5



Jangankan ustadz-ustadz kita, Ulama Kibar sekaliber Imam Nawawi dan Ibnu Hajar pun menjadi bahan buah bibir mereka. Mereka dibid’ahkan dan dikelompokkan bersama asy’ari

Radio rodja dan para pematerinya nya tidak akan lepas dari tahdziran mereka. Ulama sekaliber Imam Nawawi dan Ibnu Hajar Al Asqalani saja di bid’ahkan dan dikelompok bersama asy’ari. Bagaimana dengan syaikh Ali Hasan dan ustadz-ustadz kita yang ilmunya masih jauh dibawah kedua imam Ahli hadits ini.


Lihat salah satu perkataan syaikh mereka. Dengan suara berapi-api  beliau berkata dengan lantang:

كذاب الذي يقولون النووي السلفي. و الله كذاب !! حتى يموت كائنا من كان. أشعري جلد. من أول كتابه في مسلم إلى آخر كتابه. و شرحه موجود.

“Pendusta orang yang mengatakan Imam Nawawi adalah seorang salafy. Demi Allah, dia adalah seorang pendusta !!  Sampai dia mati dia adalah pendusta.. Siapapun dia. Nawawi adalah seorang Asy’ari yang kokoh. Dari awal kitabnya dalam shohih Muslim sampai akhir (kita dapat melihat keasy’arian nawawi). Dan syarhnya ada”[1]

Bagaimana tanggapan syaikh shalih fauzan akan orang yang membid’ahkan Imam Nawawi dan ibnu Hajar ??

Beliau berkata:

الذي يبدع الإمامين ابن حجر و الإمام النووي, هذا هو المبتدع.. هذا هو المبتدع. أما الإمام ابن حجر و الإمام النووي فهما إمامان جليلان. محدثان. و لهما مؤلفات استفاد منها العلماء. ولا يزال المسلمون يستفيدون منها. وهم من علماء الحديث. فلا يجوز تبديع هذين الإمامين

“Yang membid’ahkan 2 imam, “Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi” maka dialah yang mubtad’ (ahli bid’ah).. Dialah yang mubtadi’. Adapun Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi, maka keduanya adalah imam yang mulia dan ahli hadits. Dan keduanya memiliki karya-karya tulis yang dimanfaatkan oleh para ulama. Dan kaum muslimin selalu mengambil faidah dari karya-karya mereka. Dan mereka adalah ulama hadits. Maka tidak boleh membid’ahkan kedua imam ini”[2]

---------------------

Kenapa imam nawawi dan ibnu hajar tidak boleh dibid’ahkan dan dikelompokkan bersama golongan asyari ?? Apalagi asya’ari yang teguh ??

Walaupun imam nawawi dan ibnu hajar memiliki kesamaan dengan asy’ariyyah dalam beberapa takwilan sifat Allah. Akan tetapi tidak serta merta kita golongkan kedua imam ini kedalam asy’ariyyah. Dikarenakan, kedua imam ini banyak menyelsihi akidah asy’ariyyah yang menyimpang. Dan keduanya membela akidah salaf akidah ahlussunnah wal jama’ah. Dan mereka membela perkataan Ahlussunnah. Diantaranya adalah:

Kedua imam ini benar-benar menyelisihi asy’ariyyah dalam pengertian iman.

Menurut kedua imam ini, iman adalah keyakinan, perkataan, dan amalan, terkadang bertambah dan terkadang berkurang.  Dan beliau benar-benar berpendapat dengan perkataan ini dan membelanya. Berbeda dengan asy’ariyyah.. Mereka meyakini iman adalah mempercayainya saja. Sehingga ibadah yang berupa perkataan dan amalan tidak termasuk iman, karena menurut asy’ariyyah iman hanyalah dihati yang berupa kepercayaan dan mempercayai.

Mari kita lihat perkataan Imam Ibnu Hajar Al Asqalani:

هو قول وعمل فَأَمَّا الْقَوْلُ فَالْمُرَادُ بِهِ النُّطْقُ بِالشَّهَادَتَيْنِ وَأَمَّا الْعَمَلُ فَالْمُرَادُ بِهِ مَا هُوَ أَعَمُّ مِنْ عَمَلِ الْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ لِيَدْخُلَ الِاعْتِقَادُ وَالْعِبَادَاتُ

“Adapun iman maka ia adalah perkataan dan perbuatan.   Adapun iman adalah perkataan, maka maksudnya adalah mengucapkan 2 kalimat syahadat. Adapun iman adalah perbuatan, maka maksudnya adalah apa yang lebih umum,yang berarti iman adalah berupa perbuatan hati dan anggota tubuh, maka masuk kedalamnya keyakinan dan ibadah-ibadah”

Dan kemudian beliau berkata:

