4



Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwasanya Emilia Renita (dedengkot syiah) mengaku tidak pernah melakukan nikah mut’ah, sedangkan dalam ajaran syiah nikah mut’ah adalah wajib. Dan Emilia tidak melakukan nikah mut’ah karena beberapa alasan yang diungkapkan olehnya, dan kami (Al Amiry) akan jawab semua alasannya:

1- Karena nikah mut’ah adalah amalan yang menjijikkan. (Walaupun dia akhirnya berubah pikiran 180
derajat, dan sekarang malah menyatakan bahwasanya mut’ah adalah wasilah untuk menjaga iffah. Kemungkinan ini akibat dusta atas nama taqiyyah yang pada akhirnya menjerat Emilia untuk berubah pikiran dan ketahuan kedoknya)

2- Emilia beralasan karena setiap yang halal tidak harus dilakukan. (Dan alasan ini telah kami jawab dengan perkataan kami:” Yang dipermasalahkan bukanlah “halal atau tidak halalnya mut’ah”. Akan tetapi yang dipermasalahkan adalah “nikah mut’ah bukan hanya sekedar halal dalam ajaran syiah akan tetapi wajib”. Karena ada hukuman bagi orang yang meninggalkan nikah mut’ah alias tidak melakukannya, seperti dilaknat dan kemaluannya akan terpotong pada hari kiamat, sehingga wajib atas Emilia untuk melakukan nikah mut’ah. Yang ingin tahu ancaman syiah yang tidak melakukan nikah mut’ah, silahkan kembali kepada artikel kami sebelumnya)

3- Emilia beralasan karena nikah mut’ah tidak mungkin dilakukannya karena dia telah memiliki suami. (Maka disinilah yang akan kami bahas kembali dengan fatwa imam besar syiah yang mengancam diri Emilia).

Dan alasan-alasan Emilia akan kami berantas semua. Sehingga tidak ada lagi alasan baginya kecuali hanya akan melakukan nikah mut’ah, atau dia mau bertaubat dengan kembali menuju ajaran yang benar yakni ajaran sunni.

Dan jika dia melakukan mut’ah seharusnya dia tidak menyembunyikan nikah mut’ahnya, karena menurut syiah mut’ah adalah ibadah yang sangat agung. Sebagaimana sunni yang bangga akan ibadah nikah yang dilakukan oleh mereka dan diumumkan melalui walimatul ursy.

Akan tetapi jika Emila tidak mengumumkannya maka berarti dia malu, dan secara tidak langsung dia pun menyatakan bahwasanya syi’ah malu-maluin.

===============

Kami mulai pembahasan:

Disaat kami tanyakan kepada Emilia Renita Az, “Mengapa dia tidak melakukan nikah mut’ah bahkan tidak mau mut’ah sedangkan ada ancaman keras bagi orang yang tidak nikah mut’ah dalam ajaran syiah”. Maka dengan ringan , dia menjawab: “Karena aku sudah memiliki suami”.

Thoyyib, maka hal ini kami (Al Amiry) jawab alasannya “Karena aku sudah memiliki suami” dengan fatwa ittifaq (kesepakatan) ulama syiah salah satunya “ Sh Muhsin Al Asfor”  yang kami ambil dalam akun twitternya:

يجوز للمتزوجة ان تتمتع من غير أذن زوجها ، وفي حال كان بأذن زوجها فأن نسبة الأجر أقل ،شرط وجوب النية انه خالصاً لوجه الله

Diperbolehkan bagi seorang istri untuk bermut’ah (kawin kontrak dengan lelaki lain) tanpa izin dari suaminya, dan jika mut’ah dengan izin suaminya maka pahala yang akan didapatkan akan lebih sedikit, dengan syarat wajibnya niat bahwasanya ikhlas untuk wajah Allah” Fatawa 12/432

Ternyata Emilia dan pengikutnya tidak menerima fatwa kesepakatan ulama mereka sendiri akan sahnya nikah mut’ah yang dilakukan oleh seorang perempuan walaupun sudah memiliki suami. Mereka mencari-cari alasan untuk membatalkan fatwa ini. Adapun alasan mereka:

1- Emilia menyanggah fatwa ini dengan berkata: “Siapa Sh Mohsin itu ?? Kami gak ada yang tahu.”

