0


Hati seoarang suami yang tersakiti.

Curhatan Ahmad dari Sulawesi Tenggara.

Assalamualaikum Warahmatullah Wa barakatuh..

Pendengar Nurani[1] yang baik. Ini adalah kisah perjalanan hidupku, yang saat ini belum bisa ku lupakan. Aku sadari bahwa sepenggal kisah ini adalah aib bagi keluargaku sendiri. Tetapi ku berharap tersiarnya kisah ku ini, ada sesuatu yang berarti yang dapat dipetik dari kisah ini. Sehingga tidak menjebak kita pada peristiwa yang sama seperti yang saya alami.

Pendengar Nurani yang budiman, aku adalah seorang suami dari seorang wanita –Warni- namanya. Dan juga aku adalah seorang bapak dari seorang putri kecil yang ku beri nama Nabila. Saat ini usiaku baru menginjak 29 tahun. Dan nabila saat ini baru berusia 9 bulanan. Jujur, memang aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Dan karena keserdehanaan itu, aku hanya mampu menamatkan pendidikan ku sampai sekolah tingkat lanjutan pertama. Dan setelahnya, aku meneruskan pekeerjaan orang tua ku yang sudah puluhan tahun mereka geluti. Yakni, menjadi seorang kuli pengangkut pasir dari sungai untuk selanjutnya dijual kepada orang yang membutuhkan.

 Memang, sejak dulu aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang suami dan pendamping hidup bagi seorang wanita yang berketurunan bangsawan seperti warni yang saat ini telah menjalani bahtera rumah tangga bersamaku selama setahun lebih. Aku bahkan tidak pernah bermimpi pula menjadi menantu yang serba kecukupan seperti keluarganya warni.  Aku hanya berangan-angan mencari pendamping hidupku kelak. Aku ingin wanita yang biasa-biasa saja yang erajatnya setara dengan keluargaku. Tidak lebih dari itu, aku hanya berharap bahwa istri ku dapat menjadi teman bagi ku dalam suka maupun duka. Dan bisa menjadi baik bagi anak-anak ku.  Akan tetapi perjalanan hidup dan takdir Allah telah membawa kepada sebuah kenyataan, bahwa diusiaku yang beranjak mulai dewasa,  Allah justru mempertemukan aku dengan seorang wanita. Yang tidak pernah aku impikan sama sekali. Yang tidak pernah terlintas sama sekali dalam benakku. Dan wanita itu adalah warni istriku saat ini.

Al Kisah..

Pertama kali aku bertemu dengan Warni, dia datang bersama 4 kawan lainnya menjalani KKN di desaku. Mereka adalah mahasiswa KKN fakultas pertanian haluuleo kendari. Mereka datang menerapkan berbagai kerja lapangan.  Yang menjadi tugas mereka sebagai mahasiswa. Dan sebagai pemuda kampung, aku bersama teman-teman lainnya memberikan support dan dukungan atas kehadiran mereka. Dan di kampung aku memang sering dipercayai oleh teman-teman termasuk aparat desa menemani setiap mahasiswa yang datang melakukan kuliah kerjanya di desaku. Meskipun semua orang tahu, bahwa aku hanyalah aku hanyalah tamatan SMP. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya aku selalu beusaha menjadi tuan rumah yang baik buat mereka. Aku berusaha melakukan apapun yang dapat memuluskan tugas-tugas mereka agar ada kesan istimewa yang mereka bawa pulang setelah berakhir masa KKNnya. Dan itu juga yang aku lakukan terhadap warni dan kawan-kawannya.

Jujur.. Aku tidak tahu apakah aku ini lelaki istimewa atau tidak, tetapi yang tidak kumengerti dari diriku sendiri, bahwa setiap ada mahasiswa KKN dikampungku, pasti ada saja 1 diantara mereka yang jatuh cinta padaku. Dan jujur aku tidak pernah berharap itu, bahkan tak pernah terlintas sedikitpun dibenakku untuk menghipnotis perasaan mereka dengan apapun yang ada pada diriku. Siapalah aku.. sehingga harus berharap lebih dari mereka. Aku hanyalah lelaki biasa yang hanya tamat SMP dan dari keluarga miskin. Apakah semua karena wajahku?  Semoga saja tidak.. Ujarku dalam hati setiap kali tanya itu berkecamuk didalam hatik.

