0


Seseorang yang menggeluti hukum-hukum syariat dari amalan-amalan ibadah biasa digelari dengan seorang faqih. Dan seseorang yang menggeluti pengumpulan jalan-jalan hadits dan fokus dengan sanad hadits untuk memisahkan keshahihan suatu hadits dari yang dhaif lebih biasa disebut dengan seorang muhaddits.

Siapakah yang lebih uatama dari dua kelompok ini ? Dan Ilmu manakah yang lebih utama dari keduanya ? Ilmu fikih ataukah ilmu hadits?  Dan kalau kuliah lebih baik masuk ke fakultas syariah ataukah fakultas hadits ?

Dan ternyata ulama zaman dahulu sudah memberikan solusinya. Bagaimana sikap kita dari kedua ilmu ini. Solusi yang sangat indah dan mencerahkan. Mari kita simak perkataan mereka:


Al Khattabi mengatakan:
ورأيت أهل العلم في زماننا قد حصلوا حزبين وانقسموا إلى فرقتين أصحاب حديث وأثر ، وأهل فقه ونظر ، وكل واحدة منهما لا تتميز عن أختها في الحاجة ولا تستغني عنها في درك ما تنحوه من البغية والإرادة ، لأن الحديث بمنزلة الأساس الذي هو الأصل ، والفقه بمنزلة البناء الذي هو له كالفرع ، وكل بناء لم يوضع على قاعدة وأساس فهو منهار ، وكل أساس خلا عن بناء وعمارة فهو قفر وخراب.
“Dan aku telah melihat Ahli ilmu pada zaman ini menjadi 2 kelompok, mereka terbagi menjadi 2 kelompok: ( Yang pertama) Ahli hadits dan atsar, (yang kedua) Ahli fiqih dan nadzhar. Dan setiap dari kelompok tidak akan mungkin bisa terpisah dari kawannya dalam kebutuhannya. Dan tidak akan cukup tanpa ada kawannya dalam rangka mengejar yang mereka tuju dan apa yang diinginkan. Karena hadits kedudukannya adalah kedudukan pondasi yang mana dia adalah ushul.  Dan fiqih kedudukannya adalah kedudukan bangunan yang dia seperti cabang dari ushul. Dan setiap bangunan tidak diletakkan diatas kaidah dan pondasi maka akan runtuh. Dan setiap pondasi yang tidak memiliki bangunan maka dia usang dan rusak”[1]

Ibnul Jauzi mengatakan:
و أقبح بمحدث يسأل عن حادثة فلا يدري ، و قد شغله منها جمع طرق الأحاديث .
و قبيح بالفقيه أن يقال له : ما معنى قول رسول الله صلى الله عليه و سلم كذا ، فلا يدري صحة الحديث و لا معناه . نسأل الله عز وجل همة عالية لا ترضى بالنقائض بمنه و لطفه .

“Dan hinalah seorang muhaddits (Ahli Hadits)  tidak mengetahui (jawaban dan solusi) ketika ditanya tentang suatu keadaan. Dikarenakan dia tersibuki oleh mengumpulkan jalan-jalan hadits. Dan hinalah seorang faqih (Ahli Fiqih) tatkala ditanyakan kepadanya: “Apa makna dari sabda rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang ini?” Akan tetapi dia tidak mengetahui keshahihan hadits tersebut dan maknanya. Kita meminta kepada  Allah Azza Wa Jalla dengan nikmatNya dan kelembutanNya agar Ia memberikan kepada kita keinginan yang tinggi yang tidak diinginkan darinya banyak kekurangan”[2]

Dan Ibnul Madini mengatakan:
التفقه في معاني الحديث نصف العلم, و معرفة الرحال نصف العلم
“Tafaqquh (memahami) makna hadits adalah setengah ilmu (Ilmu Fiqih), dan mengetahui para rawi hadits adalah setengah ilmu (Ilmu Hadits)”[3]

Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan bahwasanya antara kedua ilmu ini tidak akan mungkin terpisahkan. Seorang muhaddits adalah seorang tercela kecuali ia juga menggeluti ilmu fikih. Dan seorang fakih adalah seorang yang tercela kecuali dia mengikuti ilmu hadits dan juga ikut mentela’ah sanad hadits.

Jadi mau tidak mau seorang penuntut ilmu harus mendalami kedua ilmu tersebut dan tidak akan mungkin seseorang akan terpisah dari kedua ilmu tersebut.  Jikalau seseorang masuk fakultas  syari’ah maka dia harus mencari tau tentang  ilmu hadits dan musthalah nya di lain waktu. Kalau fakultas kuliah dia adalah hadits maka hendaklah dia mencari tau tentang ilmu fikih dan ushulnya. Begitulah kesempurnaan ilmu yang saling melengkapi.

Semoga yang sedikit ini dapat mencerahkan.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry


[1] Ma’alim As sunan (1/3)
[2] Shaidul Khatir Hal. (1/340)
[3] Al Jami’ Li Akhlaqi Ar Rawi (2/211)

Poskan Komentar

 
Top