0



Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Pendengar Nurani Yang Baik

Perjalanan hidup ini memang susah di tebak, sebab terkadang, yang ada dalam benak kita adalah gemercing kebahagiaan, tetapi kepahitan yang datang melanda, sebaliknya kadang ketakutan dan kecemasan yang merasuk dalam pikiran kita, namun justru kebahagiaan yang datang menyapa.


Subhanallah, beginilah Allah mengatur kehidupan setiap hambanya, sehingga pakar dan ahli ramal-meramal pun tak mampu memprediksi, kejadian pada detik yang akan datang, dan inilah yang membuat aku kagum pada kekuasaan Allah subhanahu wata’ala.

Pendengar Nurani Yang Baik,

Semula kupikir bahwa aku adalah lelaki yang paling sengsara di dunia ini, semula aku menganggap bahwa akulah satu-satunya lelaki, yang gagal dalam mempertahankan rumah tanggaku, berbagai peristiwa memilukan kulewati bersama putri kecilku Nabila, seusai ditinggal pergi ibunya, aku tidak lagi memiliki semangat untuk menemukan pekerjaan apapun, yang sebelumnya aku lakoni, pikiranku kosong, dan hatiku hampa, aku merasa seperti seekor burung elang yang telah kehilangan satu sayapnya, sehingga tidak lagi tangguh menantang badai di atas langit, bayang-bayang kebahagiaan sesaat, yang akhirnya berganti kemalangan, seakan tidak pernah lekang dalam anganku, sakit dan perih, disetiap mendengar kata demi kata yang dilontarkan istriku kepadaku, begitu sangat membuat aku terluka, betapa tidak, kemiskinan, dan kebodohanku, yang menjadi kekuranganku akhirnya telah membuat aku tersungkur dalam kedapan duka, aku merana, sakit dan kecewa, andai menyesal itu dapat mengembalikan masa laluku, dan andai waktu bisa diputar kembali, mungkin aku tidak akan mengambil keputusan bodoh, dengan menikahi putri keluarga bangsawan, yang kehidupannya tidak setara denganku, Tetapi apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur, semua sudah terlanjur terjadi.

Pendengar Nurani Yang Baik,

Setelah kembalinya aku dari rumah Warni dengan membawa luka yang masih menghangat dihatiku, aku mencoba untuk menerima kenyataan pahit itu, meskipun berat, aku berusaha meyakinkan hatiku, bahwa inilah kenyataan yang harus aku terima, semua cinta yang tulus, akhirnya dibayar dengan air mata.

Saat itu aku mulai meyakinkan hatiku, bahwa aku memang tidak pantas untuknya, dan aku berusaha menerima kenyataan pahit yang begitu memilukan, Dengan perlahan-lahan menghapus bayang-bayang wajahnya, dan semua tentang dirinya dari ruang hatiku.

Saat itu, untuk menghibur perasaanku yang sedang terluka, aku telah menganggap Warni mati, ya… aku menganggap dia mati, bagiku ia telah mati didalam kenanganku, dan aku berusaha mempertegas pada jiwaku, bahwa Warni hanyalah seorang pelancong, yang hanya sekedar kebetulan singgah berteduh dalam dekapan kasihku, lalu pergi berlalu kembali ke negeri asalnya.

Hari-hari aku lalui dengan semangat yang mulai memudar, apalagi bila melihat putrid kecilku Nabila yang masih sangat kecil, rasanya air mata ini mulai letih menetes, tetapi entah kenapa, jujur, semakin aku begitu ingin melupakan dirinya, semakin jelas bayang-bayang wajahnya menghiasi pelupuk mataku, kenangan-kenangan indah meskipun sesaat, telah terekam begitu dalam dihatiku, aku tidak bisa memungkiri, bahwa Warni adalah satu-satunya wanita yang telah merajai hatiku, dan aku begitu sangat mencintainya, uh… andai dia tahu bahwa rasa ini begitu besar padanya, andai dia bisa merasa bahwa aku tidak bisa menghadirkan sosok lain didalam hatiku, untuk menggantikan dirinya.

Pendengar Nurani Yang Baik,

Sungguh hidup ini begitu misteri, tatkala keletihan mulai menyapa diriku, akhirnya hadir sebuah berita gembira yang kuterima dari redaksi nurani, manakala aku dikabari oleh temanku anton, sahabatku yang melalui alamat e-mailnya kukirimkan surat pertamaku ke redaksi nurani, anton mengabarkan padaku, bahwa Warni membalas suratku ke redaksi nurani, dan mas satrio herlambang melalui e-mail pribadinya, mengirimkan surat aslinya Warni, serta rekaman kisah penuturan Warni kepadaku.

Dengan tidak sabar dan penuh dengan  pengharapan, kuputar kembali isi rekaman itu, jantungku berdebar kencang, ada perasaan cemas menggelayut dalam hatiku, cemas, takut, jangan-jangan isi suratnya akan lebih menambah luka dihatiku.

Dengan penuh seksama kusimak isi rekaman itu, dan suara merdunya sang penyiar lebih menambah detak jantungku semakin tak beraturan, air mataku menetes, mengelut kata demi kata yang dituturkan oleh sang penyiar meniru isi surat istriku, dan air mata itu tumpah tatkala mengetahui, bahwa ternyata dia masih sangat mencintaiku, bahkan dia lebih menderita dari apa yang aku rasakan selama ini.

