5



Datang beberapa pertanyaan kepada kami, tentang hukum menikahi wanita yang hamil dikarenakan zina. Maka disini para ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan, diantaranya ulama hanafiyyah dan syaafi’iyyah. Dan ada pula yang mengharamkannya, dan ini adalah pendapatnya ulama maalikiyyah dan hanabilah. Dan pendapat kedua inilah yang lebih kuat.

Menikahi wanita hamil dikarenakan zina, mempunyai dua syarat agar nikahnya sah dan tidak batal.

1- Wanita tersebut telah bertaubat.

Allah berfirman:

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin”[1]

Jika dia telah bertaubat maka boleh menikahinya dengan syarat lain yaitu rahimnya bersih dari janin. Dan jika dia telah bertaubat maka hilanglah dosanya. Dan boleh orang mukmin menikahinya sebagaimana yang dikatakan oleh imam ibnu qudamah:

 {وحرم ذلك على المؤمنين } وهي قبل التوبة في حكم الزنا فإذا تابت زال ذلك لقول النبي صلى الله عليه و سلم [ التائب من الذنب كمن لا ذنب له ]

“{Dan diharamkan bagi orang-orang mukmin (untuk menikahinya)} ayat ini untuk orang yang sebelum taubat dalam hukum zina. Jika wanita tersebut telah bertaubat maka hilanglah keharaman ini. Karena rasulullah bersabda “Seseorang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa[2][3]

2- Rahim wanita itu kosong dari janin.

- Rasulullah bersabda:

لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ

“Tidak halal untuk seseorang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menuaangkan maninya di ladang orang lain”[4]

Maksud ladang orang lain adalah, janin yang diciptakan dengan mani orang lain. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam riwayat lain.

Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلَا يَسْقِ مَاءَهُ وَلَدَ غَيْرِهِ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menuangkan maninya kepada anak orang lain”[5]

- Kemudian sabda rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

أَنْ لَا يَقَعُوا عَلَى حَامِلٍ حَتَّى تَضَعَ، وَلَا عَلَى غَيْرِ حَامِلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً

“Janganlah mereka menyetubuhi wanita hamil sampai ia melahirkan, dam yang tidak hamil sampai dia haid”[6]

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:

لا توطأ حامل حتى تضع، ولا غير ذات حمل حتى تحيض حيضة

“Tidak boleh digauli wanita hamil sampai dia melahirkan, dan begitupula wanita yang tidak hamil sampai dia haid”[7]

Sebagaimana yang kita pahami, bahwasanya dalil-dalil diatas menunjukkan bahwasanya yang haram adalah jika yang menikahi wanita ini adalah lelaki lain yang bukan menzinainya. Lantas bagaimana jika yang menikahi wanita ini adalah lelaki yang menzinainya ?? Dia menikahi wanita dalam keadaan hamil ??

Maka jawabannya, tetaplah ini adalah perbuatan yang haram dan nikahnya tidak sah.

Allah berfirman:

وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu ‘iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya”[8]

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwasanya hikmah disyariatkannya iddah adalah untuk mengetahui rahim wanita itu bersih dari janin. Sehingga jika ada janin didalam rahim wanita, maka tidak sah pernikahan itu. Dan ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qudamah:

 لأنها في الأصل لمعرفة براءة الرحم ولأنها قبل العدة يحتمل أن تكون حاملا فيكون نكاحها باطلا فلم يصح كالموطوءة بشبهة

“Karena iddah pada asalnya untuk mengetahui bersihnya rahim dari janin, dan karena sebelum iddah selesai mempunyai kemungkinan wanita itu hamil maka menikahinya batal dan tidak sah seperti wanita yang disetubuhi karena syubhat”[9]

Dan imam ibnu qudamah telah membahasnya dengan gamblang dalam masalah kedua syarat ini, yakni taubat dan bersihnya rahim dari janin. Pada bab “Ahkam nikah al mar’ah az zaniyah” 

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] QS An Nur: 3
[2] HR Ibnu Majah 4250 HR Baihaqi 20561
[3] Al Mughini 7/515 Darul Fikr -bairut
[4] HR Abu Dawud 2158
[5] HR Tirmidzi 1131
[6] HR Abdurrazzaq 12904
[7] HR Abu Dawud 2157
[8] QS Ath Thalaq: 4
[9] Al Mughini 7/515 Darul Fikr -bairut

Poskan Komentar

  1. Dari Ikhwan Belajar Agama:
    Assalamu `alaikum
    Bagaimana dengan pria yang menghamili seorang gadis di luar nikah,kemudian sang pria bertaubat dan menikahi sang gadis padahal diketahui si gadis dihamilinya masih mengandung,apakah sah hukum perkawinannya mereka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa alaikumussalam.. Sebagaiaman yang telah kita bahas diatas, pernikahan nya tidak sah.

      Hapus
    2. nasab anaknya bagaimana ustadz? anak tersebut bernasab ayahnya atau ke ibunya? jazakallahu khair.

      Hapus
    3. Anaknya harus dinasabkan kepada ibunya. Tidak boleh dinasabkan kepada lelaki manapun, baik lelaki yang menzinainya ataupun lelaki yang akan menikahinya. Karena status anaknya adalah anak zina. Dan anak zina harus dinasabkan kepada ibnunya.


      Hapus
  2. Assalaamu'alaikum Ustadz,
    Menindaklanjuti pertanyaan Muhammad Abdurrahman di atas,
    1. bagaimana jika kedua pasangan itu bertaubat setelah beranak cucu, apakah mereka harus nikah ulang & diketahui KUA?
    2. Apakah ayah ibu cucu mereka juga tdk sah pernikahannya?
    3. Bagaimana pula hukum KUA yg melegalkan mereka menikah padahal KUA mengetahui mereka menikah dlm keadaan hamil krn zina?

    BalasHapus

 
Top