0


Seseorang berkata kepada kami dalam mengomentari status kami via facebook. Dia berkata:

“Utsaimin Syekh Al Bany(Guru WahabiSalafi) Mengkritik Al Imam Bukhory,, (Mirip Anak TK mengkritik Mahasiwa S2)...

Al-Imam al-Bukhari dan Ta’wil
Kalau kita mengamati dengan seksama, perdebatan orang-orang Wahhabi dengan para ulama ahlussunnah Wal-Jama’ah, akan mudah kita simpulkan, bahwa kaum Wahhabi seringkali mengeluarkan vonis hukum tanpa memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan tidak jarang,

pernyataan mereka dapat menjadi senjata untuk memukul balik pandangan mereka sendiri. Ustadz Syafi’i Umar Lubis dari Medan bercerita kepada saya. “Ada sebuah pesantren di kota Siantar, Simalungun, Sumatera Utara. Pesantren itu bernama Pondok Pesantren Darus Salam. Setiap tahun, Pondok tersebut mengadakan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengundang sejumlah ulama dari berbagai daerah termasuk Medan dan Aceh. Acara puncak biasanya ditaruh pada siang hari. Malam harinya diisi dengan diskusi. Pada Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahun 2010 ini saya dan beberapa orang ustadz diminta sebagai pembicara dalam acara diskusi. Kebetulan diskusi kali ini membahas tentang Salafi apa dan mengapa, dengan judul Ada Apa Dengan Salafi? Setelah presentasi tentang aliran Salafi selesai, lalu tibalah sesi tanya jawab. Ternyata dalam sesi tanya jawab ini ada orang yang berpakaian gamis mengajukan keberatan dengan pernyataan saya dalam memberikan keterangan
tentang Salafi, antara lain berkaitan dengan ta’wil. Orang Salafi tersebut  mengatakan: “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab. Sudah barang tentu harus kita fahami sesuai dengan bahasa Arab pula”. Pernyataan orang Salafi itu, saya dengarkan dengan cermat. Kemudian dia melanjutkan keberatannya dengan berkata: “Ayat-ayat al-Qur’an itu tidak perlu dita’wil dan ini pendapat Ahlussunnah”. Setelah diselidiki, ternyata pemuda Salafi itu bernama Sofyan. Ia berprofesi sebagai guru di lembaga As-Sunnah, sebuah lembaga pendidikan orang-orang Wahhabi atau Salafi. Mendengar pernyataan Sofyan yang terakhir, saya bertanya: “Apakah Anda yakin bahwa al-Imam al-Bukhari itu ahli hadits?” Sofyan menjawab: “Ya, tidak diragukan lagi, beliau seorang ahli hadits.” Saya bertanya: “Apakah al-Bukhari penganut faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah?” Sofyan menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Apakah al-Albani seorang ahli hadits?” Sofyan menjawab: “Ya, dengan karya-karya yang sangat banyak dalam
bidang hadits, membuktikan bahwa beliau juga ahli hadits.” Saya berkata: “Kalau benar al-Bukhari menganut Ahlussunnah, berarti al-Bukhari tidak melakukan ta’wil. Bukankah begitu keyakinan Anda?” Sofyan menjawab: “Benar begitu.” Saya berkata: “Saya akan membuktikan kepada Anda, bahwa al-Bukhari juga melakukan ta’wil .” Sofyan berkata: “Mana buktinya?” Mendengar pertanyaan
Sofyan, saya langsung membuka Shahih al-Bukhari tentang ta’wil yang beliau lakukan dan memberikan photo copynya kepada anak muda itu. Saya berkata: “Anda lihat pada halaman ini, al-Imam al-Bukhari mengatakan: Artinya, “Bab tentang ayat : Segala sesuatu akan hancur kecuali Wajah-Nya,
artinya Kekuasaan-Nya.” Nah, kata wajah-Nya, oleh al-Imam al-Bukhari diartikan dengan mulkahu, artinya kekuasaan-Nya. Kalau begitu al-Imam al-Bukhari melakukan ta’wil terhadap ayat
ini. Berarti, menurut logika Anda, al-Bukhari seorang yang sesat, bukan Ahlussunnah. Anda setuju bahwa al-Bukhari bukan Ahlussunnah dan pengikut aliran sesat?”. Mendengar pertanyaan saya, Sofyan hanya terdiam. Sepatah katapun tidak terlontar dari lidahnya. Kemudian saya berkata: “Kalau begitu, sejak hari ini, sebaiknya Anda jangan memakai hadits al-Bukhari sebagai rujukan. Bahkan Syaikh al-Albani, orang yang saudara puji itu, dan orang-orang Salafi memujinya dan menganggapnya lebih hebat dari al-Imam al-Bukhari sendiri. Al-Albani telah mengkritik al-Imam al-Bukhari dengan kata-kata yang tidak pantas. Al-Albani berkata: “Pendapat al-Bukhari yang melakukan ta’wil terhadap ayat di atas ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang Muslim yang beriman”. Inilah komentar Syaikh Anda, al-Albani tentang ta’wil al-Imam al-Bukhari ketika menta’wil ayat:
_H___ – _(____
_ ____ _(_- _ D _ _ _R__ N7____B _ _ ._A J"__ .
Secara tidak langsung, seolah-olah al-Albani mengatakan bahwa ta’wilan al-mImam al-Bukhari tersebut pendapat orang kafir. Kemudian saya mengambil photo copy buku fatwa al-Albani dan saya serahkan kepada anak muda Salafi ini. Ia pun diam seribu bahasa. Demikian kisah yang dituturkan oleh Syafi’i Umar Lubis dari Medan, seorang ulama muda yang kharismatik dan bersemangat dalam membela Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

