2



Bagi mereka, lelaki hanya wajib menutupi batang dzakarnya saja, adapun dubur dan selainnya, maka tidak wajib untuk ditutupi. Disebutkan dalam kitab mereka:

عَنْ أَبِي الْحَسَنِ الْمَاضِي (عليه السلام) قَالَ الْعَوْرَةُ عَوْرَتَانِ: الْقُبُلُ وَالدُّبُرُ، فَأَمَّا الدُّبُرُ مَسْتُورٌ بِالْأَلْيَتَيْنِ فَإِذَا سَتَرْتَ الْقَضِيبَ وَالْبَيْضَتَيْنِ فَقَدْ سَتَرْتَ الْعَوْرَةَ

Dari Abil Hasan Al Madhi Alaihissalam: Dia berkata: "Aurat ada dua: Alat kemaluan dan dubur, adapun dubur sudah tertutupi oleh kedua daging dubur. Maka jika kamu telah menutupi batang dzakar dan dua buah dzakarnya maka kamu telah menutupi aurat"

Dalam riwayat lain disebutkan:

وَأَمَّا الدُّبُرُ فَقَدْ سَتَرَتْهُ الْأَلْيَتَانِ وَأَمَّا الْقُبُلُ فَاسْتُرْهُ بِيَدِكَ

"Adapun dubur, maka telah ditutupi oleh 2 daging dubur, adapun alat kemaluan, maka tutupilah ia dengan tanganmu"[1]

Begitulah agama jorok syiah mengajarkan. Hanya wajib untuk menutupi batang dzakar. Adapun dubur, maka tidak wajib untuk ditutup.

Bagaimana dengan ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?? Ternyata ajaran Rasul dan syi'ah sungguh berbeda jauh.

Jangankan dubur dan kemaluan, Rasulullah telah memerintahkan kaum muslimin untuk menutupi paha mereka. Karena paha termasuk bagian dari aurat.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

غَطِّ فَخِذَكَ فَإِنَّهَا مِنَ العَوْرَةِ

"Tutupilah pahamu, karena paha termasuk bagian dari aurat"[2]

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:

غَطِّ فَخِذَكَ، فَإِنَّ فَخِذَ الرَّجُلِ مِنْ عَوْرَتِهِ

"Tutuplah pahamu, karena paha lelaki termasuk bagian dari auratnya"[3]
  
PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry



[1] Al Kaafi 6/501
[2] HR Tirmidzi
[3] HR Ahmad

Poskan Komentar

  1. klo utk perempuan, kitab syi'ah menyebutkan auratnya mana saja akhi? jgn2 cuma dada & kemaluan aja yg wajib ditutupi.........

    BalasHapus
  2. 4 IMAM MADZHAB
    sikap Abu Hanifah terhadap sekte ini:
    ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ ﺃﻥ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﺃﺣﺪ ﺍﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ
    ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻄﺤﺎﻭﻱ ﻓﻲ ﻋﻘﻴﺪﺗﻪ ﻛﻔﺮ ﺳﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ، ﻓﺘﺎﻭﻯ
    ﺍﻟﺴﺒﻜﻲ 2/590 ‏) . ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺃﻥ ﺳﺐ ﺍﻟﺸﻴﺨﻴﻦ
    ﻛﻔﺮ ﻭﻛﺬﺍ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﺇﻣﺎﻣﺘﻬﻤﺎ ." ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﺻﺎﺣﺐ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﻘﻮﻝ :
    " ﻻ ﺃﺻﻠﻲ ﺧﻠﻒ ﺟﻬﻨﻤﻲ ﻭﻻ ﺭﺍﻓﻀﻲ ﻭﻻ ﻗﺪﺭﻱ . ﺍﻧﻈﺮ ﺷﺮﺡ ﺃﺻﻮﻝ
    ﺍﻋﺘﻘﺎﺩ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺍﻟﻼﻟﻜﺎﺋﻲ 4 / 733
    Imam As-Subki menyebutkan bahwa madzhab
    Abu Hanifah dan salah satu pendapat syafi’I
    dan yang lahir dari Ath-Thahawi dalam
    akidahnya adalah kekufuran orang yang
    mencela Abu Bakar. (Fatawa As-Subki 2/590)
    Dan Imam As-Subki juga menyebutkan bahwa
    mencela asy-syaikhani (Abu Bakar dan
    Umar)adalah kekufuran, demikian pula jika
    mengingkari kepemimpinan mereka berdua. “
    Dan Abu Yusuf, sahabat Abu Hanifah berkata,
    “Aku tidak shalat di belakang penganut
    jahmiyyah dan tidak pula syiah rafidhah dan
    juga qadariyyah (pengingkar takdir). “ lihat
    Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah
    karya Imam Al-Lalika’i.