فَالسَّلَفُ قَالُوا هُوَ اعْتِقَادٌ بِالْقَلْبِ وَنُطْقٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَأَرَادُوا بِذَلِكَ أَنَّ الْأَعْمَالَ شَرْطٌ فِي كَمَاله وَمن هُنَا نشا لَهُم الْقَوْلُ بِالزِّيَادَةِ وَالنَّقْصِ كَمَا سَيَأْتِي وَالْمُرْجِئَةُ قَالُوا هُوَ اعْتِقَادٌ وَنُطْقٌ فَقَطْ وَالْكَرَّامِيَّةُ قَالُوا هُوَ نُطْقٌ فَقَطْ وَالْمُعْتَزِلَةُ قَالُوا هُوَ الْعَمَلُ وَالنُّطْقُ وَالِاعْتِقَادُ وَالْفَارِقُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّلَفِ أَنَّهُمْ جَعَلُوا الْأَعْمَالَ شَرْطًا فِي صِحَّتِهِ وَالسَّلَفُ جَعَلُوهَا شَرْطًا فِي كَمَالِهِ
“Maka para salaf mengatakan: iman adalah keyakinan dengan hati dan perkataan dengan lisan dan amalan dengan anggota tubuh.  Dan Para salaf meyakini bahwasanya perkataan dan perbuatan adalah syarat kesempurnaan iman. Dari sinilah maka mucul perkataan mereka bahwasanya iman bertambah dan berkurang sebagaimana yang akan datang. Adapun murji’ah maka mereka mengatakan: iman adalah keyakinan dam perkataan saja. Adapun karramiyyah maka mereka mengatakan: iman adalah perkataan saja. Adapun mu’tazilah mereka mengatakan: Iman adalah pebuatan, perkataan, dan keyakinan. Akan tetapi yang membedakan mereka dengan salaf adalah bahwasanya mereka menjadikan amalan-amalan (perbuatan) adalah syarat sahnya iman dan salaf menjadikannya syarat kesempurnaan iman”[3]

Dan Imam Nawawi berkata dengan menukilkan perkataannya Ibnu Batthol rahimahumallah:

وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ خَلَفِ بْنِ بَطَّالٍ الْمَالِكِيُّ الْمَغْرِبِيُّ فِي شَرْحِ صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مَذْهَبُ جَمَاعَةِ أَهْلِ السُّنَّةِ مِنْ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَخَلَفِهَا أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ

“Dan Imam Abul Hasan Ali bin Kholaf bin Bathol Al Maliki Al Maghribi dalam syarh shohih Bukhari: Madzhab jama’ah ahlussunnah dari kalangan salaf yang terdahulu maupun yang belakangan adalah bahwasanya iman adalah perkataan dan perbuatan, iman bertambah dan berkurang”[4]

Dan beliaupun menukil perkataannya Muhammad bin Ismail At Tamimi dalam mengingkari asy’ariyyah dalam pengertian iman.

Beliau berkata:

وَالْإِيمَانُ فِي لِسَانِ الشَّرْعِ هُوَ التَّصْدِيقُ بِالْقَلْبِ وَالْعَمَلُ بِالْأَرْكَانِ وَإِذَا فُسِّرَ بِهَذَا تَطَرَّقَ إِلَيْهِ الزِّيَادَةُ وَالنَّقْصُ وَهُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ
“Dan iman menurut syariat adalah mempercai dengan hati dan beramal dengan anggota tubuh. Dan jika iman ditafsirkan dengan ini, maka dapat dipahami dia terkadang bertambah dan berkurang. Dan ini adalah madzhab ahlussunnah”[5]
Dan lihat Fatwa Syaikh Sholih Fauzan yang membid’ahkan Imam Nawawi, Ibnu Hajar, Ibnu Hazm, dan Baihaqi.

Beliau ditanya:

بعض الناس يبدّع بعض الأئمة كابن حجر، والنووي، وابن حزم، والشوكاني، والبيهقي، فهل قولهم هذا صحيح ؟
“Sebagian orang membid’ahkan para imam seperti Ibnu Hajar, nawawi, ibnu Hazm, Syaukani, dan Baihaqi. Apakah perkataan mereka semua ini benar?”

Beliau menjawab dengan jawaban yang cukup menyelekit bagi orang yang gila tahdzir:

