0

Siapa yang tidak marah jika ibundanya dicela, dihina, dimaki selama berabad-abad lamanya ??

Ana rasa tidak ada yang rela jika ibundanya dicela, maka begitupula halnya dengan ana.. Dan siapa yang rela jika ibundanya dituduh telah berzina dengan tanpa adanya bukti hanya bicara dengan perkataan busuk ??

Maka maklumilah ana jika akan mencela para syiah dengan kata-kata "bahlul" dan "keji". Karena pada hakikatnya merekalah manusia paling dungu dimuka bumi ini.

Siapa yang rela jika ibunda kita "Aisyah radhiyallhu anha" dijuluki pelacur ?? Dengan menari-nari mereka melaknat Aisyah ?? Dengan berjoged-joged dalam suatu acara mereka mencela Aisyah..

Maka laknat Allah atas yang mencela ibunda kaum mukminin "Aisyah radhiyallahu anha"

Bagaimana mungkin Aisyah berzina sedangkan Allah telah membebaskannya dan mensucikannya dari perbuatan zina ?? Allah berfirman:

أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ

“Dan mereka yang tertuduh (melakukan zina) bersih terbebaskan dari apa yang mereka (orang-orang munafik) tuduhkan” QS An Nur: 26

Ayat ini sudah sangat jelas turun untuk membebaskan Aisyah dari tuduhan-tuduhan. Tapi yang sangat bodoh ternyata ada imam syiah yang begitu dungu mengatakan:

"Itu adalah penyucian bagi nabi-Nya dari perbuatan zina, bukan untuknya ('Aisyah) sebagaimana yang disepakati oleh mufassirin." Perkataan ini dikatakan oleh Ali al-'Amili al-Bayadhi -salah satu ulama syiah- dalam al-Shirath al-Mustaqim Ila Mustahiqqii al-Taqdiim, 2/165

Maka pernyataan yang dungu ini sangat gila, dan orang yang menjadikan orang bahlul ini menjadi seorang Imam maka dia tidak jauh dengan kebahlulan sang bahlul ini.

Sebenarnya banyak ulama besar syiah yang mu'tabar menyatakan bahwasanya ayat ini turun untuk membebaskan Aisyah dari tuduhan zina. Diantara ulama syiah yang menyatakannya kebebasan aisyah dari zina adalah At Thobrosi, Al Majlisi, Ath Thobtho'i, Al Kasyani, Ath Thusi, dll.

Tapi ana rasa, sebaiknya Syiah mencari pernyataan imam mereka sendiri. Tidak perlu disuapin tiap hari dan setiap waktu. Dan tidak perlu dibimbing untuk mempelajari kitab mereka sendiri akan tetapi mereka selalu dungu. Apa mungkin sunni lebih mengetahui akan kitab ulamanya dari pada syiah itu sendiri ?? Silahkan syiah belajar sendiri.

Thoyyib, maka kami sanggah pernyataan sang bahlul ini dari dua sanggahan:

Sanggahan pertama:

Seandainya kita “iya” kan pernyataan mereka dengan mengatakan “Ayat diatas adalah penyucian bagi nabi-Nya dari perbuatan zina, bukan untuknya ('Aisyah)” Maka bagaimana dengan ayat Allah dibawah ini? Allah berfirman:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji untuk lelaki yang keji dan lelaki yang keji untuk wanita yang keji pula. Dan wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula” QS An Nur :26

Dalam ayat diatas, Allah mengisyaratkan “Wanita keji untuk lelaki yang keji” "wanita pezina untuk lelaki pezina". Apakah anda berpikir wahai Imam Bahlul !! bahwasanya konsekuensi dari perkataan anda, anda akan mengatakan “Rasulullah adalah lelaki yang keji dan pezina sesuai ayat diatas ??Bukankah nabi adalah suami Aisyah ??"