Sanggahan dari kami (Al Amiry):

Namun anda selalu cok gali cok.. Gali gali yang penting cocok.. COPAS lagi.. Mau disama-samain.. Berusaha mencari celah walaupun akhirnya tidak bisa.

Untuk mencocok kan imam bukhari mentakwil hanya lah pekerjaan ASWAJA dengan menggali gali. Yang penting cocok.

Saya akan bantah perktaan anda:

1- Apakah imam bukhari benar benar mentakwil? mari kita lihat perkataan beliau:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ} [القصص: 88]: " إِلَّا مُلْكَهُ، وَيُقَالُ: إِلَّا مَا أُرِيدَ بِهِ وَجْهُ اللَّه

"segala sesuatu akan binasa kecuali wajah Allah" QS Al Qasa:88). Maksudnya: kecuali kekuasaan Allah, dan dikatakan pula: kecuali amalan yang diinginkan dengan nya wajah Allah"[1]

Jadi ana harapkan untuk kiyai atau ustadz anda, janga suka memotong motong dan memenggal menggal perkataan. Sempurnakan donk. Kita harus menjaga amanah ilmiyyah.

Jadi disini ada 2 tafsiran yang diebutkan oleh Imam Bukhari:
1- Maksud dari wajah Allah: kekuasaan Nya
2- Maksud dari wjah Allah: Amalan yang dilakukan karena ikhlas mengharapkan wajahNya.

Lantas apakah imam bukhari memilih takwil?? Sehingga memilih pendapat pertama? Atau beliau memilih tafsir sehingga memilih pendapat yang kedua??

Dan tenyata beliau mentafsir dan bukan lah mentakwil. Sehingga beliau memilih pendapat maksud dari segala sesuatu akan binasa kecuali wjah Allah. yaitu: kecuali amalan yang dilakukan untuk wajah Allah.

Sehingga beliau tidak mentakwil. Dan beliau tetap dan selalu menetapkan sifat wajah Allah dengan hakikatnya dan tidak mentakwilnya.

Lihatlah apa yang dikatakan ibnu katsi rahimahullah:

وقال مجاهد والثوري في قوله: { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ } أي: إلا ما أريد به وجهه، وحكاه البخاري في صحيحه كالمقرر له.

"Dan mujahid begitupula tsauri berkata dalam menafsirkan firman ALlah (segala sesuatu akan binasa kecuali wajah Allah) maksdunya adalah: kecuali amalan yang dilakukan hanya untuk wajahNya. Dan beginilah yang disebutkan IMAM BUKHARI SEBAGAI PENDAPATNYA"[2]

Jadi imam bukhari tetaplah menetapkan wajah Allah sebagaimana hakikatnya tidak mentakwilnya kepada kekuasaanya.

Jadi ana sarankan kepada kiyai ASWAJA.. Jangan suka menggal menggal dalam menjelaskan ke ummat untuk membodohi ummat. Ingatlah amanah ilmiyyah.. Dalam menyampaikan perlu amanah. Dan jangan khianat. Allahu a'lam.

2- Kemudian dalam masalah hal ini, imam bukhari hanya menyebutkan beberapa perkataan atau penjelasan ulama dalam ayat ini. Bukan berarti itu adalah pendapat beliau. Maka dari itu Ibnu Hajar Al Asqalani berkata:

قوله: "إلا وجهه: إلا ملكه" في رواية النسفي "وقال معمر" : فذكره. ومعمر هذا هو أبو عبيدة بن المثنى، وهذا كلامه في كتابه "مجاز القرآن" لكن بلفظ: "إلا هو" وكذا نقله الطبري عن بعض أهل العربية، وكذا ذكره الفراء. وقال ابن التين قال أبو عبيدة: إلا وجهه أي جلاله، وقيل: إلا إياه، تقول: أكرم الله وجهك أي أكرمك الله.

