0


Hati seorang istri yang tersakiti. 

Dari Warni Sulawesi Tenggara

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Pendengar nurani yg budiman namaku warni, aku adalah seorang ibu, dari anak yg bernama nabila, dan istri, dari seorang pria yang bernama ahmad, seorang pemuda baik, polos dan jujur, yang pekan lalu menyurat ke nurani, menuturkan dan menumpahkan perasaan sedihnya, terhadap sang istri yang telah melukai perasaannya, dan yang telah mencabik-cabik hatinya, dan istrinya itu adalah aku.


Jujur, aku tidak mendengarkan langsung kisah ini mengudara, tapi aku dikasih kepingan cd oleh temanku, yang merekam langsung saat kisah suamiku mengudara, dan temanku itu juga adalah temannya kak ahmad, sungguh air mataku tumpah saat mendengarkan penuturan kak ahmad, melalui suara merdunya sang penyiar, sehingga seharian air mata itu tumpah, tiada hentinya, rekaman itu kuputar berulang-ulang kali, dan hingga hari ini, aku masih merasakan kepedihan yang sangat mendalam, setelah mengetahui sikapku terhadap kak ahmad, terlalu kejam, & terlalu egois, tetapi, andai saja dia tau bahwa aku sangat mencintai dia, andai dia tahu bahwa aku sangat menyangi dia, dan juga anakku nabila, bahkan mungkin cintaku padanya, melebihi rasa cintanya padaku dan itu semua hanya Allah yang tahu.

Tetapi, untuk semua kesalahan ini, aku telah siap menerima konsekuensi dari semua ini, tetapi, sekali lagi andai ditanya padaku, semua ini kulakukan karena  ketrpaksaan. Ya..  sangat terpaksa, aku sendiri menyadari, bahwa mngkin caraku yg salah menyampaikan, sehingga telah membuatnya sangat terluka dan kecewa.

Kak ahmad, aku tidak tahu, apakah saat ini kau mendgarkan kisahku ini, atau malah tidak sama sekali, tetapi, wallahi, ini adalah alasan sejujurnya, mengapa aku tidak mau kembali padamu, dan pulang kerumahmu. Kau tahu kak, menikah denganmu adalah kesyukuran buatku, dan menjadi istrimu pun adalah merupakan anugerah terindah untukku. Tetapi ternyata, ternyata dibalik semua kebahagiaan itu, sebetulnya ada air mata kepedihan, yang begitu menghimpit perasaan ku, dan semua aku sembunyikan darimu, ada rasa kecewa, dan sakit hati yg teramat dalam, hingga menusuk perasaanku.

Kau tahu kak, aku mengira bahwa aku wanita tegar, aku mengira bahwa aku wanita yg kuat, sehingga untuk menjaga perasaanmu, dan juga hubungan pertalian darah antara kau dan orang tuamu, aku terpaksa menyembunyikan semua yang aku rasakan selama ini. Aku terpaksa sembunyikan darimu, semua ini, semua ini kulakukan karena aku sangat mencintaimu.

Kak ahmad, kamu tahu mengapa aku melakukan semua ini padamu? Kamu tahu alasan aku memilih jauh darimu, jawabannya hanya satu kak, hanya satu, bahwa semua ini kulakukan karena rasa cintaku padamu, dan dengan sangat terpaksa aku sampaikan semua alasan-alasan ini lewat program nurani saat ini, dengan sebuah harapan, agar kau bisa mendengarkannya, dan supaya pendengar nurani yang telah berasumsi buruk atas diriku, akan mengetahui tentang kenyataan yang sebenarnya, yang aku rasakan selama ini bersamamu.

Dan aku tahu, pasti setelah ini kau akan depresi mendengar semua ini, tetapi ini aku harus berikan kepadamu, ini aku harus sampaikan, meskipun setelahnya kau akan kecewa dan terluka, jujur, semula aku akan mengira bahwa aku akan bahagia selamanya bersamamu, aku menyangka, bahwa kehadiranku ditengah-tengah keluargamu, akan diterima dengan senang hati, terutama oleh orang tuamu, seperti halnya keluargaku, kedua orang tuaku yang bgt sangat menghargaimu, dan sangat menerima kehadiranmu apa adanya, tapi ternyata dugaanku salah, aku telah salah berangan-angan, aku meleset dan berpikir, sebab orangtuamu, orangtuamu kak, diam-diam tidak ridho dengan kehadiranku ditengah-tengah mereka, dan tidak merestui hubungan kita sebagai pasangan suami istri, ternyata mereka tidak merestui hubungan kita.

