0

Terorisme adalah perbuatan yang haram, sama sekali islam tidak mengajarkannya. Karena yang menjadi objek pembunuhan mereka adalah kafir mu’ahad dan terkadang kafir musta’man (dari kafir musta’man ini adalah para turis/pelancong), dan terkadang yang terkena imbas aksi mereka adalah kaum muslimin.



Pertama kafir mu’ahad:  yakni kafir yang berada dalam perjanjian bersama kaum muslimin untuk tidak saling membunuh dan berperang dalam waktu kurun yang telah disepakati. Rasulullah bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

“Siapa yang membunuh kafir Mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”[1]

Apakah perjanjian ini berlaku sampai batas perjanjian? Ataukah memang zaman ini tidak berlaku ?

Allah berfirman:

إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَى مُدَّتِهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“Kecuali orang-orang musyrikin yang kalian telah mengadakan perjanjian dengan mereka dan mereka tidak mengurangi dari kalian sesuatu pun dari isi perjanjian dan tidak pula mereka membantu seseorang yang memusuhi kalian, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”[2]
 
Sehingga, perjanjian ini akan tetap ada hingga hari kiamat sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala. Dan yang meniadakan perjanjian ini maka hendaklah dia mendatangkan dalil dan perkataan ulama akan hal ini.

 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَتَلَ مُعَاهِدًا فِى غَيْرِ كُنْهِهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa membunuh orang kafir mu’ahad bukan pada waktunya, Allah haramkan surga atasnya”[3]

Imam al-Mundziri rahimahullah berkata “bahwa makna ‘bukan pada waktunya’ adalah bukan pada waktu yang dibolehkan untuk membunuhnya, yaitu pada waktu tidak ada perjanjian baginya”[4]

Sehingga kafir mu’ahad zaman sekarang masih ada selama perjanjian itu ada baginya sebagaimana yang dikatakan oleh Al Mundziri, diantara kafir mu’ahad juga adalah kafir musta’man yang masuk kedalam cakupan kafir mu’ahad.

Bahkan Ibnu Hajar Al Asqalani mengartikan kafir mu’ahad dengan cakupan yang luas, sehingga beliau memasukkan kafir dzimmy, musta’man kedalam cakupan kafir mu’ahad.  Beliau berkata:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا كَمَا هُوَ ظَاهِرُ الْخَبَرِ وَالْمُرَادُ بِهِ مَنْ لَهُ عَهْدٌ مَعَ الْمُسْلِمِينَ سَوَاءٌ كَانَ بِعَقْدِ جِزْيَةٍ أَوْ هُدْنَةٍ مِنْ سُلْطَانٍ أَوْ أَمَانٍ مِنْ مُسْلِمٍ 

 “Dan yang diinginkan dengan Mu’ahad adalah setiap yang mempunyai perjanjian dengan kaum muslimin, baik dengan akad jizyah (Dzimmy), perjanjian dari penguasa (Mu’ahad), atau jaminan keamanan dari seorang muslim (Musta’man)”[5]

Mari kita masuk ke pembahasan kedua yaitu kafir musta’man.

Kedua: Kafir musta’man adalah orang kafir yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan.

Dan diantara contoh kafir musta’man mendapatkan jaminan keamanan adalah  dengan adanya visa.

Mari kita sedikit mengetahui pengertian dan kegunaan visa:
Setiap warga negara tertentu yang berniat untuk berkunjung ke keluar negeri setidaknya membutuhkan dua dokumen perizinan, yaitu Paspor dan Visa. Tanpa dokumen Paspor dan Visa siapapun tidak bisa berkunjung ke negara lain, kecuali secara tidak sah.

Visa merupakan sebuah dokumen perizinan untuk seseorang yang ingin tinggal di negara orang lain selama kurun waktu tertentu, misalkan 30 hari, 1 tahun atau lebih. Tanpa bermodalkan kepemilikan Visa, maka Anda tidak bisa tinggal di negeri orang meskipun hanya untuk beberapa menit.

Jadi, jika Anda berniat untuk berkunjung ke suatu negara, selain harus berbekal Passport Anda juga harus memiliki dokumen Visa. Setelah pengajuan untuk membuat Visa dikabulkan ia akan ditempelkan pada halaman Passport Anda.

Visa ada banyak jenisnya sesuai dengan fungsi atau kegunaannya, seperti Visa turis/pelancong yang biasanya berlaku untuk 14-30 hari, Visa pelajar, Visa pekerja, dan Visa yang hanya dapat dibuat oleh pejabat penting sebuah negara.