Dan untuk yang ketiga kalinya setelah 2 tahun sebelumnya berlalu, kali ini peristiwa itu kembali terjadi. Dan aku tidak menyangka sama sekali, kalau gadis yang bersimpati padaku itu adalah warni. Aku baru menyadari semua itu dikala malam perpisahan KKN mereka yang ditutup oleh kegiatan pentas olah raga dan seni antar remaja muda mesjid. Aku yang tak menyadari bahwa warni memiliki perasaan istimewa padaku kuperlakukan dia biasa-biasa saja. Bahkan sikapku paling dingin dengannya karena aku tahu dan kudengar dia adalah anak orang kaya yang tentu saja selektif dalam memilih teman. Apalagi teman dekat. Dan itu yang membuat aku tidak pernah mendekatinya, lagi-lagi aku hanya berkumpul dan bercanda dengan teman lainya disudut panggung utama sambil bercanda ria dengan beberapa teman KKNnya, termasuk 2 teman wanitaku dikampung. Semuanya berlalu begitu saja, hingga tepat pada detik-detik penyerahan hadiah, Warni menemuiku dan menarik tanganku agak menjauh dari panggung dan keramaian. Aku tidak tahu apa maksudnya, aku bahkan berkeringat dingin tatkala tanganku ditariknya menjauh dari orang-orang. Dan aku semakin tak mengerti tatkala sampai di tempat yang agak sedikit jauh dari panggung utama, dia malah menamparku dan memukul-mukul aku sambil menangis. Aku dituduhnya lelaki egois, Lelaki sombong dan angkuh. Mendengar semua ucapannya itu aku semakin gugup dengan nafas tak beraturan karena grogi dengan apa yang baru saja aku dengar.

Wallahi aku tidak mengerti maksudnya warni. Ditatapnya mataku dan dia memintaku untuk menebak apa sebenarnya yang terjadi dengannya malam itu. Aku yang hanya manusia biasa tentu saja tidak memiliki kemampuan untuk menebak apa yang ada dalam hatinya. Tapi semakin aku tidak fahami semakin aneh tingkah lakunya warni dihadapanku. Dikata-katainya aku lelaki bodoh, dan munafik. Hatiku sakit mendengar semua itu. Apa salahku..? Apa dosaku sehingga kata-kata itu begitu menyakitkan kudenngar. Hingga akhirnya dengan tangisan yang tersedu, Warni menyatakan kalau sejak pertama dia datang kekampungku dan bertemu denganku, kehadiranku telah merampas tidurnya, Keberadaanku telah merebut hatinya. Mendengar semua itu kurasakan sum-sum tulangku seolah tidak nyambung lagi. Apa aku bermimpi?  apa aku sedang mengigau? Aku coba menguatkan diriku dan menerima kenyataan yang tak pernah kuinginkan ini, aku masih tak percaya kalau orang yang baru saja menyatakan perasaannya didepanku ini adalah warni. Seorang wanita berketurunan bangsawan. Lidah ku jadi keluh saat itu, aku tidak tahu harus berkata apa2 lagi.

Aku bingung dan sangat bimbang. Akhirnya dengan segenap kekuatanku aku berusaha meredam semuanya. Dan memberikan jawaban pasti terhadap perasaan warni yang baru saja aku dengar. ”Dik…e..ee..apa saya tidak salah dengar tadi..?”, tanyaku kewarni..
”Tidak kak..saya tidak salah ucap dan kk tidak salah dengar…semua ini kenyataan..semua ini saya katakan karena selama ini kakak terlalu cuek dengan saya, kakak egois..kakak keterlaluan..”Ujar warni saat itu sambil tersedu mengomentari pertanyaanku.

Mendengar pernyataan yang fasih keluar dari bibirnya membuat tubuhkuh semakin bergetar. Aku masih tidak yakin dengan apa yang baru saja kudengar. Dengan mengumpulkan segala rasa dihatiku, aku kembali berujar padanya dengan pasti ”dik…jangan kau hinakan saya dengan semua ini..saya ini miskin..tidak terpelajar seperti kau…, saya sadari siapa diri saya dan adik siapa..tolong dik..jangan ulangi kata-kata itu..karena ungkapan adik tadi begitu sangat menyakitkan perasaan saya..apa kata orang nanti…maafkan saya .bukannya saya tidak mau..tapi ini diluar logika..mungkin saat ini adik sedang emosi..coba tarik nafasmu dulu dik..dan renungi lagi apa yang baru saja adik katakan tadi..andai memang adik salah ucap insya allah semua ini akan menjadi rahasia diantara kita berdua..saya akan janji akan merahasiakannya…, percayalah..saya tidak akan sebarkan kejadian malam ini kepada siapapun..”selaku berusaha menyadarkan warni dari ucapannya tadi.

