0



Pengucapan “Selamat Natal” adalah loyalitas kepada kuffar yang sedikit demi sedikit akan membunuh keimanan seorang muslim. Dikarenakan Al Wala dan Al Baro’nya kian terkikis. Telah diketahui bersama, bahwasanya ucapan selamat kepada suatu pekerjaan adalah sebuah bukti yang menunjukkan akan keridhaan sang pengucap. Barangsiapa yang mengatakan “Selamat Natal” kepada salah seorang kristiani maka dia telah meridhai terhadap acara yang diadakan oleh orang-orang nashara.

Ketahuilah, Jika kalian ridha akan acara mereka, akan tetapi Allah murka terhadap ucapan kalian dan amalan mereka. Allah tidak meridhai adanya kekufuran terhadap hambaNya. Karena natal adalah buah hasil dari akidah yang kufur. Natal adalah acara khusus yang diadakan oleh ummat kristiani untuk hari raya mereka. Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Dan Allah tidak meridhai kekufuran bagi hambanya, dan jika kalian bersyukur maka Allah akan ridha terhadap kalian”[1]  

Dan natalan maupun mengucapkan “Hari Natal” adalah ciri kekhususan orang-orang kafir nashara. Bagaimana seorang muslim akan mengikuti mereka dan membebek dibelakang mereka dalam acara kekufuran ??

Rasulullah bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ

“Kalian akan mengikuti jalan-jalan orang ummat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk kedalam lubak biawak kalian pun akan memasukinya”[2]

Dan Rasulullah bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا، لاَ تَشَبَّهُوا بِاليَهُودِ وَلاَ بِالنَّصَارَى

“Bukan bagian dari kami orang-orang yng menyerupai selain kami, maka janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashrani (kristen)”[3]

Dan dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka”[4]

Maka berhati-hatilah.. Rasulullah telah mewanti-wanti agar kita tidak menyerupai mereka, karena menyerupai mereka adalah indikasi kita termasuk golongan mereka yanitu agama kristen, dan ini adalah suatu loyalitas yang akan membunuh keimanan seorang muslim, yang kemungkinan dia akan beranjak membuntuti agama mereka dan akhirnya pun memeluk agama mereka. Wal’iyaadzu billah.

Pertama, mengucapkan hari natal, tahun depan memberikan kepada mereka hadiah, telah tertarik lagi, akhirnya ikut nimbrung pada acara mereka, semakin tertarik lagi, akhirnya masuk ke gereja ingin mengetahui meriahnya acara mereka, semakin tertarik lagi, akhirnya memeluk agama kristen agama kekufuran. Wal’iyaadzubillah.

Dan para nabi mempunyai sikap tegas untuk tidak loyal kepada orang-orang kafir, dan memiliki sikap tegas untuk tidak meridhai amalan-amalan dan peribadatan mereka. Dan cukuplah bagi kita untuk mengikuti para nabi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”

Dan ulama berijma (sepakat) bahwasanya mengucapkan keselamatan pada hari raya mereka adalah haram. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah:

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.
وَكَثِيرٌ مِمَّنْ لَا قَدْرَ لِلدِّينِ عِنْدَهُ يَقَعُ فِي ذَلِكَ، وَلَا يَدْرِي قُبْحَ مَا فَعَلَ، فَمَنْ هَنَّأَ عَبْدًا بِمَعْصِيَةٍ أَوْ بِدْعَةٍ أَوْ كُفْرٍ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِمَقْتِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ

”Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (salah satunya ucapan natal untuk orang kristen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ kesepakatan para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[5]

Cukuplah bagi kita akan kesemurnaan islam dan hari rayanya. Allah telah meridhai islam dan hari rayanya. Allah telah sempurnakan islam dan nikmat-nikmatNya. Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu"[6]

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry 

[1] QS Az Zumar: 7
[2] HR Bukhari Ibnu Majah Ahmad
[3] HR Tirmidzi
[4] HR Abu Dawud
[5] Ahkam Ahli adz dzimmah 1/441
[6] QS Al Maidah: 3

Poskan Komentar

 
Top