Yang paling membuat aku sakit, didepanmu kedua orang tuamu bersikap manis padaku, seolah-olah menampakkan ketulusan cintanya terhadap aku sebagai menantunya, tetapi, begitu kau pergi bekerja, berbagai sindiran, sindiran- sindiran pedas, sindiran- sindiran pedas mengalir untukku, dan selalu membuat aku menangis. Semua itu aku tahan dan aku simpan selama sekian tahun aku bersamamu, karena aku tidak ingin kau terluka, dengan sikap kedua orang tuamu.

Pendengar nurani yang baik, sebagaimana telah dituturkan oleh kak ahmad, bahwa dia adalah kuli pasir, sebenarnya itu tidak jadi masalah bagiku, makan tak makanpun aku rela, aku hanya berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik buat dia, tetapi, kepergian kak ahmad, kesungai untuk mencari rezki dengan pekerjaannya itu, yang ternyata membawa petaka buat hatiku, sebab dia pergi pagi dan pulangnya disore hari, betapa tidak, aku selalu disindir dengan kata-kata pedas dengan kedua orang tuanya, terutama ibunya, yang paling menyakitkan perasaanku. Ibunya kak ahmad, menganggap bahwa anakku nabila, bukan darah dagingnya kak ahmad, tetapi mereka menuduhku, bahwa aku memanfaatkan kepolosan kak ahmad, untuk kujadikan sebagai kambing hitam menutupi kehadiran nabila didunia ini. Mereka tidak percaya, bahwa nabila anak kandungnya kak ahmad, memang sebetulnya, kami menikah dikota, dan baru sebulan kemudian kami pergi kekampungnya kak ahmad, dan saat itu aku telah hamil, tetapi kedua orang tuanya baru tahu, dan tidak percaya bahwa kami telah menikah. Sehingga mereka merasakan keanehan, bahwa baru sehari tinggal bersama mereka, aku telah hamil, aku mengira, bahwa kak ahmad sudah menyampaikan hal itu kepada kedua orangtuanya, sehingga aku tidak perlu menjelaskan lagi, tetapi, ternyata semua itu menjadi boomerang diantara kami. Aku selalu disindirnya wanita kotor, murahan, yang selalu memanfaatkan kepolosan orang bodoh, untuk menutupi aibku.

Terkadang aku menangis, dan tidak tahan dengan sindiran-sindiran seperti itu, tetapi aku berusaha untuk menyimpannya dalam hatiku, aku berusaha tegar dalam menghadapi semuanya, dan untuk keutuhan keluarga mereka, agar tidak ada kebencian dihati kak ahmad kepada kedua orang tuanya, aku selalu menutupi semua itu darinya. Tetapi aku manusia biasa, aku tidak memiliki kekuatan yang banyak, untuk menahan semua ini, aku merasa sangat tersiksa, dan tertekan disana.

Sering beberapa kali aku meminta kak Ahamd untuk mengontrak rumah, walaupun sederhana, agar tidak selalu di intervensi oleh keluarganya. Tetapi aku tidak bisa memaksanya untuk itu, karena aku tahu, seberapa besar penghasilan kak ahmad setiap bulannya. Dan aku tidak memaksakan hal tersebut, aku selalu berdoa, semoga saja besok atau lusa akan nada rezeki buat kami, dan akan merealisasikan semuanya.

Tetapi waktu itu tidak pernah kunjung datang, sementara hatiku selalu sakit setiap harinya, “kak ahmad, andai kau tahu, bahwa sebenarnya aku tidak menginginkan semua ini, tetapi aku tidak berdaya, disisi lain aku telah menyampaikan kepadamu semuanya, tetapi kau tidak mau, untuk mencarikan rumah sederhana buat kita, kau tahu kak, terkadang tanpa kehadiranmu disampingku, dimana saat kau turun mencari rezeki, aku bahkan takut untuk makan, karena selalu disindir oleh kedua orang tuamu, aku dikatakan wanita, yang suka menghabiskan uang suami, mereka tidak tahu, bahwa saat itu aku tengah menyuapi dan menyusui anakku, sehingga memang sering-sering lapar saat anakku selesai menyusu dariku, dan itu membuat aku sering makan, tapi lagi-lagi aku selalu disindir, aku tidak tahu, mengapa semuanya harus terjadi seperti ini, aku tidak kuat kak, pernah kau bertanya padaku, dik, kenapa kau terlihat tampak kurus saat ini, apakah kau tidak bahagia disini?, jujur kak, saat itu aku ingin mengatakan yang sejujurnya, bahwa sebenarnya, aku bahagia bersamamu, aku senang hidup bersamamu, tetapi aku batin dengan orang tuamu, sehingga aku jarang makan, karena merasa takut, dan akupun tak berani berterus terang kepadamu, karena aku takut kau akan marah kepada mereka”