    Pernyataan Imam Abu Hanifah rahimahullah

    ﺃَﺻْﻞُ ﻋَﻘِﻴﺪَﺓِ ﺍﻟﺸِّﻴﻌَﺔِ : ﺗَﻀْﻠِﻴﻞُ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ، ﺭِﺿْﻮَﺍﻥُ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢِ
    Landasan akidah Syi’ah adalah menyesatkan para
    sahabat ridhwanullah ‘alaihim.
    Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari
    Abu Hanifah rahimahullah .


    Pernyataan Imam Malik bin Anas rahimahullah

    Kemudian al-Imam Malik berkata: “Barang siapa
    yang ada pada hatinya kedengkian (benci
    ataupun marah-pen) terhadap para sahabat
    Muhammad ‘ alaihissalam maka ayat ini (surat al-
    fath ayat 29-pen) telah mengenainya.” (as-
    Sunnah karya al-Khallal no. 765 versi al-
    Maktabah asy-Syamilah)

    Pernyataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah

    ﻟَﻢْ ﺃَﺭَ ﺃَﺣَﺪﺍً ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟْﺄَﻫْﻮَﺍﺀِ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺑِﺎﻟﺰُّﻭﺭِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﻓِﻀَﺔِ
    Aku belum pernah melihat suatu kaum yang
    paling berani bersaksi dengan kedustaan melebihi
    Rafidhah.
    Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul
    Auliya’.

    Pernyataan Imam Ahmad rahimahullah

    Siapakah Rafidhah itu?
    Al-Imam Ahmad menjawab:
    ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﺸْﺘُﻢُ ﻭَﻳَﺴُﺐُّ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜْﺮٍ ﻭَﻋُﻤَﺮَ ﺭَﺣِﻤَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻠﻪ
    Orang yang mencela Abu Bakar dan Umar
    rahimahumallah. (as-Sunnah karya al-khallal:
    787)
    ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮَ ﻣِﺜْﻞُ ﺍﻟﺮَّﻭَﺍﻓِﺾِ ، ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻣَﻦْ ﺷَﺘَﻢَ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏَ
    ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟَﺎ ﻧَﺄْﻣَﻦُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻗَﺪْ ﻣَﺮَﻕَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ
    Barang siapa yang mencela (sahabat Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka aku aku
    mengkhawatirkan kekafiran padanya seperti
    kalangan Rafidhah. Kemudian berkata lagi:
    Barang siapa yang mencela sahabat Nabi
    shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita
    khawatirkan ia telah keluar dari agama. (as-
    Sunnah karya al-Khallal: 790)
    Pernah disampaikan kepada al-Imam Ahmad
    tentang orang yang mencela Utsman bin ‘Affan
    radhiyallahu ‘anhu , maka beliau menjawab:
    ﻫﺬﻩ ﺯَﻧْﺪَﻗَﺔ
    Ini adalah zindiq. (as-Sunnah karya al-Khallal:
    791)
    Kemudian al-Khallal mendengar langsung dari
    Abdullah bin Ahmad bin Hambal:
    “Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang
    mencela salah seorang sahabat Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau (al-Imam
    Ahmad) menjawab:
    ﻣَﺎ ﺃَﺭَﺍﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ
    Aku memandangnya tidak di atas Islam. (as-
    Sunnah karya al-Khallal: 792)
    Al-Imam Ahmad mengatakan:
    ﻣَﻦْ ﺗﻨﻘﺺ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻨْﻄَﻮِﻱ
    ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻠِﻴَّﺔ ، ﻭَﻟَﻪُ ﺧَﺒِﻴﺌَﺔُ ﺳُﻮﺀٍ ، ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺼَﺪَ ﺇِﻟَﻰ ﺧَﻴْﺮِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ، ﻭَﻫُﻢْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ
    ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
    Barang siapa yang merendahkan salah seorang
    sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
    maka tidaklah ia akan terguling kecuali di atas
    musibah (kesulitan dan kesempitan). Dan ada
    padanya sesuatu keburukan yang tersembunyi,
    yaitu ketika yang ia tuju (dengan celaanya itu-
    pen) adalah orang-orang terbaik, yaitu mereka
    adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
    wa sallam. (as-Sunnah karya al-Khallal: 763)

    BalasHapus

 
Top