”Tidak kak, saya tidak sedang emosi..ini perasaan yang tulus dari hati saya..tolong jangan permalukan saya dengan penolakan ini..saya wanita kak..saya wanita.., asal kakak tahu untuk semua ini saya rela kehilangan muka saya dihadapan kakak dan berharap bahwa perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan…” jawab warni lagi dengan pasti.

Mendengarnya aku sangat tidak tahu harus berbuat apa ”hhhmmmm…” kutarik nafasku sepanjang2nya lalu kembali aku berujar ”Dik..…tidak ada yang istimewa dalam diri saya..coba kau tatap kembali saya dari ujung kaki sampai ujung rambut saya..tidak ada yang istimewa dalam diri saya..tidak ada dik.., sekali lagi tolong..jangan rendahkan saya dengan semua ini..saya yakin adik pasti akan mendapatkan orang lain yang lebih segalanya dari saya..”, ujarku disela ketegangan yang terus merayap dalam tubuhku..

”Tidak kak..saya yakin diluar sana saya tidak akan menemukan lelaki lain seitimewa kakak..bagi saya kakak begitu istimewa..kakak jujur..polos..rajin …taat beribadah dan semua yang kakak miliki jarang saya temui dalam pemuda-pemuda dijaman sekarang..tolong kak jangan buat saya lebih malu lagi dengan semua ini kak,…please…”

Mendengar semua itu aku semakin menundukkan wajahku, Ya allah apakahi ini kenyataan..?

“Baiklah dik. Saya terima semua ini. Saya terima semua ini tapi dengan satu syarat..kita menikah pekan depan. Saya tidak mau ada fitnah diantara kita.. saya tidak mau..”pintaku kewarni.

”Nikah..?, pekan depan..?, gak salah tuh kak..? Sela warni menimpali pintaku.

“Yah..kalau memang semua perasaan yang ada dalam hatimu itu jujur dan tulus.. itu artinya adik juga siap hidup apa adanya dengan saya… ingat dik.. Saya tidak ingin ada kata pacaran diantara kita, sebab bila itu terjadi..akan banyak waktu yang akan kita lewati dengan hal-2 yang tidak bermanfaat..hati kita pasti akan berzina bila kita belum melegalkan hubungan ini.. Dan saya tidak akan paksa kita kecuali kita sendiri yang putuskan.. Satu yang ingin saya sampaikan , sekali lagi bahwa saya tidak mau pacaran…dan bila adik serius dengan semua ini..kita menikah pekan depan..bagaimana..?”, ujarku dengan pasti sambil membalikan tubuhku berniat kembali ke kerumunan orang yang lagi menikmati malam penutupan perseni.

Tapi baru selangkah aku berjalan. Warni menahan tanganku dan berkata. ”Yah.., saya siap menikah dengan kakak. Sangat siap…kapanpun..kalau Allah izinkan pekan depan sesuai keinginan kakak kita akan menikah. Tapi tolong temui orang tua saya…”

Mendengar pernyataan warni aku menarik nafas lega dan kembali berucap..”Insya allah dik..saya akan temui orang tuamu sekalian bareng adik pulang kekota dan meminta adik untuk menjadi istri saya dihadapan ortumu… “

Pendengar nurani yang baik,  Jujur saat semuanya terlanjur terucap dari bibir saya..kepastian untuk menikahi warni.. ada terbetik rasa cemas jauh direlug hati ini. Apakah warni main-main, apakah dia serius, apakah saya akan ditolak..?, atau malah saya akan dihinakan…?? Saat itu aku hanya memanjatkan doa disetiap sujud dan doa-doaku. Agar allah memudahkan urusan ini. Akhirnya waktu kembalinya mahasiswa KKN itupun tiba. Tak ada satu pun yang mengetahui tentang kesepakatan antara aku dan warni. Yang tahu semua itu hanyalah Allah dan kami berdua. Banyak mata memandangi aku saat kepulangan mereka akupun turut dengan mereka. Tapi semuanya aku berusaha tekan didalam hatiku yang paling dalam. Orang tuakupun tak tahu mengapa aku ikut dengan rombongan KKN itu kekota. Aku bahkan hanya membawa 2 potong pakaianku yang sudah kuanggap paling bagus. Aku hanya berniat bahwa insya allah jika aku pulang nanti, ada bidadari hatikuku yang akan menemaniku pulang.