2- Penganut syiah juga mendukung Emilia Renita sambil menyanggah kami: “ Copas perbincangan di dumay tidak meyakinkan karena bisa direkayasa.. sangat gampang untuk itu.. Saya butuh bukunya yg asli dari pustaka syiah”

Tanggapan kami (Al Amiry):

Thoyyib, permintaan Emilia dan Penganutnya akan kami penuhi, kedua-duanya  akan kami lakukan. Kami akan membawakan fatwa sahnya nikah mut’ah seorang perempuan walaupun dia sudah memiliki suami –menurut ajaran syiah-. Dan fatwa ini kami ambil dari seorang ulama syiah yang tidak diragukan lagi fatwanya dan fatwa ini juga kami ambil dari kitabnya langsung, dan akan kami screenshoot fatwanya, sehingga permintaan Emilia dan pendukungnya akan kami penuhi.

Imam mereka “Khumaini” berkata:

يستحب أن تكون المتمتع بها مؤمنة عفيفة ، و السؤال عن حالها قبل التزويج و أنها ذات بعل أو ذات عدة أم لا ، و أما بعده فمكروه ، و ليس السؤال و الفحص عن حالها شرطا فى الصحة

“Disunnahkan agar perempuan yang dimut’ah adalah seorang mu’minah yang menjaga iffah, dan disunnahkan juga untuk menanyakan statusnya sebelum nikah mut’ah apakah dia masih memiliki suami  atukah tidak dan masih dalam masa iddah ataukah tidak. Adapun menanyakan statusnya setelah nikah mut’ah maka hukumnya makruh. Dan bertanya hal tersebut serta memeriksa statusnya bukanlah syarat sahnya nikah mut’ah” Tahrir Al Wasilah Hal. 906 Masalah ke 17

Lihatlah bagaimana fatwa Imamnya syiah “Khumaini” diatas. Yang mana sudah kami screenshoot.

- Menurut ajaran syiah, jika wanita tersebut memang benar telah memiliki suami, maka lelaki yang memut’ahnya tidak boleh menanyakan status wanita tadi. Cukuplah baginya untuk melanjutkan nikah mut’ah tanpa bertanya.

- Seandainya nikah mut’ah bersama seorang wanita yang sudah mempunyai suami adalah haram, maka seharusnya nikah mut’ah mereka batal. Akan tetapi Imam mereka tidak membatalkannya. Bahkan menganggapnya sah dengan memerintahkan lelaki tadi untuk tidak menanyakan status wanita tersebut.

- Fatwa tersebut menyatakan bahwasanya bertanya tentang status wanita tersebut sebelum dilakukannya nikah mut’ah hanyalah sunnah dan bukanlah wajib. Sehingga dapat diambil hukum bahwasanya nikah mut’ah bersama wanita yang masih memiliki suami adalah sah karena hukum menanyakan statusnya sebelum menikah adalah sunnah dan bukanlah wajib.

- Sebaliknya yang menanyakan status wanita tersebut setelah dilakukan akad nikah mut’ah adalah makruh dan dibenci walaupun secara nyata dia masih memiliki suami. Ini lebih menguatkan akan sah nya nikah mut’ah walaupun dilakukan oleh wanita yang masih memiliki suami.

- Lebih jelas lagi, silahkan lihat fatwa terakhir, bertanya akan status seorang wanita yang sudah memiliki suami bukanlah syarat sah nikah mut’ah. Sehingga seorang syiah yang nikah mut’ah bersama seorang wanita yang telah bersuami tanpa bertanya terlebih dahulu hukumnya adalah sah, karena dia bukan dari syarat sah nikah mut’ah.

Lantas bagaimana dengan Emilia Renita Az ?? Jika dia melakukan nikah mut’ah bersama seorang syiah sedangkan dia telah mempunyai suami apakah sah nikahnya?? Maka jawabannya adalah sah dan boleh, dan ini menurut Imam Besarnya syiah terkhususkan imam besarnya Emilia sendiri.

Maka alasan apa lagi yang akan dikeluarkan oleh dedengkot syiah ini ??

Fatwa serupa difatwakan oleh ulama besar syiah juga, yakni “As Sayyid Ali As Sistani” dalam Minhaj Ash Sholihin 52/8. Jika Emilia meminta screenshoot fatwa yang ini, maka akan kami berikan juga. Walaupun lebih baik tidak kami berikan, karena dia adalah seorang dedengkot syiah yang seharusnya paham dan mengerti tentang isi kitab-kitab ulama syiah. Apa mungkin seorang dedengkot syiah selalu disuapin oleh seorang sunni yang hanya seorang penuntut ilmu ??