Warni, maafkan kakak dek, maafkan kakak, ternyata selama ini kakak telah mendzolimi dirimu, ternyata kakak selama ini telah tidak berlaku adil padamu, maafkan kakak dek, maafkan kakak.

Tetapi mengapa kau sembunyikan ini semua dari kakak???, kenapa???, bukankah dulu kita pernah berjanji akan saling terbuka antara satu sama lain???, bukankah dulu kita pernah berikrar akan hidup senang dan susah bersama???, lalu mengapa kau lewati kedukaan dan derita ini sendirian, kau tidak adil pada kakak dek, kau tidak adil.

Kakak memang masih ingat kau pernah bilang meminta dikontrakkan rumah sendiri, tetapi mengapa kau tidak katakan alasannya seperti itu???, padahal kakak telah memiliki simpanan sendiri yang kakak tabung diluar pengetahuanmu, tabungan itu kakak niatkan untuk mengontrak rumah kita, dan semua itu kakak lakukan karena kakak bermaksud, memberikan ini semua sebagai hadiah kejutan buatmu, dihari ulang tahun kedua pernikahan kita, tinggal tiga pekan lagi.

Tetapi sudahlah, semua sudah terjadi, yang penting bagi kakak sekarang adalah kau harus kembali, kau harus kembali pada kakak dan pada Nabila, kita harus berkumpul lagi seperti dulu, dan kakak janji, insyallah kita akan segera menempati rumah kontrakan baru kita.

Pendengar Nurani Yang Baik,

Setelah mendengarkan seluruh kisah yang dituturkan Warni melalui acara nurani, aku tidak lagi perduli bahwa saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 22 malam, tidak kubiarkan waktuku berlalu menanti pagi, aku tidak sabar ingin berjumpa dengannya, dan menumpahkan segala kerinduanku selama ini padanya, dengan girang dan bahagia yang tiada tara, aku langsung bergegas kerumah Warni dengan mengendarai motor ojek yang aku kontrak, kulewati malam yang gelap, dan dingin untuk menjemput kembali bidadariku yang merajut hati, kutempuh perjalan 140 KM untuk sampai kerumahnya, dan tepat pukul 1 dinihari, aku tiba dirumah megah milik orang tuanya Warni, aku menyalami rumah itu berulang-ulang kali dengan penuh harap, bahwa Warni akan membukakan pintunya, hingga akhirnya orang yang aku nanti-nantikan, dan yang sangat aku rindukan keluar juga.

Dengan tanpa izin dan berkata apapun darinya, kupeluk ia dengan erat, kutumpahkan tangisku dalam dekapannya, aku tidak sanggup berkata-kata lagi demikian juga dengannya, dalam dekapanku dengan tangis yang memecah malam, Warni menumpahkan air matanya, dan satu kalimat mesra terucap lirih dari bibirnya, “kakak jahat”, kakak jahat padaku.

Subhanallah, ini adalah kebahagiaan kedua kalinya yang kurasakan, setelah kebahagiaan pertama kurasakan saat mempersunting dirinya, Ya Allah, terima kasih Engkau masih meridhoi kami bersatu kembali, terima kasih ya Allah, ini adalah karunia terindah yang pernah kurasakan, terima kasih aku persembahkan padaMu.

Pendengar Nurani Yang Baik,

Akhirnya malam itu aku kembali bersatu dengannya dalam pelukan malam, dan keesokan harinya kuajak dia kembali kekampung, namun bukan untuk tinggal dirumah itu lagi, melainkan untuk mengemasi barang-barang dan pakaian kami, untuk selanjutnya pindah kerumah kontrakan baru kami, yang berada kurang lebih 50 KM dari rumah orang tuaku.

Aku bahagia sekali saat ini, aku bangga pada istriku sendiri, dia bisa melewati masalah yang begitu besar ini, dengan tanpa diketahui oleh siapapun dari pihak keluarga kami, dan hingga hari ini, tidak ada yang tahu baik orang tuaku dan orang tua Warni, bahwa kemarin rumah tangga kami nyaris hancur, semuanya rapi tersimpan dalam buku kenangan kami berdua.

Subhanallah,

Buatmu istriku, aku selalu berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala, agar selamanya kau menjadi istriku, baik didunia ini maupun diakhirat kelak, amin.

Special ucapan terima kasih kami berdua persembahkan, kepada Suara Wahdah FM, kepada program Nurani, dan kepada pengasuh acara ini, Mas Satrio Herlambang.

Andai ada penghargaan yang paling besar didunia ini, maka rasanya penghargaan itu pantas diberikan kepada acara ini, karena dengan izin Allah, melalui acara ini, rumah tangga kami bisa terselamatkan.

Juga ucapan terima kasih kepada para pendengar, yang telah memberikan doa yang tulus buat kami berdua, sehingga Alhamdulillah, doa-doa yang tulus itu di ijabah oleh ALLAH subhanahu wata’ala.

Salam bahagia dari kami berdua, Ahmad, dan Warni.

Sumber: Radio Nurani

Artikelalamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top