2



Kalau anda tuduh kami dengan tidak mencintai nabi karena tidak merayakan hari kelahiran nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, maka kami katakan “Wallahi.. Demi Allah para sahabat jauh lebih mencintai Nabi Muhammad dari pada anda”

Pertanyaan:

-Adakah para sahabat merayakan maulid nabi ?? Jawabnnya : “Tidak”

- Khulafa Ar Rasyidin secara khusus, apakah mereka merayakan maulid nabi Muhammad ??  Jawabannya: “Tidak”

- Para tabi’in dan tabiut tabi’in, adakah merayakan Maulid nabi ?? Jawabannya: “Tidak”

- Imam yang 4, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syaf’i, Imam Ahmad adakah mereka merayakan maulid nabi ?? Jawabannya: “Tidak”

Maka jawabannya , anda telah memfitnah mereka tidak mencintai Nabi karena mereka tidak merayakan maulid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.
Laa haula wa laa quwwata illaa billah, betapa lancangnya lisan anda.

Merayakan maulid nabi bukanlah suatu bukti akan kecintaan seseorang terhadap Nabi Muhammad, bahkan merayakan maulid nabi adalah salah satu sebab seseorang jauh dari kecintaan nabi Muhamad shallallahu alaihi wa sallam.

Mengapa begitu?? Simaklah ayat ini:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah Wahai Muhammad, jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian”[1]

Jelas ayat ini menyatakan, bukti kecintaan Allah dan RasulNya adalah dengan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Pertanyaan kami: Adakah nabi merayakan maulid nabi ?? Jawabannya “Sama Sekali Tidak Pernah” . Mengapa anda tidak mengikuti nabi dengan tidak merayakannya ?? Bukankah anda mengaku-ngaku mencintai nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ?? Maka apakah perayaan maulid nabi bentuk kecintaan kepada nabi atau jauh dari kecintaan Nabi ?? Silahkan Jawab sendiri.

Maka benarlah perkataan ibnu mas’ud radhiyallahu anhu bahwasanya niat baik akan tidaklah cukup jika caranya salah:



وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkaan kebaikan akan tetapi tidak mendapatkannya”[2]

Maka dari itu karena tidak ada satupun dalil dari Al Quran maupun sunnah nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan Nabi merayakan maulid nabi dan tidak ada riwayat yang menunujjukkan bahwasanya para sahabat merayakan maulid nabi, maka kami menasihati orang-orang yang gemar melakukan maulid sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Katsir dalam tafsirnya:

 وَأَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، فَيَقُولُونَ: فِي كُلِّ فِعْلٍ وَقَوْلٍ لم يثبت عن الصحابة رضي الله عنهم هُوَ بِدْعَةٌ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ، لِأَنَّهُمْ لَمْ يَتْرُكُوا خَصْلَةً مِنْ خِصَالِ الخير إلا وقد بادروا إليها

“Adapun Ahlussunnah Wal Jama’ah, maka mereka mengatakan: Setiap perbuatan dan perkataan jika tidak tetap berasal dari para sahabat radhiyallahu anhum maka dia adalah bid’ah, karena seandainya amalan / perbuatan tersebut baik maka pastilah mereka telah mendahului kita melakukan hal tersebut. Karena mereka tidak mungkin meninggalkan suatu perangai dari perangai-perangai baik kecuali mereka telah bersegera melakukannya”[3]

Kami ulangi:

“Lau kaana khoiran lasabaquunaa ilaihi” “
seandainya amalan / perbuatan tersebut baik maka pastilah mereka telah mendahului kita melakukan hal tersebut”

Tatkala kita dapati perbedaan pemahaman tentang maulid dan ibadah-ibadah lainnya apakah itu bid’ah atau bukan dan bagaimana sikap kita ?? Ternyata Rasulullah telah mengabarkan solusi dan jalan keluarnya. Rasulullah bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku maka dia akan melihat perbedaan yang sangat banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku, pegang erat sunnah tersebut dan gigitlah dengan gigi-gigi graham kalian, dan waspdalah kalian dari hal-hal yang baru, sesungguhnya setiap hal yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bidah adalah sesat”[4]

Apakah maulid ada sunnahnya dari Rasulullah ?? Jika tidak maka kita tinggalkan dan itu wasiat Rasulullah dalam hadits diatas.

Apakah maulid nabi hal yang baru ?? Jika ia maka kita tinggalkan karena itu adalah wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits diatas.


PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry



[1] QS Ali Imran: 31
[2] HR Ad Darimi
[3] Tafsir Ibnu Katsir 7/256 Darul kutub al ilmiyyah
[4] HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad

Poskan Komentar

  1. Syekh Nawawi Banten (Imam Nawawi) adalah seorang ulama besar asal Indonesia yang mengajar di masjidl Harom jaman dulu. Beliau merupakan guru dari Kyai2 kebanyakan di Indonesia. Beliaulah yang memfatwakan adanya bid'ah hasanah, membolehkan maulid Nabi, sampainya doa kepada orang yang sudah meninggal, akidah asy'ariyah, dll yg menurut faham wahabi adalah bid'ah dan sesat. Seharusnya jika yang diajarkan Imam Nawawi adalah sesat dan Bid'ah, maka beliau pastilah saat ini mendapatkan siksa kubur, dan kelak diakhirat akan masuk neraka.
    Namun bagaimana kenyataannya ?
    Jasad Imam Nawawi ternyata masih utuh hingga sekarang.
    Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad beliau lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam beliau tetap berada di Ma΄la, Mekah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beliau, Syekh Nawawi Banten termasuk dari hadist Nabi :

      Dari ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari 13/268 dan Muslim no. 1716)..

      Hapus

 
Top