Sehingga dengan ini ulama bersepakat, turis haram dibunuh karena dia adalah kafir musta’man, lebih dari itu dia masuk kedalam kafr mu’ahad yang haram dibunuh menurut pengertian Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani.

Dan kafir musta’man haram dibunuh, dari kaum muslimin manapun dia mendapatkan jaminan keamanan maka haram dibunuh. Rasulullah bersabda:

ذِمَّةُ الْمُسْلِمِيْنَ وَاحِدَةٌ يَسْعَى بِهَا أَدْنَاهُمْ

Dzimmah (jaminan keamanan) kaum muslimin itu satu, walaupun diusahakan oleh orang yang paling bawah sekalipun”[6]

Dan imam nawawi menjelaskan dzimmah kaum muslimin diatas adalah jaminan kemanan kaum muslimin.

Imam Nawawi berkata:

الْمُرَادُ بِالذِّمَّةِ هُنَا الْأَمَانُ مَعْنَاهُ أَنَّ أَمَانَ الْمُسْلِمِينَ لِلْكَافِرِ صَحِيحٌ فَإِذَا أَمَّنَهُ بِهِ أَحَدُ الْمُسْلِمِينَ حَرُمَ عَلَى غَيْرِهِ التَّعَرُّضُ لَهُ مَا دَامَ فِي أَمَانِ الْمُسْلِمِ

“Yang dimaksud dzimmah pada hadits diatas adalah: Jaminan keamanan. Dan bahwasanya jaminan kaum muslimin kepada orang kafir adalah sah. Jika ada salah satu orang muslim yang menjamin kemanannya, maka haram bagi yang lain untuk mengganggunya selama dia berada dalam jaminan keamanan seorang muslim”[7]

Sehingga kafir musta’man haram diganggu, maka bagaimana yang lebih parah dari itu? Seperti membunuhnya ???

Dan dalam hadits Ummu Hani radhiyallahu anha, beliau berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ زَعَمَ ابْنُ أُمِّيْ أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلاً قَدْ أَجَرْتُهُ فَلاَنَ بْنَ هُبَيْرَةَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ

Wahai Rasulullah anak ibuku (Ali bin Abi Tholib) menyangka bahwa ia boleh membunuh orang yang telah saya lindungi, yaitu si fulan bin Hubairah. Maka Rasulullah shollallahu aalaihi wa ala alihi wa sallam bersabda, “Kami telah lindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani”[8]

Dan terkadang para takfiry menyanggah, terkadang ada kafir mu’ahad yang berkhianat. Mungkinkah kita hanya berdiam diri sedangkan kita dikhianati ??

Maka ketahuilah, bahwasanya yang berhak untuk membalas kafir mu’ahad yang berkhianat adalah para penguasa dan bukan ormas tertentu, ustadz tertentu, maupun kiyai tertentu. Bukan hak setiap muslim untuk menegakkan hukuman atas mereka.

Ibnu Muflih mengatakan:

ولا يقتله إلا الإمام أو نائبه حرا كان أو عبدا

Tidak boleh membunuh orang tersebut kecuali pemimpin negara atau yang diserahi kewenangan olehnya baik dari kalangan merdeka maupun budak[9]

Dan terakhir, adalah terbunuhnya kaum muslimin dalam aksi mereka.  Dan inilah yang sangat memalukan, mereka dengan tega mengorbankan saudara kami dalam aksi bodoh mereka. Yang sangat-sangatlah tidak memiliki landasan.

Dan disini cukuplah, mereka mengetahui sendiri, bagaimana ancaman Allah akan pembunuhan jiwa yang haram untuk dibunuh. Allah berfirman:

وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّباِلْحَقِّ

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.”[10]

Dengan ancaman Allah yang keras, ataukah dengan tidak mencium bau surga? Na’udzubillah min dzaalik.

Mari kita lihat fatwa ulama dari haramnya membunuh turis. Lihat disini: http://jihadbukankenistaan.com/menyelami-jihad/pembagian-orang-orang-kafir.html

1- Fatwa Syaikh Ibnu Baz Tentang Mengganggu Turis Dan Tamu Asing

Dalam kumpulan fatwa-fatwa beliau jilid 8 halaman 229, beliau ditanya,

“Apa hukum menganiaya turis-turis asing dan para tamu di negeri-negeri Islam?”.