Allah telah mengancam Imam bahlul ini dengan pernyataannya “Aisyah telah berzina”. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ * يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ *

“Sesungguhnya orang orang yang menuduh wanita-wanita suci yang taat dari kaum mu’minat (dengan tuduhan berzina) maka dia dilaknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka lah adzab yang begitu pedih. Pada suatu hari yang mana lisan-lisan mereka dan tangan tangan mereka dan kaki kaki mereka bersaksi dengan apa yang telah mereka perbuat” QS An Nur: 23-24

Dan ini lah ancaman Allah yang paling keras yang terdapat dalam Al Quran. Sebagaimana yang dikatakan oleh banyak penafsir Al quran. Salah satunya adalah Az zamakhsyari, beliau berkata:

من تصفح القرآن وتتبعه لم يجد فيه آية فيها تهديد مثل هذا التهديد ولا تخويف مثل هذا التخويف وذلك دليل على رفعة قدر عائشة رضي الله عنها عند الله تعالى وتعظيم شأنها وتعظيمها تعظيم للنبي - صلى الله عليه وسلم -.

“Barang siapa yang membuka buka lembaran Al Quran dan mengikuti ayat ayatnya satu persatu, maka dia tidak akan mendapatkan sebuah ancaman seperti kerasnya ancaman ini. Dan tidak akan mendapatkan mewanti wanti seperti kerasnya wanti wanti ini. Dan itulah dalil tingginya kehormatan Aisyah radhiyallahu anha disisi Allah dan agungnya keadaan beliau. Dan mengagungkan Aisyah adalah pengagungan terhadap Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam”

Sanggahan kedua:

Imam Bahlul ini mengatakan “Itu adalah penyucian bagi nabi-Nya dari perbuatan zina, bukan untuknya ('Aisyah) sebagaimana yang disepakati oleh mufassirin” Apa benar ini disepakati oleh mufassir (Ahli tafsir) ataukah Imam bahlul ini yang hanya mengada ngada dan berdutsa?? Atau kah dia adalah seorang bahlul sejati yang sok tahu hanya ngomong dari kantong bajunya??

Kita lihat perkataan Ahli tafsir dalam menafsirkan ayat ini.

1- Azzamakhsyari mengatakan:

من تصفح القرآن وتتبعه لم يجد فيه آية فيها تهديد مثل هذا التهديد ولا تخويف مثل هذا التخويف وذلك دليل على رفعة قدر عائشة رضي الله عنها عند الله تعالى وتعظيم شأنها وتعظيمها تعظيم للنبي - صلى الله عليه وسلم -.

“Barang siapa yang membuka buka lembaran Al Quran dan mengikuti ayat ayatnya satu persatu, maka dia tidak akan mendapatkan sebuah ancaman seperti kerasnya ancaman ini. Dan tidak akan mendapatkan mewanti wanti seperti kerasnya wanti wanti ini. Dan itulah dalil tingginya kehormatan Aisyah radhiyallahu anha disisi Allah dan agungnya keadaan beliau. Dan mengagungkan Aisyah adalah pengagungan terhadap Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam”

Inikah yang namanya “disepakati oleh mufassirin (ahli Tafsir) dalam menuduh Aisyah?”

2- Ibnu katsir menyebutkan dalam kitabnya perkataan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dalam menafsirkan ayat ini. Beliau berkata:

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَائِشَةَ زَوْجَةً لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا وَهِيَ طَيِّبَةٌ لِأَنَّهُ أَطْيَبُ مِنْ كُلِّ طَيِّبٍ مِنَ الْبَشَرِ، وَلَوْ كَانَتْ خَبِيثَةً لَمَا صَلَحَتْ لَهُ لا شرعا ولا قدرا، ولهذا قال تعالى أُولئِكَ مُبَرَّؤُنَ مما يقولون

“Tidaklah Allah menjadikan Aisyah seorang istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kecuali Aisyah adalah seorang wanita yang baik karena Rasulullah adalah seorang yang paling baik, dari orang-orang baik dari seluruh manusia. Dan seandainya Aisyah adalah orang yang keji tidak akan mungkin Aisyah bersama rasul baik secara syar’i maupun kehormatan. Maka dari itu Allah berfirman (dalam membebaskan Aisyah dari tuduhan): “Dan merekalah orang yang terbebaskan dari apa yang mereka tuduhkan” Tafsir Ibnu Katsir (6/32)

Inikah yang namanya “kesepakatan ahli tafsir dalam menuduh Aisyah”?