“ Ucapan al-Bukhari {kecuali WajahNya : kecuali Kekuasaan/milikNya} ada pada riwayat anNasafiy dengan menyatakan : ‘Ma’mar berkata….’kemudian disebutkan ucapan tersebut. Ma’mar ini adalah Abu Ubaidah bin alMutsanna. Ucapan tersebut terdapat dalam kitabnya “Majaazul Qur’aan”, akan tetapi dengan lafadz ‘kecuali Dia’. Demikian juga dinukil oleh atThobary dari sebagian ahli bahasa Arab, dan disebutkan juga oleh al-Farra’”[3]

3- Kemudian ketahuilah wahai saudaraku. Bahwasanya Ulama menafsirkan sifat Allah dalam ayat dengan konsekwensinya. Sehingga ta’wil diatas diambil dari iltizam ayat tersebut (konsekwensinya) Dan ulama menafsirkan sifat Allah terkadang dengan mutabaqah, at tadhammun, dan al iltizam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:

القاعدة الرابعة: دلالة أسماء الله تعالى على ذاته وصفاته تكون بالمطابقة، وبالتضمن، وبالالتزام.
مثال ذلك: "الخالق" يدل على ذات الله، وعلى صفة الخلق بالمطابقة، ويدل على الذات وحدها وعلى صفة الخلق وحدها بالتضمن، ويدل على صفتي العلم والقدرة بالالتزام.

“ Kaidah yang keempat: Penunjukkan nama nama Allah kepada dzat dan sifat Nya adalah dengan cara muthabaqah (kesesuaian), tadlommun (keterkandungan), dan iltizam (konsekwensi).
Contohnya Al Khaliq yang artinya Maha pencipta, secara muthabaqah ia menunjukkan kepada dzat Allah dan sifatnya yaitu menciptakan, secara tadlammun ia menunjukkan kepada dzat Allah saja dan kepada sifat menciptakan saja, dan secara iltizam maka ia menunjukkan kepada sifat ilmu dan kekuasaan” [4]

Masalah Syaikh Al Albany

Kemudian perkataan syaikh Al Albany: “Pendapat al-Bukhari yang melakukan ta’wil terhadap ayat di atas ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang Muslim yang beriman Secara tidak langsung, seolah-olah al-Albani mengatakan bahwa ta’wilan al-Imam al-Bukhari tersebut pendapat orang kafir.”

Sanggahan:

1- Seharusnya anda melihat kepada perkataan Syaikh Al Albany dan tidak dipenggal penggal. Syaikh Al Albany mengatakan:

! هذا لا يقوله مسلم مؤمن، وقلت أيضاً: إن كان هذا موجوداً فقد يكون في بعض النسخ، فإذاً الجواب تقدم سلفاً، وأنت جزاك الله خيراً الآن بهذا الكلام الذي ذكرته تؤكد أنه ليس في البخاري مثل هذا التأويل الذي هو عين التعطيل

"Ini tidaklah dikatakan oleh seorang muslim yang beriman,, dan saya katakan juga: seandainya perkaan ini ada maka terkadang didapatkan di sebagian naskh, Maka jawabannya sebagaimana yang telah lalu, Dan semoga Allah membalas kepada mu dengan kebaikan. Sekarang.. Dengan perkataan yang saya sebutkan, MENGUATKAN BAHWASANYA TIDAK ADA PADA DIRI IMAM BUKHARI SEPERTI TAKWIL INI, YANG MANA TAKWIL TERSEBUT ADALAH TAKWIL MURNI"
2- Sehingga "Syaikh Al Albani tidak bermaksud sebagaimana yang anda maksud"

Maka dari itu tatkala syaikh Al Bani ditanya tentang hal ini, beliau meragukan ini adalah tafsiran Imam Bukhari, dan tidak mungkin Imam bukhari menyatakan demikian.

Lihatlah perkataan syaikh Al Albany:

ننزه الإمام البخاري عن أن يؤول هذه الآية وهو إمام في الحديث وفي الصفات، وهو سلفي العقيدة والحمد لله

"Kami membersihkan imam bukhari dari tuduhan bahwasanya beliau mentakwil ayat ini, dan dia adalah imam dalam perkara hadits. Dan begitu pulasa sifat-sifat (ALLAH). Dan akidah beliau adalah salafy wal hamdulillah"

Sehingga tuduhan anda kepada syaikh AL Albany sangatlah dipertanggung jawabkan.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] Al Jami' Ash Shohih Juz 6 hal. 112
[2] Tafsir Ibni katsir 6 / 262 dar athtoyyibah.
[3] Lihat Fathul Baari syarh Shahih alBukhari juz 8 halaman 505 Darul Fikr
[4] Al Qawaid Al Mutsla hal 11

Poskan Komentar

 
Top