Bahkan Imam mereka Ja’far Ash Shodiq telah menegur seseorang karena dia memeriksa status wanita mut’ahnya yang telah memiliki suami. Disebutkan dalam kitab mereka:

قال: قلت اني تزوجت امرأة متعة فوقع في نفسي أن لها زوجا ففتشت عن ذلك فوجدت لها زوجا قال: ولم فتشت؟!

Seseorang berkata: Aku berkata: seseungguhnya aku menikahi seorang wanita secara mut’ah, maka terbesit dalam pikiranku bahwasanya dia memiliki seorang suami. Maka aku memeriksa hal tersebut dan aku mendapatkannya dia masih memiliki seorang suami. Maka Ja’far berkata: “Kenapa engkau malah memeriksa statusnya ?!” Tahdzib Al Ahkam 218/13 dan Wasa’il Asy Syiah 246/6

Lihat, apa yang dilakukan oleh Imam Mereka Ja’far Ash Shodiq yang melarang seseorang karena dia telah memeriksa dan menanyakan status wanita mut’ahnya yang telah memiliki suami. Jika Emilia mau bukti dengan minta screenshootnya, maka akan kami berikan kepadanya, baik dari kitab tahdzib Al Ahkam ataupun Wasa’il Asy Syiah. Jangan kira kami sembarang copas, karena kami punya kitab ini semua dan kami screenshoot langsung dari kitab mereka. Alasan apa lagi yang akan dilakukan oleh dedengkot syiah satu ini ??

Maka tatkala ajaran syiah mewajibkan penganutnya untuk bermut’ah karena orang yang tidak melakukan mut’ah akan di adzab, akankah Emilia beralasan ??

Jika dia beralasan karena punya suami, maka telah kami berantas alasannya diatas.

Maka pertanyaan terkahir, apakah alasan-alasan yang dikeluarkan olehnya adalah hasil taqiyyah darinya ?? Padahal sebenarnya dia menghalalkannya ?? Apa mungkin seorang dedengkot syiah tidak mengetahui fatwa ini ??

Maka tidak ada alasan lagi bagi Emilia untuk lari dengan berkilah dan beralasan. Sehingga dia hanya akan melakukan salah satu dari dua hal:

1- Dia akan melakukan mut’ah, karena menurut syiah, mut’ah adalah wajib. Sedangkan dia sama sekali belum melakukan mut’ah dalam hidupnya –sesuai pengakuannya- sedangkan yang tidak melakukan mut’ah dalam hidupnya  akan diancam dan dilaknat

2- Dia akan mengingkari syariat mut’ah dengan mendustakan ajaran syiah yang jorok.

Jika dia tetap berpegang teguh tidak mau mut’ah tapi masih meyakini ajaran syiah maka dia terlaknat dalam ajaran syiah dan terlaknat dalam ajaran sunni.  Laknat diatas laknat.

Maka, jika dia akan melakukan mut’ah, kami ingin berita dan kabar darinya “siapakah lelaki yang akan dimut’ahnya” dan “berapa kali dia akan bermut’ah” “apakah 1 kali sehingga sama seperti derajat Husein, atau dua kali seperti Hasan, 3 kali seperti Ali, dan 4 kali seperti Nabi”

Jika dia tidak melakukan mut’ah dan mengingkarinya, maka alhamdulillah fitrahnya sebagai seorang wanita masih ada pada dirinya dengan syarat dia harus meninggalkan ajaran syiah seluruhnya dan bukan setengah-setengah.  Karena syiah dan sunni bagaikan air dan minyak yang mana Emilia harus memilih salah satu darinya karena kedua ajaran ini tidak mungkin disatukan.

Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

  1. Kalau memang mereka adalah pengikut yang taat dari Ali KW, tentunya mereka tahu bahwa, beliau tidak diperkenankan berpoligami oleh Rasulullah SAW, dengan alasan supaya tidak menyakiti hati Fatimah AzZahra. Mungkinkah Ali berani melanggar larangan Nabi SAW menyakiti isterinya dengan melakukan poligami atau mut'ah?

    BalasHapus
  2. Syi'ah Rafidhoh merupakan golongan kaum yang sangat tolol, naudzubillahi min dzalik semoga kita semua diberi hidayah dan terhindar dari setan yang terkutuk..

    BalasHapus
  3. Kwkwkwkwkwkw ER malu maluin...ER tu takut di poligami..kwkwkwkwk
    tobat la ER. Monggo ER q jg minat nikahi kamu secara halal dan syah, biar tak cuci otakmu dari ajaran syiah.

    BalasHapus
  4. Bahaya syiah sudah mengancam kerukunan umat beragama

    BalasHapus

 
Top