahan wajahnya sudah sirna dan musnah. Yang tersisa hanyalah sedikit saja dari kecantikan tubuhnya yang dapat dikenal.

Hal itu semua karena dia sudah tak dapat lagi menjaga tubuhnya, sebagaimana dia selalu menjaganya ketika zaman daulah Ibnu Hazm. Dan dia saat ini, memang harus keluar rumah untuk kebutuhan hidupnya.

Maka wanita itu hakikatnya seperti tanaman yang harum.. Jika tidak dirawat maka akan berkurang keharumannya.

Dan wanita itu seperti bangunan, jika tidak dijaga maka akan roboh bangunannya.

=====

Faidah yang dapat dipetik:

1- Rasa cinta kepada kekasih biasanya timbul pada masa-masa remaja dan ini adalah hal yang wajar dan sudah menjadi rahasia umum. Namun rasa cinta ini perlu dijaga dan diarahkan, jangan sampai jatuh kepada hal-hal yang Allah haramkan.

2- Agar rasa cinta yang kita pendam tidak menjerumuskan kita kepada sesuatu yang Allah haramkan, maka segeralah untuk menikah dan jika belum mampu maka berpuasalah. Rasulullah bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah mampu untuk menikah maka menikahlah, sesungguhnya nikahlah yang paling dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemalua. Dan barangsiapa yang belum mampu maka berpuasalah , sesungguhnya dalam puasa terdapat tameng (untuk menjaga dari keharaman)” HR Bukhari Muslim

3- Untuk orang tua atau wali seorang akhwat jangan ragu-ragu untuk menikahkan anaknya, jangan sampai anak anda menjadi seperti wanita yang pernah menjadi pujaannya Ibnu Hazm rahimahullah. Dia harus keluar rumah sendiri untuk mencari kebutuhan hidup sehingga tidak bisa menjaga kecantikan tubuhnya dan pudarlah keindahan wajahnya.

4- Terutama wanita dizaman ini jauh lebih banyak dibandingkan lelaki. Jangan sampai jadi perawan tua yang tersiksa. Begitu pula dengan lelaki jangan sampai menjadi perjaka lapuk.


Allahu a’lam. Semoga bermafaat.



Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.



Ikuti status kami dengan menekan tombol follow pada akun FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry  

Poskan Komentar

 
Top