0


Sebagaimana yang kita ketahui pada 10 Muharram tiap tahunnya syiah mengadakan acara niyahah (ratapan) atas kematian Husain bin Ali bin Abi thalib yang wafat di karbala. Jika dinegara Iran, mereka berani menyiksa diri-diri mereka sendiri dengan menyayat punggung dan kepala mereka dengan pisau. Bahkan orangtua dari kalangan syiah tega menyayat anak-anak mereka sendiri dengan pisau. Adapun di indonesia, mereka hanya berani menampar-nampar wajah dan bahu mereka. Ini adalah acara bodoh yang mereka adakan.

Sesungguhnya dalam kitab syiah sendiri dilarang untuk meratapi musibah yang ada, dengan cara diatas. Apakah mereka menjalankan ajaran agama mereka sendiri ??


Disebutkan dalam salah satu kitab syiah, Bahwasanya Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu berkata:

من ضرب يده عند مصيبة علَى فخذه فقد حبط عمله

"Barangsiapa memukul-mukul pahanya dengan tangannya tatkala datangnya musibah, maka telah batal amalannya"[1]

Inilah wasiat Ali bin tholib yang tertulis dalam kitab mereka, Imam pertama syiah yang mereka agung-agungkan (menurut anggapan mereka) yang lebih utama dari Husain. Akankah mereka melaksanakan petuah Imam Syiah untuk tidak meratapi musibah akan kematian Imam Husain ??

Dan perlu diketahui, Imam Husain sendiri yang wafat terbunuh dikarbala mengatakan kepada saudarinya Zainab di karbala:

يا أختي أحلفك بالله وعليك أن تحافظي علَى هذا الحلف، إذا قتلت فلا تشقي علَى الجيب ولا تخمشي وجهك بأظفارك ولا تنادي بالويل

"Wahai saudariku, aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, dan wajib atasmu untuk menjaga sumpah ini. Jika aku terbunuh maka janganlah kamu merobek robek pakaianmu, dan janganlah kamu menampar-nampar wajahmu, dan jangan juga menyeru dengan perkataan kebianasaan"[2]

Ini yang terbunuh adalah Imam Husain sendiri di karbala. Akankah mereka melaksanakan petuah Imam Husain ??

Kemudian, disebutkan dalam kitab syiah sendiri, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang amalan seperti ini. Rasulullah bersabda kepada Fathimah:

إِذَا أَنَا مِتُّ فَلَا تَخْمِشِي عَلَيَّ وَجْهًا، وَلَا تَنْشُرِي عَلَيَّ شَعْرًا، وَلَا تُنَادِي بِالْوَيْلِ، وَلَا تُقِيمِي عَلَيَّ نَائِحَةً

"Jika aku wafat, maka janganlah kamu menampar-nampari wajahmu atas kematianku, dan janganlah kamu menarik-narik rambutmu, dan jangan pula menyeru dengan perkataan kebinasaan, dan janganlah kamu meratapiku"[3]

Jika, para syi'ah adalah kaum muslimin sejati, seharusnya mereka melaksanakan Petuah Rasulullah yang ada dalam kitab mereka sendiri. Ternyata Para dedengkot syiah dan pengekornya berkhianat kepada kitab-kitab mereka sendiri.

Dan ingatlah, terlepas dari ajaran syiah, amalan ini sudah ada ancaman keras dari dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda:

النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

"Wanita yang meratapi mayat bila tidak bertobat sebelum meninggal, ia dibanglitkan pada hari kiamat memakai baju dari timah panas dan mantel dari aspal panas"[4]

Dan Rasulullah bersabda:

 لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

"Bukan termasuk golongan kami siapa yang memukul-mukul muka dan merobek-robek baju serta menyeru dengan seruan jahiliyah"[5]

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

[1] Nahjul Balaaghoh hal. 576
[2] Muntahaa al aamaal 1/248
[3] Al Kaafi 5/527
[4] HR Muslim
[5] HR Bukhari Muslim

Poskan Komentar

 
Top