Yah.. insya Allah, perjalanan panjang dan melelahkan itu akhirnya berujung juga. Hari pertama tiba dikota aku menginap di rumah teman lelakinya warni yang kemarin juga KKn dikampungku. Amran namanya. Kekaraban yang terjalin dikampung kemarin seolah membuatku lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan kota. Tapi lagi-lagi aku masih merahasiakan rencana dan niatku melamar warni. Semuanya berlalu begitu saja.

Dan akhirnya waktunyapun tiba. Aku diundang orang tuanya Warni kerumahnya. Nampaknya undangan itu telah diawali oleh promosi warni tentang siapa diriku dan niat tulusku didepan orang tuanya.Hingga semuanya terasa begitu mudah, tetapi yang tidak kumengerti. Didepan pintu rumahnya warni, Warni memberiku sebuah amplop tebal dan dia menyuruhku membuka isi amplop itu sebelum masuk kedalam rumah. Dengan dada berdebar aku berusaha membuka amplop itu dan ternyata isinya puluhan lembar uang seratusan ribu dan sepucuk surat.

Perlahan kubuka lipatan surat itu dan kubaca isinya dengan keringat dingin yang membasahi tubuhku.”Wahai lelaki yang telah melumpukan hatiku..bila ayahku bertanya tentang perasaan kita terhadap saya..katakan saja yang sesungguhnya apa yang ada dalam hatimu..dan bila dia meminta ongkos nikah 15 juta seperti yang dia pernah singgung pada saya semalam..maka nyatakanlah kesanggupan kk..dan gunakanlah uang yang saya kasih ini untuk biaya nikah kita unutuk biaya nikah kita ..insya allah semuanya cukup..itu uang halal..tabunganku yang aku simpan selama ini…tapi insya allah ikhlas..dariku bidadari hatimu..”mataku berkaca-kaca mebaca lembaran surat itu.

Aku tidak percaya dengan semua ini, aku berusaha menguasai perasaanku. Dan perlahan aku memasuki rumah megah orang tuanya Warni.  pendengar nurani yang budiman. Singkat cerita, akhirnya kesepakatan nikah itupun tiba. Orang tua warni menerimaku dengan ongkos nikah yang disebutkan warni tadi. Dan Allah memudahkan segala urusan kami, hingga akhirnya halal lah warni bagiku.Kami resmi menjadi pasangan suami istri diawal tahun 2009 kemarin, perjalanan kisah bahagia itu akhirnya kami lanjutkan sampai kekampung . Aku bahkan tidak percaya, bahwa kini warni yang kemarin masih belum menjadi mahromku kini telah berada disampingku dan telah halal dihadpan Allah.

Jujur hampir tak ada satupun yang percaya bahwa warni telah menjadi istriku, semua begitu cepat terjadi. Bahkan orangtuaku sekalipun. Tapi dengan surat nikah yang kami perlihatkan membuat ketidak percayaan itu berubah menajadi anggukan kagum. Meskipun satu diantara sekian orang masih ada yang bimbang dan ragu. Tapi allah maha tahu, Dia tahu bahwa kami telah halal antara satu dan lainnya.

Jujur.. Saat itu aku merasa menjadi lelaki yang paling bahagia didunia ini. Dan itu tak membuatku berhenti bersyukur pada Allah. Dan subhanallah, sebulan setelah pernikaahn itu, dalam rahim istriku telah bersemayam amanah Allah buah cinta kami berdua. Dan dengan seiring bergulirnya waktu alhamdulillah kebahagiaan itu terus mengalir diantara kami. Hingga waktu terus membawa kehidupan kami pada kesempurnaan kebahagiaan itu. Yakni kelahiran putri semata wayang kami yang akhirnya kami beri nama Nabila.  

Aku semakin bahagia menjalani hari-hariku, semangatku untuk mencari rezeki semakin bertambah. Karena selain istriku ada sikecil yang selalu menjadi penyemangat buatku untuk tetap semangat dalam menjalani aktifitasku. Meskipun pekerjaan itu masih tetap sama sepert pekerjaan ku dulu sebelum menikah, yakni menjadi kuli pasir. Pendegar nurani yang berbagaia. Semula kufikir bahwa kebahagiaan itu akan selalu bersamaku dan bersama keluargaku. Tetapi ternyata dugaanku salah. Ternyata aku diuji oleh Allah dengan musibah yang sangat berat sekali.