“Kau tahu, terkadang ketika aku memasak, untuk orang tuamu, dan juga untukmu, mereka tidak mau perduli saat itu ketika aku sibuk mengurus mereka semua, dimana ketika saat nabila menangis, mereka tidak mau mengambilnya, atau membujuk nabila, mereka membiarkan begitu saja, seolah nabila bukan cucu mereka, hatiku sakit kak, aku seperti seorang babu disana, aku sudah berusaha untuk bertahan, tetapi aku tidak sanggup, karena aku wanita biasa, karena aku wanita lemah, aku tidak setegar wanita-wanita lain, dan aku beruasah tegar selama pernikahan kita, tetapi aku sadar, bahwa semuanya harus ku akhiri, tetapi mungkin caraku yang salah, aku begitu tega menyakiti perasaanmu, tetapi jujur saat itu semua keluar dari bibirku, aku memang menginginkan bahwa kau akan membenciku, sehingga dengan perlahan kau akan mudah melupakan aku, karena aku yakin, bahwa kau bisa mendapatkan penggantiku, kau tahu kak, mencari istri itu mudah dimana-mana, tetapi orang tua tidak bisa didapatkan gratis dimana-mana, makanya lebih baik kau kehilangan aku, daripada nanti kau kehilangan kedua orang tuamu, hanya karena aku, itulah alasan mengapa aku pergi darimu, dan memilih untuk menjauh dari kehidupanmu.”  

“Walau pada kenyataannya, aku masih sangat membutuhkanmu sebagai seorang suami, bahkan sampai saat ini, kedua orang tuaku belum mengetahui masalah kita, aku sangat menghargaimu, aku sangat menghormatimu, sehingga kehormatanmu dihadapan keluargaku dan kedua orang tuaku selalu kujaga, dengan harapan, sepenuhnya wibawamu dan kehormatanmu akan selalu terjaga dihadapan mereka, dan sampai saat ini, sebetulnya dihatiku belum berubah, cintaku masih padamu dan juga pada nabila, tetapi aku tidak bisa, aku tidak bisa hidup dengan semua ini, satu yang kuminta padamu, sebelum kata cerai, atau kata perpisahan itu keluar dari bibirmu, bila kau ingin aku kembali padamu, satu harapanku, kita harus sendiri, walaupun hidup sederhana, bahkan tak makan pun tak mengapa, aku rela kak, aku ikhlas, asalkan aku tenang dan tidak dibawah tekanan.”

“Kau tahu, berapa lama aku bertahan dengan penderitaan itu?, hampir dua tahun kak, seumur nabila, dan seusia pernikahan kita, aku masih bertahan dengan semua itu, aku berharap, setelah semua ini kau dengar, kau bisa berpikir lebih tenang, dan mengambil keputusan dengan tidak dengan emosi, satu yang aku pinta padamu, jangan kau benci kedua orang tuamu, jangan kau sakiti mereka karena aku, karena pengorbanan ini kulakukan, agar kau tidak kehilangan mereka, karena istri bisa didapat dimanapun, dan kapanpun, tetapi kehadiran orang tua tidak bisa tergantikan, inilah permintaanku terakhir buatmu, dan aku akan selalu merindukanmu, seperti rinduku dihari-hari sebelumnya, seperti cintaku dihari-hari saat bersama dirimu,

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Bagaimana kisah bahtera rumah tangga mereka? Apakah berlanjut seperti yang diharapkan ataukah berhenti dengan kata “Cerai” yang memilukan? Simak kelanjutan kisah mereka di waktu mendatang. 

Sumber: Radio Nurani

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top