3- Syaikh Abdurrahman As sa’di mengatakan dalam menafsirkan ayat ini:

{أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ} والإشارة إلى عائشة رضي الله عنها أصلا وللمؤمنات المحصنات الغافلات تبعا

“Allah berfirman: “Dan merekalah orang yang terbebaskan dari apa yang mereka tuduhkan” ayat ini mengisyaratkan kepada Aisyah pada asalnya kemudian kepada kaum mu’minat yang menjaga dirinya dan taat” Tafsir As Sa’di hal. 563

Inikah yang namanya kesepakatan Ahli Tafsir untuk menuduh Aisyah berzina??

4- Imam Al Qurtubi mengatakan dalam menafsirkan ayat ini:
" أُولئِكَ مُبَرَّؤُنَ مِمَّا يَقُولُونَ" أَيْ عَائِشَةُ وَصَفْوَانُ مِمَّا يَقُولُ الْخَبِيثُونَ وَالْخَبِيثَاتُ
“Allah berfirman: (Dan mereka bersih terbebaskan dari apa yang mereka tuduhkan) Maksudnya adalah: Aisyah dan Shafwan bersih terbebaskan dari apa yang di katakan oleh orang orang yang keji baik laki-laki maupun wanita” Tafsir Al Qurtubi (12/211)

Inikah yang namanya kesepakatan para ahli tafsir dalam menuduh Aisyah??

5- Imam Ath thobari membawakan perkataannya Ibnu zaid dalam menafsirkan ayat ini:

نَزَلَتْ فِي عَائِشَةَ حِينَ رَمَاهَا الْمُنَافِقُ بِالْبُهْتَانِ وَالْفِرْيَةِ، فَبَرَّأَهَا اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ. وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبَيٍّ هُوَ خَبِيثٌ، وَكَانَ هُوَ أَوْلَى بِأَنْ تَكُونَ لَهُ الْخَبِيثَةُ وَيَكُونَ لَهَا. وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَيِّبًا، وَكَانَ أَوْلَى أَنْ تَكُونَ لَهُ الطَّيِّبَةُ. وَكَانَتْ عَائِشَةُ الطَّيِّبَةَ، وَكَانَ أَوْلَى أَنْ يَكُونَ لَهَا الطَّيِّبُ.

“Ayat ini turun dalam perkara Aisyah ketika orang-orang munafik menuduhnya dengan kedustaan dan kebohongan. Maka Allah membebaskan Aisyah dari tuduhan mereka. Dan Abdullah bin Ubay adalah orang yang keji, dan wanita keji lebih pantas untuknya dan dia untuk wanita keji tersebut. Dan Rasulullah adalah orang yang baik dan sangat pantas jika rasulullah mendapatkan wanita yang baik pulan. Dan Aisyah adalah orang yang baik, maka sangat pantas jika orang yang baik (Rasulullah) diberikan untuknya”

{أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ} قَالَ: هَاهُنَا بُرِّئَتْ عَائِشَةُ.

(Dan mereka bersih terbebaskan dari apa yang di tuduhkan oleh mereka)

Ibnu zaid berkata: dalam ayat ini Aisyah bersih terbebaskan (dari tuduhan)” Tafsir Ath thobari (17/237)

Inikah yang namanya kesepakatan Ahli tafsir dalam menuduh Aisyah?

Yang ada dalam benak saya, hanya imam bahlul ini lah yang berdusta kepada ummat untuk menipu kaum muslimin. Bahkan tafsiran dia lah yang menyelisihi tafsirnya Mufassirin.

Tunggu edisi yang lain dari “Mempreteli Lidah Syi’ah” di artikel kami pada waktu mendatang.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

Poskan Komentar

 
Top