Ya..inilah puncak kesedihanku. Aku fikir aku akan tersenyum selamanya, tapi aku salah. Kemalangan itu berawal ketika warni berniat untuk silaturahmi kerumah orang tuanya. Sebagai suami yang baik dan menantu yang baik pula, aku berusaha meberikan kebebasan buat warni untuk mengunjungi ortunya. Dan tak kubiarkan dia pergi sendiri. Aku mengantarnya dan kutitip sementara pada oratunya hingga dalam waktu yang diinginkan oleh warni dia minta dijemput, katanya 3 pekan dia disitu. Dengan tidak ada perasaan cemas dihatiku, aku kembali kekampung dan kembali beraktifitas seperti biasa setelah mengantar warni kerumah ortunya. Semula aku memang merasa heran, sebab nabila tidak diajak ibunnya dengan alasan bahwa dia tidak akan lama dikota dan akan segera pulang. Hari terus bergulir. Warni tinggal dirumah ortunya dan aku dan nabila tinggal dikampung. Kerinduanku terhadap istriku tercinta semakin menggebu. Aku sangat rindu padanya..r indu dengan suaranya.. tawanya dan manjanya padaku selama ini. Aku begitu merindukan segalanya..hingga tiba 3 minggu berlalu, warni masih berada dirumah ortunya namun tak ada satupun kabar darinya memintaku untuk dijemput. Padahal dia sudah simpan nomor hp tetanggaku. Aku juga coba menghubungi hp lewat hp tetangga tapi hpnya tidak pernah aktif. Aku gelisah..cemas..ada apa dengan istriku..apa dia sehat-sehat saja..?,

Akhirnya,  dengan perasaan rindu yang sangat,aku pergi kekota. Kerumah ortunya warni dengan maksud dan niat menjemputnya kembali. Perasaanku sangat bahagia. Ketika aku turun dengan menumpangi ojek tepat didepan rumahnya. Kulihat tak ada yg berubah, semua masih sama. Rumah itu menyimpan kenangan yg sangat berarti bagiku. Akhirnya kuberanikan diri memasuki rumah itu, kerumah ortunya istriku. Aku berusaha menyalami rumah itu berharap warni akan keluar dan akan memeluk aku menumpahkan kerinduan nya padaku karena sudah 3 pekan sudah lamanya kami berpisah. Dan aku berharap bahwa dia juga merindukan aku seperti aku yg sangat merindukan dia.., 1., 2..3x aku mengucapkan salam didepan pintu tetapi tidak ada jawaban. Hingga akhirnya salam ku yg keempat barulah Warni keluar dari rumah. Dia membuka pintu tetapi tidak menjawab salamku bahkan dia segera berlalu dari hadapanku. Ada apa ini..?, Apakah aku salah..?, Apakah kehadiranku tidak diinginkan olehnya? Aku berusaha untuk berfikir positif saat itu. Mngkin istriku lagi sedih atau lagi punya masalah dengan ortunya.Aku berusaha mengejarnya, tetapi dia terlanjur masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Aku berusaha mengetuk-ngetuk pintu kamaranya beberapa kali. Kupanggil dia dengan rasa rinduku. Tetapi alangkah kaget dan sakitnya hatiku,ketika dia memintaku untuk pergi dari rumah itu dan tidak usah datang lagi, aku tidak memahami apa yang terjadi padanya. Yang aku tahu bahwa aku mengantar warni 3 pekan lalu dalam keadaan baik-baik saja dan aku sangat merindukan dia selama ini. Tetapi mengapa ketika aku akan menjemput dia..sepertinya semua telah berubah, 100% berubah..

Kudengar dia berteriak, bahwa dia tidak ingin kembali lagi kerumahku. Bahwa dia tidak ingin kembali bersamaku. Air mataku menetes. Aku tidak percaya, karena semua ini terucap dari bibir manisnya. Mengapa semuanya begitu cepat berubah ? Apa salahku ? Apa dosaku selama ini.. ? Selama ini aku selalu berusaha menjadi suami yang terbaik buat dia. Aku bahkan tidak pernah menghadirkan cinta yang lain dihatiku. Karena yang ada dalam hatiku hanyalah dia dan putri kami yang tercinta. Tetapi mengapa semua ini terjadi..?