لهؤلاء الأئمة من الفضائل، والعلم الغزيز، والإفادة للناس، والاجتهاد في حفظ السنّة ونشرها، والمؤلفات العظيمة؛ ما يغطي ماعندهم من أخطاء، رحمهم الله – تعالى. وهذه الأمور ننصح طالب العلم أن لا يشتغل بها، لأنه يُحرم العلم والذي يتتبع هذه الأمور على الأئمة سيُحرم من طلب العلم، فيصير مشغولاً بالفتنة، ومحبة النزاع بين الناس نوصي الجميع بطلب العلم والحرص على ذلك، والاشتغال به عن الأمور التي لا فائدة منها. والنووي، وابن حزم، وابن حجر، والشوكاني، والبيهقي؛ هؤلاء أئمة كبار، محل ثقة عند أهل العلم، ولهم من المؤلفات العظيمة، والمراجع الإسلامية- التي يرجع إليها المسلمون - ما يغطي أخطاءهم وزلاتهم، رحمهم الله - تعالى - .
ولكن أنت يا مسكين ماذا عندك ؟، يا من تتلمس وتتجسس على ابن حجر وابن حزم، ومن ذُكِر معهما، ماذا نفعت المسلمين به ؟؟ ماذا جمعت من العلم ؟؟ هل تعرف ما يعرفه ابن حجر والنووي ؟؟ هل قدمت للمسلمين ما قدم ابن حزم والبيهقي ؟؟ سبحان الله !!! . رحم الله امرءاً عرف قدر نفسه . قل علمُك فتجرأت، وقل ورعك فتكلمت
“Para imam yang telah disebutkan itu memiliki banyak keutamaan, ilmu yang luas, memberi faedah yang banyak bagi umat, bersungguh-sungguh dalam menjaga dan menebarkan sunnah, mereka pun memiliki banyak tulisan, kebaikan ini semua telah menutupi kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat –semoga Allah merahmati mereka-.

Perkara-perkara ini, maka kami nasehatkan kepada para penuntut ilmu, untuk tidak tersibukkan dengan hal semacam itu. Karena hal itu hanya akan menghalangi kita mendapatkan ilmu.

Orang-orang yang melakukan semacam ini akan terhalangi dari mendapatkan ilmu. Waktunya akan habis tersibukkan dengan fitnah semacam itu. Ia pun lebih suka perselisihan diantara manusia. Aku nasehatkan kepada semua untuk terus menunut ilmu dan tetap semangat meraihnya. Dan selalu menyibukkan dalam menuntut ilmu dan meninggalkan perkara-perkara yang tidak ada faedah di dalamnya.

Perlu diketahui bahwa An Nawawi, Ibnu Hazm, Ibnu Hajr, Asy Syaukani, Al Baihaqi, kesemuanya adalah ulama-ulama besar. Mereka adalah ulama yang tsiqoh menurut para ulama. Mereka punya karya tulis yang amat banyak, tulisan mereka pun jadi rujukan kaum muslimin, sehingga itu semua sudah menutupi kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat –semoga Allah merahmati mereka-.

Sekarang Anda sendiri –yang miskin ilmu- bagaimana? Wahai Anda yang gemar hanya mencari-cari dan sibuk dengan kesalahan Ibnu Hajr dan Ibnu Hazm, manfaat apa yang telah Anda beri pada kaum muslimin?

Berapa banyak ilmu yang telah Anda kumpulkan? Apakah ilmu Anda sama dengan Ibnu Hajar dengan An Nawawi? Apakah Anda sudah banyak memberi manfaat pada kaum muslimin daripada Ibnu Hazm dan Al Baihaqi?

Subhanallah!! ….

Semoga Allah merahmati seseorang yang tahu akan kedudukan dirinya.

Betapa sedikitnya ilmu mu sehingga engkau berani, dan sedikitnya rasa wara’mu sehingga engkau berbicara”[6]

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] Lihat perkataan syaikh mereka disini:  https://www.youtube.com/watch?v=5Mkja6_d7Vw

[2] Lihat perkataan syaikh Sholih Fauzan disni: https://www.youtube.com/watch?v=fkfdwmBEAGQ

[3] Fathul Bari 1/46
[4] Syarh shohih Muslim 1/146
[5] Syarh shohih Muslim 1/146
[6] Al Ajwibah Al Mufidah ‘Alaa As’ilatil Manaahij Al Jadiidah 1/131-132

Poskan Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumussalam, kesalahan syaikh Ali Hasan Al-Halabi dimana? Apakah itu dalam masalah fur' khilafiyyah ijtihadiyyah? Kalau dalam masalah khilafiyyah, ya itu sesuai ijtihad beliau.

      Apa dalam masalah irja'? Kalau dalam masalah itu, maka itu hanya tuduhan belaka tanpa burhan dan hujjah. Semoga Allah mengampuni hamba-hambaNya yang memfitnah beliau.

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama:

      Katanya antum masih awwam, tapi kok sibuk dengan urusan mencari-cari kesalahan ulama. Kalau antum masih awwam, ini nasihat syaikh Shalih Fauzan untuk orang-orang yang semisal antum "sibuk mengurusi masalah jarh ulama"

      Bisa dilihat disini: http://www.alamiry.net/2014/06/renungan-bagi-oknum-yang-mengaku-murid.html

      Kedua:

      Perkataan antum: "Mungkinkah ustadz mentahdzir tanpa bukti?"

      Ustadz siapa dulu? Kalau ustadz pemakan bangkai kaum muslimin, ya maklum.

      Jadi jangan sibukkan diri antum dengan mencari celah para ulama. Sebanyak-banyaknya antum menemukan celah syaikh Ali Hasan Al-Halabi, maka antum lebih jahil dari beliau. Banyak ilmu yang belum antum pelajari, kok malah mau mencari kesalahan orang.

      Hapus

 
Top