Beliau menjawab,

“Ini tidak boleh, menganiaya siapa saja tidak boleh. Apakah itu para turis atau para pekerja, karena mereka adalah musta’man (orang yang mendapat jaminan keamanan dari pemerintah). Mereka masuk dengan jaminan keamanan, maka tidak boleh menganiaya mereka. Tetapi pemerintah hendaknya dinasehati sehinga melarang apa-apa yang tidak patut untuk ditampakkan. Adapun menganiaya mereka, maka itu tidak boleh. Adapun individu-individu manusia, tidak ada hak bagi mereka untuk membunuh, memukul dan menyakiti mereka (para turis tersebut), bahkan kewajiban mereka untuk mengangkat perkara (yang perlu diperbaiki menurut pandangan mereka,-pent.) kepada pemerintah, karena menganiaya mereka adalah berarti menganiaya orang-orang yang telah masuk dengan jaminan keamanan. Maka tidak boleh menganiaya mereka akan tetapi perkara mereka diangkat kepada orang yang mampu menahan masuknya mereka atau menahan mereka dari kemungkaran yang zhohir. Adapun menasehati dan mendakwahi mereka kepada Islam atau meninggalkan kemungkaran apabila mereka telah muslim, maka itulah perkara yang diinginkan. Dalil-dalil syari’at meliputi hal-hal tersebut. Wallahul Musta’an wa la Haula wa la Quwwata Illa billah, serta shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya dan para shahabatnya.”

2- Keputusan Haiah Kibarul Ulama Saudi Arabia 13/7/1417 H

“Jiwa yang terjaga dalam hukum syari’at Islam adalah semua (jiwa) muslim atau semua (kafir) yang antara dia dengan kaum muslimin ada aman (jaminan keamanan) sebagaimana firman (Allah) Ta’ala :

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (QS. An-Nisa` : 93)

Dan (Allah) Subhanahu berfirman tentang hukum kafir dzimmy yang terbunuh tanpa sengaja,

“Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin”. (QS An-Nisa` : 92)

Maka jika kafir dzimmy yang memiliki jaminan keamanan, bila dibunuh tanpa sengaja padanya ada diyah dan kaffarah, maka bagaimana pula jika dibunuh dengan sengaja?, tentunya kekejiannya lebih hebat dan dosanya lebih besar. Dan telah shohîh dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad maka dia tidak akan mencium baunya Surga”. HR. Al-Bukhary.

Maka tidak boleh mengganggu (kafir) musta`man, apalagi membunuhnya seperti (yang terjadi pada) kekejian yang besar dan mungkar ini. Dan ini adalah ancaman yang keras terhadap siapa yang membunuh (kafir) mu’ahad, dan sesungguhnya hal itu termasuk dari dosa-dosa besar yang diancam dengan tidak masuknya si pembunuh ke dalam Surga, kita berlindung kepada Allah dari segala kehinaan.”

3- Fatwa Syaikh Al-Albany Tentang Mengganggu turis Asing

Beliau berkata dalam sebuah kaset terekam, “Apabila seorang kafir dari para pesiar atau turis tersebut masuk, mereka tidaklah masuk ke negara kita yang Islamy kecuali dengan izin dari seorang hakim (penguasa) muslim. Karena itu, tidak boleh melampaui batas terhadapnya, sebab ia adalah seorang (kafir) mu’ahad. Kemudian andaikata hal tersebut terjadi, -dan telah terjadi lebih dari sekali dimana seorang muslim melampaui batas terhadap salah seorang dari mereka-, maka akibat hal tersebut dia akan terbunuh atau lebih dari itu, atau ia dipenjara, atau …, atau …, sehingga pelampauan batas terhadap darah pesiar seperti ini dan di negeri Islam tidaklah tercapai dibelakangnya suatu manfaat islamy, bahkan ia telah menyelisihi hadits yang telah lalu penyebutannya,

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا فِيْ كُنْهِهِ – أَيْ فِيْ عَهْدِهِ وَأَمَانِهِ- فَلَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Siapa yang membunuh (kafir) mu’ahad dalam kunhi-nya –yaitu dalam penjanjian dan jaminan keamanan padanya-, maka ia tidak akan mencium baunya sorga”

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] HR Bukhari 3166
[2] QS At Taubah: 4
[3] HR Abu Dawud dan Nasa’i
[4] At Targhib 2/635
[5] Fathul Bari 12/259
[6] HR Bukhari Muslim
[7] Syarh Muslim 9/144
[8] HR Bukhari Muslim
[9] Al Mubdi’ 9/175
[10] QS Al An’am: 151

Poskan Komentar

 
Top