Yang membuat aku semakin sakit dan sangat terpukul, Warni mengungkit-ngungkit kembali semua yang pernah terjadi diantara kami. Bahwa aku lelaki miskin. Bahwa aku lelaki yang tidak berpendidikan. Bahkan aku menikahi dia dengan uangnya sendiri, hatiku sangat hancur saat itu. Kenapa semua itu harus terjadi padaku? Aku berusaha membujuk dan merayu dia agar dia kembali padaku. Tetapi ternyata usahaku sia-sia, karena aku tak bisa mebujuknya. Hatinya seolah sudah menjadi keras, sekeras batu.

”Dik..coba jelaskan pada kakak apa salah kakak selama ini padamu? Kenapa baru sekarang kau memprotes.. kenapa baru sekarang kau katakan.. Kalau kau menyesal menikah dengan kakak..Masih kah kau ingat dulu..? Ketika tak ada cinta dihati kakak buatmu..? Kau yang menghiba..kau yang memelas..dan kau yang meminta utuk dicintai..waktu itu kakak berusaha untuk menolak permintaanmu..karena kakak sadar siapa kakak sebenarnya..kakak sudah berusaha menjelaskan bahwa kakak adalah pemuda miskin dan tidak berpendidikan. Saat itu apa yg kau katakan pada kk?? Kau akan menerima kakak apa adanya. Apapun adanya diri kakak.. Bahkan saat kakak meminta kita menikah secepat mungkin kau mengiyakan semuanya.. Kau sendiri  yg memberikan itu untuk menikahi dirimu sendiri..Lalu mengapa kau ungkit-ungkit sekarang? Apa kesalahan kakak padamu dek.? Apa yg kurang.? kakak sadari kakak hanya manusia biasa. kakak tidak punya pengalaman dalam pekerjaan dan kakak buka siapa2. Tapi tolong kembalilah pada kakak meskipun kau tidak mencintai kakak..tetapi paling tidak kembalilah untuk nabila. Atau pulanglah sejenak untuk jemput nabila. Setelah itu kau kembali lagi kesini. Tidak mengapa dik. Insya allah kakak ikhlas dengan semua ini.Kalau memang itu adalah pilihanmu,kakak bahkan tidak akan bertanya apa yg menyebabkan kau jadi beubah seperti ini. Karena kakak telah mengetahui dan sangat sadar..bahwa ternyata kau tidak bahagia dengan kakak, bahwa ternayta kemelaratan, kesedrhanaan yg kau rasakan bersama kk tidak dapat membayar kebahagiaan yang selama ini kau dapatkan dari orang tuamu. kakak ikhlas dengan semuanya. Tidak mengapa dik bila akhirnya kau harus berpisah dengan kakak. kakak akan berusaha menjelaskan kepada kedua orang tua kakak bahwa kau lebih bahagia disini. Bahwa kau lebih merasa tenang disini.

Pendengar nurani yg baik.. Aku tidak tahu apakah warni mendengarkan keluh kesahku. Apakah warni mendengarkan jerit dan tangisku. Denga pedih dan rasa sakit hatiku. Aku berusaha menapaki jalan2 yang sebelumnya telah aku lalui. Air mataku terus menetes dipipi. Bahkan aku lupa bagaimana rasanya letih. Sebab aku tak lagi menumpangi ojek. aku bahkan membiarkan kenderaan yang lalu lalalang, aku sangat sedih. Begitu besar ujian ini ditimpakan padaku..semuanya terjadi begitu cepat..tetapi berlalu juga dengan begitu cepatnya. Dan hingga hari ini, warni masih tinggal bersama ortunya. Wallahu a’lam. Apakah semua ini adalah kamuflasenya dia..atau benar2 kenyataan… tetapi aku telah malu..aku telah sangat malu.. Setiap malam aku sendiri kadang aku menangis sendiri melihat anakku putiri kecil kami. Kadang dia menangis mencari ibunya..kemana aku harus membawanya pergi. Agar dia menemukan kembali kasih sayang dari ibunya..Aku hanya berharap. Semuanya akan berakhir dengan kebahagiaan meskipun saat ini perasaanku sangat pedih..



Wassalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Bagaimana kisah tanggapan si Warni selaku istrinya Ahmad? Apakah Warni seburuk itu? Tunggu kisah pernyataan istrinya yang begitu menggugah hati di waktu mendatang.. Dan bagaimana kehidupan mereka berdua setelah itu? Simak kisahnya pada kesempatan di waktu mendatang.

Bersambung....

Artikelalamiry.net (Kajian Al Amiry)

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

[1] Nama sebuah studio radio

Poskan Komentar

 
Top